artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Jangan Pernah Berputus Asa

[Misykati-Online]

Tadabbur surat az-Zumar ayat 53-55

“katakanlah ; wahai hamba-hambaku yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya, sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang(53). Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu sebelum adzab datang kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya(54). Dan ikutilah sebaik-baiknya yang telah diturunkan oleh Tuhanmu sebelum datang adzab kepadamu dengan tiba-tiba sedang kamu tidak menyadarinya(55).”

Setidaknya ada dua pendapat tentang ayat diatas:

Pendapat Pertama; mengatakan bahwa ketiga ayat tersebut menunjukakan perintah untuk bersegera bertaubat kepada Allh SWT. Sedang pendapat kedua; mengatakan bahwa ketiganya menunjukkan perintah kepada orang kafir untuk segera masuk islam.Mereka yang berpendapat dengan pendapat kedua berdalih dengan ayat 54 dan 55, dimana secara tersurat mengandung perintah untuk segera kembali kepada Allah dan berpegang teguh pada Al qur’an.

Terlepas dari perbedaan kedua pendapat diatas, mari kita tadabburi ketiga ayat tersebut!!!
“Al iman yazidu wa yanqusu”, iman itu kadang bertambah dan kadang berkurang. Ketika seorang mu’min konsekuen dengan ajaran Tuhanya, rajin shalat, menunaikan zakat dan sebagainya, saat demikianlah imanya bertambah atau sempurna dan sebaliknya ketika ia bermaksiat kepada Tuhanya, maka imanya berkurang atau menipis. Ayat pertama (az zumar ayat: 53) merupakan sebuah pembuka peringatan kepada mereka yang sedang lalai terhadap ajaran-ajaran Tuhanya, meski Allah telah menyatakan kebencian-Nya kepada mereka yang telah melampui batas sebagaimana firman-Nya; “sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang melampui batas”. Melalui surat az-Zumar ayat 53-55 tersebut Allah masih berkenan untuk memberi sebuah harapan besar kepada mereka, yakni harapan untuk mendapatkan ampunan-Nya. Dengan itulah Allah memerintahkan mereka untuk tidak berputus asa dari rahmat dan ampunan-Nya itu. Karena Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun segala dosa-dosa mereka. Akan tetapi, apakah semudah membalikkan tangan ampunan Tuhan itu akan diraih???, tentu tidak! Lalu apa syaratnya???

Jumhur ulama (berdasar pada ketiga ayat diatas) berpendapat bahwa, maqhfirah (ampunan Tuhan) akan diraih oleh seorang hamba yang telah melanggar aturan-aturan-Nya (isrof) dengan cukup tiga syarat yaitu:

Pertama: taubat (kembali kejalan Tuhan). Dikarenakan pintu taubat itu selalu terbuka kapan dan dimanapun, maka Allah melarang mereka berputus asa dari rahmat dan ampunan-Nya itu. Di dalam taubat sendiri ada tiga syarat, yaitu:

Pertama; al-ilmu ma’a an nadam, yaitu mereasa kecewa terhadap segala bentuk dosa yang telah diperbuat.
Kedua; al-iqrar, yaitu berjanji untuk tidak melakukan hal dosa serupa dengan disertai rasa takut akan adzab Tuhan dikemudian nanti.
Ketiga; al-fi’lu, yaitu merealisasikan (dengan penuh keikhlasan) atau mengamalkan ajaran-ajaran Tuhanya.

Kemudian dengan mengambil istifad/pelajaran dari surat an-Nisa’ ayat 17 dan 16 penulis menambahkan bahwa taubat yang diterima oleh Allah adalah:
1.
Taubat nasuha
2.
Taubatnya seorang hamba dari bentuk dosa, namun dalam keadaan lalai atau akibat ketidak tahuannya tentang hukum perbuatanya.
Imam Mujahid mengatakan; “barang siapa durhaka kepada Allah baik dengan disengaja atau tidak maka ia telah berbuat kebodohan”.
3.Bertaubat sebelum ruh sampai pada tenggorokan.

Kedua: berislam
Kata islam (secara etimologi) berarti pasrah atau tunduk. Kita sebagai seorang muslim seharusnya bisa berislam dengan sebenar-benarnya, dengan menunjukkan kedamaian dan mengedepankan sikap tunduk, pasrah dan yang paling penting adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. Dan sebagai konsekuensinya adalah menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Ketiga: mengamalkan ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah
Begitu setelah seorang yang berbuat dosa bertaubat dan memasrahkan nasib hidupnya hanya kepada Allah, maka ia juga harus mengamalkan seluruh ajaran Tuhan yang telah tersurat dan tersirat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
Rasulullah bersabda; ”Telah aku tinggalkan dua perkara untuk kalian, yang jika kalian berpegang teguh padanya maka tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu kalamullah (al-Qur’an) dan as-Sunnah”.

Mengimani kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah merupakan rukun iman yang keempat. Akan tetapi hanyalah al-Qur’an yang diikuti karena al-Qur’an adalah sebaik-baiknya kitab yang diturunkan Allah (az-Zumar:55). Adapun Sunnah adalah kalam Rasulullah dalam rangka menyampaikan intisari ajaran-ajaran Allah, dimana as-Sunnah hadir dengan tiga fungsi yaitu:
1. as-Sunnah muakkadatun lima ja’a bihi al-Qur’an
Yaitu as-Sunnah berfungsi memperkuat hukum-hukum yang telah tersebut dalam al-Qur’an, seperti keduanya telah menerangkan tentang pengharaman mengambil hak milik orang lain dengan cara yang bathil.

