artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Membincang Kemandirian Peradaban Islam

[Misykati Online]
Kairo-Kamis (29/3) malam kemarin, Misykati Center, -salah satu Departemen yang a
da di tubuh Misykati-, menggelar acara Bedah Buku “al-Istiqlâl al-Khadhariy” karya terbaru seorang pemikir moderat Mesir, Dr. Muhammad Imarah. Bertindak sebagai pembedah pada malam hari itu adalah dua aktifis muda Misykati; M. Luthfi al-Anshori dan M. Fuad al-Amin. Adapun sebagai moderator pada acara ini adalah Nashif Ubbadah, koordinator Misykati Center.
Misykati Center, dalam struktur Misykati adalah Departemen yang memang secara khusus menangani bidang kajian/diskusi maupun bedah buku yang dilakukan 2 kali dalam satu kepengurusan. Sementara untuk acara-acara mingguannya lebih banyak dihandle oleh Dept. Pendidikan.
Pada malam hari itu, sesuai buku yang dibedah, Luthfi (pembedah pertama) memaparkan makalah yang telah ia siapkan dalam judul “MENIMBANG KEMANDIRIAN PERADABAN ISLAM; Catatan Komparatif Parameter Gerakan Kebangkitan Dalam Islam”. Dari judul yang ia angkat, Luthfi menjelaskan sejauh mana peranan dan sepak terjang beberapa gerakan islam dalam mewujudkan kebangkitan dan kemandirian peradaban Islam. Diantara gerakan-gerakan itu ialah “Seruan Gerakan Pembaharuan Salafi”, yang dalam bukunya “al-Istiqlâl al-Khadhâri”, Dr. Imarah memberikan contoh semisal; Gerakan Wahabiyah, Sanusiyyah dan Mahdiyyah.
Sisi posistif dari gerakan-gerakan ini dalam rangka mewujudkan kemandirian dan kemerdekaan peradaban Islam adalah dengan membebaskan umat Islam dari belenggu dan pengaruh Bid’ah, Khurafat dan lain sebagianya. Mereka mensinyalir bahwa umat Islam banyak yang diracuni dengan paham-paham bid’ah dan khurafat, peninggalan dari abad-abad pertengahan. Maka dengan segala daya usaha mereka berusaha membebaskan umat dengan seruan kembali ke al-Qur’an dan Hadits. Sementara di sisi yang lain, mereka sangat membenci dan antipati terhadap segala hal yang berasal dari Barat. Mereka juga menolak rasionalitas dan pengembangan masyarakat menuju proses berperadaban yang lebih maju. Walhasil, gerakan-gerakan ini tidak mau sedikitpun melihat, apalagi mencontoh peradaban dan kebudayaan yang berasal dari Barat.
Lalu pada bagian selanjutnya, Luthfi juga memaparkan peranan-peranan gerakan pembaharuan Islam lainnya, diantaranya dalah gerakan-gerakan yang bergerak dalam bidang akademis atau Universitas Islam. Menurut Dr. Imarah, banyak sekali nama-nama yang bisa kita kaji dan kita kategorikan sebagai pelopor gerakan ini. Namun dalam bukunya tersebut, Imarah hanya menyebutkan beberapa nama dari pelopor gerakan ini, diantaranya adalah; Syeikh Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Abdurrahman al-Kawakibi, dan Abdul Hamid Bin Badis. seperti halnya yang telah jama’ diketahui oleh masyarakat Islam dunia, bahwa sederetan nama tersebut adalam para pelopor kebangkitan dan revolusi umat Islam, khususnya di negara Arab.
Pada intinya, gerakan dari kedua aliran ini (salafi dan akademisi-pembaharu) adalah sama-sama ingin mewujudkan kemandirian peradaban Islam. Namun tentu saja antara satu dan yang lainnya mempunyai perbedaan karakteristik dalam pergerakan masing-masing. Jika aliran Salafi lebih antipati dengan barat dan menolak rasionalitas, maka para kaum pembaharu justru tidak secara serta merta menolak peradaban barat dan rasionalitas.
Jika ada asumsi yang mengatakan bahwa kebudayaan dan peradaban timur tidak bisa mandiri karena mempunyai keterkaitan dan ketergantungan dengan Barat, hal ini ditolak oleh salah seorang reformis Mesir, Rifa’at at-Tahthawi. Dalam seruannya ia mengatakan bahwa, “yang dilakukan oleh kaum pembaharu dengan mengambil pelajaran peradaban dari Barat bukanlah proses membeli atau mengkonsumsi produk Barat. Namun hal ini sesungguhnya adalah proses pengambilan kembali peradaban-peradaban Islam yang pada abad-abad terdahulu sempat dicuri dan diboyong oleh para Imperialis ke Barat. Maka sudah impas jika seandainya saat ini kita mengambil barang dagangan atau kekayaan kita yang dahulu sempat dirampas oleh Barat”.
Dalam presentasi kedua yang disampaikan oleh Fuad, ia memaparkan tentang “Islam dan Tajdid”, hasil dari telaahnya atas kitab “al-Istiqlal al-Hadhari” ini. Separo halaman depan tadi sudah dibahas oleh Luthfi, maka kali ini giliran Fuad untuk membedah separo terakhir dari buku ini. Pembahasan yang terdapat pada seporo halaman terakhir buku sebenarnya ada sedikit pengulangan dari separo depan. Yaitu mengenai pembagian aliran-aliran yang muncul paska serangan baru Imperialisme Barat. Aliran-aliran itu, oleh Dr. Imarah dikelompokkan menjadi tiga. Yaitu aliran Stagnasi (Tayyar Jumud), aliran Westernisasi (Tayyar Taghrib), dan aliran Reformis (Tayyar Tajdid).
Selanjutnya Fuad juga memaparkan secara sederhana proses akulturasi budaya islam yang masuk ke Barat. Diantara beberapa kelompok yang muncul paska proses akulturasi ini adalah kelompok Gereja Katolik, ar-Rusydiyyin al-Latiniyyin, dan Tayyar Asasi. Kemudian dalam bagian-bagian akhir bukunya, Muhammad Imarah kembali ingin menegaskan bahwa umat Islam mempunyai sebuah identitas khusus. Dan hal inilah yang sebetulnya membedakan antara peradaban Islam dan peradaban Barat, yaitu tauhid, Arabisme dan Moderatisisme.
Bertolak dari sini, Imarah mencoba menengahkan bahwa gerakan yang dirasa sesuai dengan nafas pembaharuan Islam adalah semacam gerakan-gerakan aliran pembaharu dalam bidang akademisi tersebut. Karena merekalah yang lebih proporsional dalam melakukan gerakan pembaharuan dengan moderatisisme, yaitu tidak meninggalkan turats, mengembangkan sikap rasionalitas dan mau mengembangkan civil sosiety. Maka kemandirian peradaban Islam adalah bukan semata-mata hanya pada penghapusan bid’ah dan khurafat. namun kemandirian peradaban Islam juga harus diimbangi dengan pengembangan sikap kritis, rasionalis dan pengembangan masyarakat menuju lebih beradab. Wallahu a’lam!![Lut-V]

No comments:

Post a Comment