artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Malam Yang Indah Bersama Misykati, Menelusuri Ruang Nurani dan Tamasya Hati

(Misykati-Online)

Malam itu adalah malam Jum’at. Yang kata para ulama’ sufi merupakan malam yang cukup keramat. Bahkan banyak juga yang menyebutnya sayyidu al-ayyam. Pasalnya hari jum’at ini mempunyai catatan histori tersendiri yang cukup unik dan berharga. Hal ini tentu saja bukan tanpa alasan, namun jika kita menela’ah berbagai macam kitab hadits, tentu kita akan banyak menemukan riwayat-riwayat yang membicarakan seputar keutamaan hari Jum’at. Diantaranya adalah hadits yang menjelaskan tentang adanya waktu-waktu tertentu pada hari Jum’at yang mustajabah (hadits riwayat Abu Hurairah, Muttafaq alaih). Di samping itu ada juga yang menjelaskan bahwa hari Jum’at adalah hari dimana dosa-dosa dihapuskan. Salman Al Farisi RA berkata : Rasulullah SAW bersabda:

"Siapa yang mandi pada hari Jum'at, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi diantara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum'at". (HR. Bukhari).

Demikian diantara hikmah-hikmah yang dapat kita temukan pada hari Jum’at. Dan tentunya masih banyak lagi dalil-dalil dan qaul ulama’ yang berbicara seputar keutamaan hari Jum’at.

Malam itu cukup sepi. Kairo yang saat itu sedang diselimuti dingin menyampaikan sunyi melalui desir angin malam yang cukup menusuk hingga tulang sum-sum. Sekelompok anak manusia yang terkumpul dalam madrasah kecil, kotor dan tak tersapu menjalankan aktifitas rutin mingguannya. Ya. Di Misykatilah mereka berkumpul, Kamis (30/11) kemarin. Kali ini agenda yang akan dilaksanakan adalah Tahfidz al-Qur’an, Tadzkirah dan Tadabbur. Acara ini terkonsep sebagai kegiatan mingguan, yang memberikan peluang kepada anggota untuk sama-sama berfikir, meresapi dan merenungi, sekaligus tawashou bi al-haqqi wa tawashou bi as-shobri.

Jika manusia terdiri dari tiga unsur penting yang menjadikannya sempurna; akal, ruh dan jasad, maka acara ini adalah sebagai vitamin bagi ruh (the vitamin of soul) dan akal secara bersamaan. Acara ini dikemas dengan perpaduan yang cukup sempurna; mulai dari Tahfidz al-Qur’an (yang dilakukan secara berpasang-pasangan sesuai juz masing-masing kelas), Tadzkirah (taushiyah dan saling mengingatkan), dan disusul dengan Tadabbur al-Qur’an (sesuai surat yang telah ditentukan).

Tadzkirah

Untuk malam Jum’at ini, yang bertugas menyampaikan Tadzkirah adalah M. Luthfi al-Anshori, dengan mengangkat sebuah tema seputar “Kematian Nurani dan Cara Menghidupkannya Kembali”. Membahas ‘nurani’, tentu saja tidak akan terlepas dari apa yang namanya hati. Dalam bahasa Arab, nurani berasal dari kata “nur” yang berarti cahaya. Kemudian berubah menjadi “nuraniyyah” yang berarti “ bersifat cayaha”. Maka tak ayal jika Ibnu Qayyim al-Jauzy, seorang ulama’ sufi klasik mengatakan; bahwa bashirah atau nurani adalah cahaya yang ditempatkan oleh Allah di dalam hati setiap manusia; nurun yaqdzifuhullahu fi al-qalbi.

Menurut al-Qur’an; manusia dianugrahi akal untuk dapat berfikir dan memecahkan masalah, juga di anugrahi hati untuk memahami realitas (QS/22:46), dianugrahi syahwat untuk menggerakkan tingkah laku (QS/3:14), dan dianugrahi nurani untuk meluruskan yang bengkok, mmembersihkan yang kotor dan mengintrospeksi apa-apa yang ada di dalam jiwanya (QS/75:14-15). Demikianlah cuplikan dari apa yang disampaikan oleh pembicara.

