artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Kongkow Misykati Bersama Kang Abik, Pentingnya Pembekalan Diri Sejak Dini

[Misykati-Online]
Kairo, Senin pagi, 05 Februari, pukul 09.00 WK kemarin, bertempat di rumah Nabih Sidqi -salah seorang penasehat Misykati-, dilaksanakan acara cangkrukan/kongkow bareng dan silaturrahmi bersama Kang Abik, sapaan akbar Habiburrahman el Saerozy, sang penulis novel “Ayat-ayat Cinta” yang juga alumni MAKN-MAPK Surakarta. Acara ini sengaja dilaksnakan pagi hari, mengingat jadwal acara kang Abik yang cukup padat di Kairo. Meskipun demikian, dan walaupun udara pagi kala itu sangat dingin berkawan angin kencang, hal ini tidak menciutkan niat kawan-kawan Misykati untuk tetap hadir dalam acara ini.

Sholah atau aula flat yang sederhana tersebut nampak penuh. Telah hadir juga di sela-sela para hadirin Mas Saiful Bahri, MA yang mengambil tempat duduk pas di samping kang Abik. Kedua teman lama ini terlihat begitu dekat dan akrab. Ahmad Najih yang saat itu bertugas sebagai MC, mampu membawakan acara dengan gaya khasnya yang lugu. Setelah membuka acara, kesempatan selanjutnya diberikan kepada Khoirunniat, LC untuk memberikan sambutannya sebagai representasi dari sesepuh Misykati di Mesir.

Beberapa saat kemudian, setelah Mbah Niat (sapaan Khas Khoirunniat, LC.) selesai menyampaikan sambutannya, Najih langsung memberikan waktu sepenuhnya kepada kang Abik untuk menyampaikan wejangan-wejangannya di hadapan kawan-kawan Misykati. Dalam mukaddimah sambutannya, kang Abik menyatakan behwa; beliau sungguh merindukan suasana-suasana seperti ini. Adalah suasana kebersamaan, dimana dahulu, beliau dan kawan-kawan Misykati seangkatannya juga sering melakukannya.

“Dari dulu dan hingga sekarang, Misykati mempunyai sunnah hasanah. Diantaranya adalah silaturrahmi antar anggota, saling membantu atau ta’awun, sekaligus tempat untuk saling memberikan support dan semangat”. Begitulah tutur kang Abik mengawali pembicaraannya pada pagi yang dingin tersebut. Selanjutnya, beliau bercerita panjang lebar tentang bagaimana perjuangannya dahulu bersama beberapa kawan dari MAPK Solo untuk bisa fight dan survive selama menempuh belajar di Mesir.

Konon katanya, kesuksesan beliau bersama beberapa kawannya tak lain berawal dari sebuah kenekatan. Nekad dan bersikeras untuk berangkat ke Mesir. Dan dengan berbagai cara serta usaha, akhirnya sampailah mereka ke Mesir untuk belajar di al-Azhar. Semangat yang terpupuk oleh keteguhan niat itu ternyata memberikan hasil. Saat itu, ketika berbagai macam institusi belum membuka peluang untuk mendapatkan bea siswa kepada mahasiswa Indonesia di Mesir, mereka tetap terus berjuang untuk mempertahankan hidup. Saling bantu dan saling memahami satu dengan yang lainnya. Begitulah kebersamaan yang tercermin dalam Misykati.

Dengan berjalannya waktu, akhirnya ada pula sebuah instansi (ICMI) yang mau memberikan beasiswa dengan syarat, yaitu harus najah dengan nilai minimal jayyid. Saat itu Misykati belum cukup diakui. Namun setelah melihat hasil ujian tingkat pertama dan ada salah satu anggota Misykati yang mendapat nilai Jayyid Jiddan (Mas Saiful Bahri, MA), secara spontan Misykati diakui di kalangan Masisir (Mahasiswa Indonesia Mesir).

