artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Hukum Kekekalan Energi, Refleksi Hukum Fisika Dalam Kehidupan Beragama

[Misykati-Online]
Apakah Misykati masih membutuhkan yang namanya Tadzkirah, peringatan, atau pepiling, dalam istilah Jawanya? Itulah sebuah pertanyaan pembuka yang disampaikan oleh M. Arfan, pembicara pada sesi Tadzkirah Malam Jum’at kemarin di Misykati, 1 Maret 2007. Kemunculan pertanyaan ini mungkin lebih dilandasi karena para peserta yang hadir malam hari itu, oleh pembicara, dirasa sudah mempunyai pengetahuan yang cukup (merata, red), sehingga tidak perlu untuk diceramahi lagi. Sementara pembicara sendiri, Arfan, merasa masih baru dan lebih perlu untuk diingatkan (diceramahi).

Pada menit-menit selanjutnya, Arfan lebih jauh berbicara tentang “Hukum Kekekalan Energi”. Intinya, bahwa hukum kekekalan energi yang ada dalam ranah ilmu fisika itu, yang dapat direfleksikan sesuai dengan ajaran setiap agama adalah; apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita di dunia. Dengan kata lain, apabila kita melakukan "energi positif" atau kebaikan, maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan "energi negatif" atau keburukan, maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula.

Rumus di atas sejatinya cukup selaras dengan Firman Allah SWT dalam Surat al-Zalzalah ayat 7-8. “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”. Demikianlah sekelumit refleksi tentang hukum kekekalan energi. Dan untuk selanjutnya, Arfan mulai merambah pada pemaparan seputar area kehidupan yang lainnya.

“Sesuai dengan sebuah analisa dari realita yang ada, bahwa kecelakaan yang terjadi di jalan tol adalah lebih besar jumlahnya ketimbang kecelakaan yang terjadi di jalan raya biasa”. Mengapa demikian? Iya. Jawabannya tiada lain adalah gambaran dari sebuah perjalanan kehidupan. Adanya seseorang yang hidup dengan bergelimang harta, segala fasilitas tercukupi, tidak pernah merasa ada halangan dan rintangan di hadapannya, ia akan cenderung untuk tidak peka dalam mengantisipasi segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dalam perjalanan hidupnya. Maka, ketika halangan dan ujian itu datang, ia akan cenderung mudah jatuh, seperti halnya analogi jalan tol. Namun berbeda dengan orang yang biasa bersusah-susah, prihatin dan telah sering menghadapi berbagai kerikil dan batu terjal yang ada di jalan. Ia akan lebih berhati-hati dalam mengemudikan hidup, mengantisipasi setiap kemungkinan akan adanya kerikil tajam yang menggelincirkan. Hasilnya ia akan lebih berpotensi selamat sampai tujuan, hati-hati, tidak grusa-grusu, alon waton kelakon.

“setiap perjalanan akan selalu lebih mudah bila menggunakan kompas dan peta”. Ungkapan pepatah di atas juga nampak relevan dengan apa yang disampaikan oleh Arfan, bahwa untuk hidup membutuhkan rancangan atau planning. Karena dengan planning hidup akan lebih terarah. Dengan planning usaha dalam pencapaian tujuan dan cita-cita akan lebih menampakkan hasil, tepat sasaran. Khususon untuk para mahasiswa/pelajar, suatu perencanaan dan planning yang matang dan teratur dalam rangka pencapaian keberhasilan studi yang optimal adalah sebuah keniscayaan.

Setiap orang mempunyai potensi yang berbeda. Adanya kecenderungan yang berbeda-beda itu adalah wujud dari keterbatasan manusia. Sehingga dengan itu, manusia, dituntut untuk bisa mengenali dirinya sendiri, memahami potensi dirinya, lalu mengembangkannya. Allah SWT telah berfirman dalam a-Qur’an; “dan jikalau Allah melapangkan rizqi kepada para hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat”.

Rizqi, umur/ajal, jodoh, susah dan senang manusia di dunia sudah ditentukan oleh Allah dalam periodisasi masa kandungan seorang ibu. Maka dengan menelaah ayat di atas, seorang hamba yang insaf dan mempunyai hati berserah akan lebih tabah dan sabar dalam menghadapi kehidupan yang kian tua namun semakin keras dan penuh tantangan.
-
Pada sesi tanggapan dan tambahan, para peserta mulai mengutarakan ide dan gagasannya masing-masing sesuai tema kali ini. Diawali oleh Ahmad Sultoni, ia menambahkan bahwa Imam as-Syafi’i pernah berkata; “maka jika seandainya Allah hanya menurunkan satu surat yaitu “al-Ashr” untuk memperingatkan manusia dan sebagagi pelajaran, maka cukuplah dengannya (al-Ashr) manusia sudah bisa mengambil pelajaran yang sangat banyak dari surat itu”. Tidak lain ungkapan beliau itu adalah sebagai gambaran bahwa hikmah dan pelajaran dari surat al-Ashr, yang tersusun hanya dengan 3 ayat, sangatlah banyak.

Selanjutnya Sulton juga menambahkan bahwa, adanya tujuan yang pasti akan lebih menentukan proses dan hasil yang akan dicapai. Hal ini dicontohkannya dengan adanya 2 orang yang akan diperintah untuk lompat. Orang pertama hanya diperintah untuk lompat saja, tanpa menyebutkan tujuan lompatan yang harus ia capai, maka melompatlah ia dengan asal. Namun orang kedua, diperintahkan untuk melompat, dan dianjurkan supaya ia bisa sampai meraih atap. Maka tentu saja hasil lompatan orang kedua akan lebih tinggi dan terarah karena adanya tujuan yang pasti, dan begitu pula hidup.