Ihsan Maulana yang saat itu bertugas sebagai MC sekaligus moderator pun tidak kalah lihai dari sang pembicara. Ia mampu membawa suasa menjadi semakin hidup dan dengan cerdas menyimpulkan poin-poin penting yang telah disampaikan. Dengan membuka sesi tanggapan dan tambahan, ia memberikan kesempatan kepada para hadirin untuk berkomentar dan memberikan pandangannya tentang pembahasan malam hari itu.

Walaupun dengan persiapan yang relatif singkat dan penjelasan yang sederhana, nampaknya tema yang diangkat cukup menarik dan mampu memberikan stimulus sekaligus pancingan kepada para hadirin untuk turut berkomentar sesuai pengalaman spiritual, hasil baca, hingga pada pengalaman medis masing-masing hadirin. Dimulai dari Ahmad Sulthoni ia menyampaikan; bahwa setiap manusia (hati,red), masing-masing mempunyai potensi untuk menjadi baik atau buruk, ta’at atau ingkar. Maka orang-orang yang beruntung adalah yang mau membersihkan hatinya. Hati adalah segumpal daging yang ada dalam organ tubuh manusia, yang ketika hati itu baik, maka seluruh organ pun akan baik, begitu pula sebaliknya.

Dari Zainal Arifin ia menanyakan; dimanakah sebenarnya letak hati itu berada? Apakah hati yang dimaksud di sini adalah hati yang ada di dada, yang ketika seseorang menyatakan sakit hati lalu memegangi dadanya? Ataukah hati ini mungkin juga terletak di kepala?

Pertanyaan ini tentu saja tidak hanya ditujukan kepada pembicara, namun diharapkan kepada seluruh hadirin untuk dapat berkomentar. Dari beberapa responden; diantaranya Ust. Kholil Misbah, Lc, beliau menjelaskan bahwa letak sesungguhnya hati pada dasarnya masih menjadi perdebatan antar para ulama’. Hal ini antara lain disebabkan adanya berbagai versi ayat yang menggunakan ungkapan berbeda-beda dalam memberikan qarinah terhadap kalimat al-qalb atau Qulub. Dalam sebagian ayat kita mendapati al-Qur’an menggunakan ungkapan; lahum qulubun la yafqahuna biha (QS. Al-A’raf:179), dan pada sebagian yang lain kita temukan; fatakuna lahum qulubun ya’qiluna biha (QS. Al-Haj:46).

Dari kedeua ayat tersebut kita sedikit menemukan keunikan; bahwa fungsi kerja hati bukan hanya untuk yafqah (memahami dan mengetahui hal-hal secara mendalam) yang notabene adalah kerja organ hati yang berada di dada, namun juga ya’qil (berfikir, secara rasional) yang biasanya dikerjakan oleh otak yang terletak di kepala. Maka dari sinilah perbedaan pendapat itu mulai muncul, apakah hati ini letaknya di dada, atau di kepala?? Silahkan menela’ah ulang seputar kajian ini di berbagai kitab tafsir dan ilmu nasf atau bahkan kajian sufisme…!?

M. Ari Wibowo, yang saat ini duduk sebagai ketua Misykati pun tak tinggal diam melihat perbincangan yang semakin menarik. Berdasarkan pengalaman pribadinya (secara medis & psikologis), ia turut berkomentar panjang lebar tentang perdebatan dimanakah letak hati. Sebagai pelaku sejarah nampaknya ia cukup cakap dan logis dalam memberikan pandangannya. Ia mengungkapkan; “hati (yang terletak di dada namun entah di sebelah mana?) secara medis berfungsi menyaring sekaligus menetralisir setiap racun yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan-makanan yang dikonsumsi manusia”.