2. as-Sunnah mubayyanatun lima ja’a bihi al-Qur’an
Yaitu as-Sunnah menjelaskan hukum-hukum atau ajaran agama yang telah disebutkan dalam al-Qur’an, seperti al-Qur’an hanya menjelaskan kewajiban menjalankan shalat lima waktu, kemudian as-Sunnah datang dengan menjelaskan tata cara dari shalat itu. Begitupula dengan kewajiban zakat, puasa, haji dan sebagainya.

3. as-Sunnah mutsabbitun lima sakata ‘anhu al-Qur’an
Yaitu as-Sunnah memposisikan dirinya untuk menetapkan suatu hukum yang tidak dijelaskanoleh al-Qu’an, seperti sebuah riwayat yang menjelaskan tentang halalnya bangkai ikan laut.

-----------------------------------

Adapaun Tadzkiroh yang disampaikan oleh ustadz Izzul Umam, meski hanya terkesan baru muqoddimah tapi ternyata dirasa lebih mengena akan makna Tadzkiroh itu sendiri. Seperti kata Ari Wibowo; “...ya maklum mas.....kan baru latihan....!!”, beliau menyampaikan tentang “mementingkan diri” yang kemudian dita’liq oleh Fuad al-Amin bahwa judul tersebut dirasa kurang tepat. Yang lebih tepat mungkin jika Izul mengambil sub-judul “memperhatikan diri kita ini”.

Saudaraku, hidup akan terasa nikmat, ringan, dan bahagia tatkala kita memahami tiga prinsip utama dalam hidup. Prinsip pertama, kita hidup di dunia hanya sementara tidak untuk selamanya. Dunia hanya sarana, bukan tujuan utama. Akhiratlah tujuan utama kita. Prinsip kedua, kita terlahir ke dunia tidak membawa apa-apa, dan saat kembali pun kita tidak membawa apa-apa (selain amal). Semua yang kita miliki hanya sekadar titipan, yang sewaktu-waktu bisa diambil pemiliknya.

Prinsip ketiga, setiap perbuatan akan kembaali pada pembuatnya. Tidak akan pernah tertukar. Inilah yang akan kita bahas. Kita tidak akan mempertanggungjawabkan perbuatan orang lain. Kita hanya akan mempertanggungjawabkan perbuatan kita sendiri.

Saudaraku, ketika kita mampu menghayati prinsip ini, maka kita akan lebih mudah mengetahui nasib kita di kemudian hari. Saat melakukan keburukan, maka keburukan pula yang akan kita peroleh. Saat melakukan kebaikan, maka kebaikan pula yang akan kita dapatkan. Imam Ibnu Atha'ilah menuliskan dalam kitab Hikam, "Tidak berguna bagi Allah taatmu dan tidak mudharat pada Allah maksiat (dosa)mu, dan sesungguhnya Allah menyuruh kamu berbuat taat dan melarang kamu dari maksiat (dosa), sebab semuanya adalah untuk kepentinganmu sendiri".

Kemahamuliaan Allah pun tidak akan berubah sedikit pun dengan ketaatan atau pun kemaksiatan yang kita lakukan. Kita sendiri yang akan merasakan akibatnya. Dalam hadis Qudsi Allah SWT berfirman; "Wahai hamba-Ku, andaikan orang yang pertama hingga terakhir dari kamu, para jin dan manusia semua bertakwa, maka yang demikian itu tidak menambah kekayaan-Ku sedikit pun. Dan sebaliknya jika kamu melakukan sejahat-jahat perbuatan, maka yang demikian itu tidak mengurangi kekuasaan kerajaan-Ku sedikit pun, kecuali sebagai kurangnya air laut jika diambil dengan jarum¡­".

Maka, yang terpenting dalam hidup adalah diri kita sendiri. Semuanya harus diawali dari diri sendiri. Sebelum memikirkan orang lain, pikirkan diri kita terlebih dulu. Sebelum mengubah orang lain, ubahlah diri kita terlebih dulu. Sebelum mencerdaskan orang lain, cerdaskanlah diri kita terlebih dulu. Saat kita lebih fokus kepada orang lain, dan mengabaikan diri sendiri, maka semua yang kita lakukan tidak akan maksimal, bahkan bisa mencelakakan.

Dalam konteks ini, mengutamakan bukan berarti egois. Justeru untuk mengikis sikap egois diri. Egois adalah berbuat sesuatu untuk kepentingan diri, walau harus merugikan atau mengorbankan orang lain. Kita memperbaiki diri, memperhatikan diri, mencerdaskan diri kita tujukan untuk kemanfaatan orang lain. Kita mencari sebanyak mungkin harta, bukan untuk memuaskan nafsu, tapi untuk mendistribusikannya bagi banyak orang. Kita belajar mati-matian, bukan untuk membodohi diri, tapi untuk mengajar orang lain agar bisa pintar. Pun juga, kita memperbaiki diri, bukan untuk kebanggaan, tapi agar bisa mengubah orang lain jadi lebih baik.

Saudaraku, inilah kesuksesan yang hakiki. Sukses kita bukan sukses sendiri, tapi bisa menyukseskan orang lain. Bukankah, khairunnaasi anfa'uhum linnaasi; sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain? Semoga kita termasuk jenis manusia ini. Amin.

No comments:

Post a Comment