artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Diskusi Misykati, Bahas Seputar Pergumulan Otoritas Hadits

(Misykati-Online)
MISYKATI, begitulah nama dari salah satu organisasi almamater yang ada dilingkungan Masisir (Mahasiswa Indonesia Mesir), dengan kepanjangan “Majelis Intensif Studi Yurisprudensi dan Kajian Pengetahuan Islam”. Misykati merupakan organisasi almamater para alumni MAPK/MAKN Surakarta di Mesir. Di antara beberapa programnya adalah Tashwibat Lughowiyah, Tadabbur al-Qur’an, Tadzkirah, Tahfidz al-Qur’an yang merupakan kegiatan rutin mingguan, juga Diskusi dan kajian serta bedah buku yang dilaksanakan secara berkala satu bulan sekali, atau secara masif dan kondisional. Maka tak ayal jika pada Kamis, 23 November yang lalu, Misykati yang digawangi oleh dept. Pendidikan menyelenggarakan Diskusi Tematik yang bertempat di sekretariatnya, Mutsallas Nasr City, Cairo.

Diskusi kali ini membahas sebuah tema yang cukup menarik dan aktual seputar pergumulan otoritas Hadits dengan presentator Sdr. Nanang Muhsin Sabara. Walalupun hanya diikuti oleh sekitar 15 orang dari anggota yang hadir dengan diselimuti udara dingin yang semakin menusuk tulang, namun acara ini tetap bisa berjalan dinamis dan hangat. Usai merampungkan pemaparan yang cukup luas oleh presentator, agenda beranjak pada tanggapan dan pertanyaan dari para peserta seputar tema yang dikaji. Cukup berat memang tema kali ini, karenanya, walaupun presentator telah membatasi makalahnya untuk mengkaji perkembangan hadits paska Abduh, namun ruang lingkup kajian ini tentu tidak akan terlepas dari tinjauan historis yang tentu saja dimulai dari zaman Nabi.

Tidak hanya dari kalangan orientalis, bahkan dari kalangan pemikir muslim sendiri telah banyak yang mulai meragukan eksistensi dan orisinalitas hadits (as-Sunnah Nabawiyah). Maka tentu saja ini merupakan sebuah tantangan atau bahkan gugatan keras bagi kaum muslimin yang sejauh ini nampaknya masih suka terlelap dengan kejayaannya di masa lampau, sehingga membuatnya lengah akan serangan dan hantaman dari luar bahkan dari dalam sendiri. Sangat relevan memang jika kajian kali ini membahas seputar pergumulan otorotas Hadits, masih kokohkah rancang bangun Hadits serta ulum al-Hadits saat ini? Masih kuat dan pantaskah Hadits sebagai sumber hukum ke-dua dalam islam? Sejauh manakah keotentikan hadits itu bisa dibuktikan? Lalu menggunakan pisau bedah apa kita bisa mengkajinya?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menghiasi diskusi kali ini. Maka dalam makalah yang telah racik oleh Nanang Musha ini sedikit banyak mengupas masalah tersebut dimulai dari konsepsi klasik seputar Sunnah, lalu otentitas Hadits dan kritik orientalis, kemudian melaju pada kritisisme Hadits di Mesir, dan diakhiri dengan mengukur efektifitas kritik isnad, sebuah gambaran singkat tentang peran serta kritik isnad dalam mengupas orosinalitas Hadits.

Semakin malam diskusi semakin asyik dengan berbagai tanggapan dan tambahan dari peserta. Dimulai dari Alek, Sulthon, Luthfi, Fuad dsb pembahasan malam hari itu semakin lengkap dan hidup. Memang perbincangan seputar kajian Hadits tidak akan cukup dibahas dalam durasi waktu sekitar 2 jam. Namum setidaknya hal ini bisa dijadikan sebagai nuqthah inthilaq (titik tolak) untuk lebih mengkaji dan mendalami lagi ilmu-ilmu dan khazanah keislaman, terkhusus seputar diskursus ilmu Hadits.

Selama dunia masih ada maka khazanah serta kajian-kajian keislaman itu akan tetap ada, baik yang destruktif atau konstruktif. Selama islam masih ada, tentu saja musuh-musuhnya juga akan tetap ada. Dan selama nyawa masih di dada maka belajar pun tetap menjadi keniscayaan sebagai usaha meningkatkan kualitas diri dan optimalisasi potensi yang berasal dari karunia Tuhan. Kali ini tema kita adalah seputar Hadits, sementara di sana masih terdapat berjuta tema yang menunggu kita untuk hendak dikaji dan dibedah. Tulisan ini hanya sekedar simulasi dan pancingan bagi kita semua, semoga kita bisa lebih tekun lagi dalam belajar dan studi secara intensif dan ekstensif mengenai disiplin-disiplin pengetahuan islam. Wallahu a’lam bi as-Showab. Bravo Misykati, dan selamat belajar untuk semua Misykaterian!!.

[M. Luthfi al-Anshori, santri Afkar for Aufklarung dan Misykati Center]

No comments:

Post a Comment