“Seseorang yang terserang liver, bisa jadi disebabkan oleh beberapa hal. Antara lain adalah akibat terlalu capai dan terforsir oleh berbagai aktifitas yang melelahkan, sehingga sistem kerja hati (liver) dalam menetralisir racun tidak maksimal. Sebab lain bisa jadi seseorang mempunya beban fikiran yang banyak dan tekanan bathin yang mendalam, sehingga secara psikologi atau ma’nawi hatinya juga akan lemah. Ketika kinerja hati sudah berkurang dan melemah, sementara racun-racun yang dibawa serta makanan terus masuk, hasilnya ia akan kalah dan terserang. Antara keduanya (medis & Psikologi), mempunyai hubungan yang cukup erat. Maka sebisa mungkin setiap orang untuk dapat menghindarkan diri dari ‘penyakit-penyakit’ hati tersebut.

Tadabbur

Edisi tadabbur malam hati itu mengkaji kandungan isi surat an-Naba’. Yang bertugas menyampaikan tadabbur kali ini adalah M. Wackid Ramadhon, Lc, mantan ketua Misykati tahun lalu. Malam semakin syahdu. Dinaungi langit yang cerah dengan cahaya rembulan yang semakin benderang, ruangan sederhana itu juga seakan memancarkan cahaya yang mepesona.

Sebelum memasuki baris demi baris, ayat demi ayat yang terkandung dalam surat an-Naba’, ustadz Wachid sedikit menjelaskan gambaran singkat tentang karakteristik umum dari juz 30. walaupun sebagian besar adalah surat-surat pendek, namun di dalamnya mengandung hikmah dan pelajaran yang sangat banyak. Diantaranya surat-surat juz 30 ini laksana ketukan-ketukan yang beruntun terhadap hati orang-orang mukmin maupun kafir dan musyrik. Sehingga dengan ketukan-ketukan yang keras-beruntun itu manusia sekalian bisa kembali kepada penghambaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Baru setelah itu beliau mulai mengajak hadirin semuanya untuk menyelami lebih dalam makna dan pesan-pesan yang ada di balik surat an-Naba’.

Bertamasya bersama menelusuri setiap ungkapan dan firman Tuhan adalah sangat mendamaikan. Namun terkadang juga menyeramkan atau menakutkan, memberikan ketenangan dan kemantapan, memberikan kabar baik, atau berita buruk. Surat an-Naba merupakan salah satu surat yang menjelaskan dan menggambarkan sebuah peristiwa agung, yaitu hari kiamat. Sebagaimana artinya, “berita besar”, surat an-Naba’ mengandung beberapa pokok pemberitaan. Antara lain adalah pengingkaran orang-orang musyrik terhadap adanya hari berbangkit dan ancaman Allah terhadap sikap mereka itu; kekuasaan-kekuasaan Allah yang terlihat dalam alam sebagai bukti adanya hari berbangkit; peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari berbangkit; azab yang diterima oleh orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah serta kebahagiaan yang diterima orang-orang mu’min di hari kiamat; dan penyesalan orang-orang kafir di hari kiamat.

Ayat demi ayat, surat demi surat yang termaktub dalam al-Qur’an merupakan implementasi kecintaan Tuhan terhadap hamba-Nya. Satu bendel mushaf al-Qur’an adalah sebongkah surat cinta sang Pencipta kepada manusia. Ia adalah “Dustur al hayah, dunyawiyyan wa ukhrowiyyan” sehingga aplikasinya tetap relevan sepanjang zaman. Selamat bertadabbur al-Qur’an lebih dalam. Selamat berwisata lebih jauh ke seluruh kawasan al-Qur’an. Sampai jumpa di malam tamasya selanjutnya, bersama Misykati tercinta!![M. Luthfi al-Anshori, Santri Afkar dan Misykati Center]

No comments:

Post a Comment