Lalu pada kesempatan kedua, Alek Mahya Shofa pun turut angkat bicara. Menanggapi pertanyaan di awal pembicaraan tadi, (apakah Misykati masih butuh acara Tadzkirah?), Alek mengatakan butuh. Karena hakikat dari agama sendiri sebenarnya adalah untuk saling mengingatkan dan menasehati. Hal ini selaras dengan salah satu Hadits Nabi yang berbunyi; “Ad-Dinu an-Nashihah”, Agama adalah Nasihat. Maka apa yang sedang kita lakukan dengan agenda mingguan “Tadzkirah” telah sesuai bahkan dianjurkan oleh Agama.

Sementara itu, menanggapi “hukum kekekalan energi” yang diangkat malam hari itu, Alek menghubungkannya dengan sebuah ayat, “wama jaza’ul ihsani illal ihsan”, dan tidaklah balasan sebuah kebaikan itu kecuali dibalas dengan kebaikan pula. Jadi semakin jelas, bahwa adanya prilaku senantiasa diiringi konsekuensi dan balasan dari prilaku tersebut, apakah itu baik maupun buruk.

Pertanyaan awal yang disampaikan Afran pada mukaddimahnya memang cukup banyak memancing para hadirin untuk berkomentar. Tak terkecuali M. Ari Wibowo, ketua Misykati periode 2006/2007, pun turut menyampaikan fikrahnya tentang perlunya agenda Tadzkirah setiap malam Jum’at di Misykati. Dengan sedikit bercanda ia berkata; “mungkin kalau Misykatinya sudah tidak perlu lagi di-tadzkirahi. Tapi untuk person-personnya aku rasa masih sangat perlu untuk di beri tadzkirah”.

Selanjutnya, Masari, sapaan Akrab ketua Misykati, memaparkan bahwa, “terkadang segala sesuatu itu butuh momen. Nah, momen seperti inilah (Tadzkirah) yang tepat untuk kembali bermuhasabah, mengevaluasi diri dengan apa yang telah lalu. Dan dengan itu kita berharap bisa menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya”. Memang benar jika ada pepatah mengatakan, “Jadilah orang yang kakinya berada di bumi, namun cita-citanya tinggi di langit suroyya”. “kita cita-cita boleh tinggi, planning dan perencanaan boleh matang dan mumtaz. Tapi perlu diingat, bahwa kaki kita tetap dan akan terus berada di bumi. Maka yang benar adalah, bahwa dengan cita-cita itu kita tidak lantas hanya mementingkan diri sendiri untuk mengejar cita-cita, namun kita juga harus mengingat teman, alam sekitar, dan lingkungan. Dan bahwa kita tetep harus menjadi mahluk sosial yang bisa memberikan manfaat epada sesama manusia”. Demikianlah panjang lebar Masari mencoba memberikan gambaran dan perspektif tengahnya dalam menyikapi pembicaraan di atas.
-----------------------

Tadabbur Surat Muddatstsir Di Penghujung Musim Dingin
Sub-judul di atas muncul seiring dengan akan berlalunya musim dingin di tahun ini. Adalah surat al-Mudatstsir (Orang yang berkemul/berselimut), obyek tadabbur al-Qur’an pada malam Jum’at minggu ini. Dept. Pendidikan telah menunjuk Rofiqul Anam sebagai pembicara yang akan mengupas tuntas surat al-Mudatstsir. Namun karena jumlah ayatnya yang cukup banyak (56 ayat), serta mengingat keterbatasan waktu, Rofiq telah memilih untuk mengkaji 10 ayat pertama dari surat itu.

Secara rancak Rofiq mulai menguraikan satu demi satu ayat-ayat tersebut. Adapun secara global, 10 ayat pertama pada surat al-Mudatstsir memberikan sebuah gambaran tentang perintah Allah kepada Nabi Muhammad untuk berdakwah. Sesuai asbabun nuzul-nya, ayat pertama dan kedua surat al-Muddatstsir adalah wahyu ke-2 yang turun kepada nabi Muhammad setelah surat al-Alaq 1-5.

Lalu apa hubungan atau perbedaan antara wahyu pertama (surat al-Alaq) dan surat al-Muddatstsir? Diantara keduanya terdapat sebuah sekat yang membedakan antara wahyu kenabian dan kerasulan. Jika surat al-Alaq lebih memberikan makna akan arti wahyu kenabian, yang notabene perintah itu untuk diri Nabi sendiri dan bukan untuk orang lain, maka surat al-Muddatstsir adalah sebuah wahyu kerasulan, yaitu perintah untuk berdakwah. Demikianlah kurang lebih apa yang disampaikan oleh Ahmad Sulthoni pada sesi tanggapan.

Surat ini memang nampak tepat untuk selalu dikaji dan dikaji, terlebih pada musim dingin. Pasalnya setiap musim dingin tiba, berarti tantangan dan ujian baru pun menyertainya. Dengan udara yang cukup dingin di Mesir, hal itu banyak mempengaruhi setiap orang untuk terus berkawan selimut dan sangat lengket dengan kasur masing-masing. Maka dengan kembali mentadabburi beberapa ayat dari surat ini, semoga kita semua bisa kembali tergugah. Memberikan peringatan yang dimuali dari diri sendiri, lalu diteruskan kepada sesama kawan dan alam sekitar. (wahai orang-orang yang berselimut. Bangun dan berilah peringatan!!). Wallahu a’lam!! (Luthfie al-Anshori)

No comments:

Post a Comment