Bukan hanya saat ini, bahkan beberapa tahun silam, ketika kang Abik beserta kawan-kawannya belajar di Mesir, lebih karena mereka terobsesi untuk mempertahankan bea siswa yang sudah mereka dapat. Sebab jika mereka rasib/gagal ujian, maka bea siswa mereka akan diputus. Walhasil, muncullah sebuah ungkapan khas waktu itu untuk menegur dan mengingatkan orang yang malas; …”Malas…!!? Tahun depan siap-siap tidak makan selama setahun!!”.

Mengenai pendanaan dan inkam Misykati untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan, beliau menyarankan supaya pengurus Misykati sekarang pandai-pandai memanfaatkan link yang sudah ada. Di samping itu para anggota Misykati juga bisa menggalang proyek jama’i, entah apapun bentuknya, untuk menghidupi kegiatan Misykati. Dan tak lupa, kepada adik-adik kelasnya, kang Abik juga berpesan agar kita senantiasa belajar skill-skill keterampilan dan dalam waktu yang sama kita dituntut untuk bisa belajar menjalani kehidupan di Kairo ini dengan sesungguhnya.

Keberadaan Masisir pada umumnya, dan Misykati dalam lingkup kecilnya tentu telah dinanti-nantikan kehadirannya oleh masyarakat Indonesia untuk bisa mengabdikan ilmunya. “Jangan salahkan mereka seandainya mereka mempunya image bahwa setiap alumni Timur Tengah Pasti pinter-pinter dan kaya-kaya. Tentunya image itu tidak sejatinya betul. Namun yang terpenting adalah, bagaimana kita bisa mempersiapkan diri kita dengan sebaik-baiknya untuk terjun ke masyarakat kelak sekembalinya kita ke tanah air”. Begitulah papar kang Abik panjang lebar tentang perlunya untuk belajar skill dan pentingnya mempersiapkan diri sejak dini.

Dalam sesi tanya jawab dan ngobrol santai, Alek Mahya Sofa memulainya dengan menyampaikan sebuah pertanyaan seputar serba-serbi proyek penerjemahan buku. Adakah trik-trik khusus dalam melakukan perjanjian dengan salah satu penerbit dalam sebuah kegiatan penerjemahan? Dan adakah di sana semacam gank atau mafia dalam dunia penerjemahan?

Oleh kang Abik, pertanyaan ini dijawab dengan lugas. Hal ini mungkin didasari oleh pengalaman beliau yang sudah malang melintang di dunia penerjemahan. Tentunya dalam sebuah kontrak penerjemahan dengan penerbit harus ada bukti atau surat perjanjiannya. Sehingga jika di kemudian hari ada masalah, hal itu bisa kita selesaikan dengan mudah dan berkekuatan hukum. Lalu masalah mafia, selama ini yang beliau ketahui belum ada. Cuman terkadang kerancuan-kerancuan di tengah proses penerjemahan itu selalu ada. Dan yang dibutuhkan kala itu adalah komunikasi antara pihak penerjemah dan penerbitnya.

Pertayaan selanjutnya disampaikan oleh Munirul Ikhwan, Lc. Salah seorang anggota Misykati yang baru saja merampungkan Strata satunya di al-Azhar dan sebentar lagi akan segera pulang ke Indonesia. “kira-kira ladang garapan dan peluang kerja mahasiswa Mesir di Indonesia nantinya ini apa, dan khususnya di dunia pendidikan?” . “sebenarnya ladang garapan itu banyak yang siap menampung alumni-alumni timur Tengah. Diantaranya adalah PTN dan Universitas-universitas Negeri yang membuka fakultas-fakultas keagamaan dan sastra Arab. Di samping juga IAIN-IAIN serta STAIN yang tersebar di berbagai kota”. Begitulah kurang lebih kang Abik menjawab pertanyaan Munir.

Di penghujugng acara, agenda di tutup dengan ramah tamah. Hidangan khusus yang telah disediakan adalah mie ayam yang telah diracik khusus oleh Sugeng Haryadi, Lc. Salah seorang anggota Misykati yang cukup cakap dalam memasak. Lalu acara dilanjutkan dengan foto-foto bersama.(Luthfie al-Anshory)

No comments:

Post a Comment