artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Larik-larik Sajak Untuk MABA*

Bumi Mesir seakan diliputi salju. Udara dingin mulai menusuk pori-pori. Seiring dengan itu, Masisir tampak mulai merapat dengan kuliah, muqarrar, kitab-kitab, atau bahkan lebih memilih diam di rumah berkawan selimut. Masing-masing punya pilihan. Tergantung bagaimana tiap-tiap mereka menerjemahkan nafas yang setiap saat berhembus tanpa disadari, tanpa pernah berhenti, namun suatu saat pasti akan terhenti. Sehingga dari penerjemahan itulah akan muncul sebuah penyikapan. Ada yang syukur, ada yang kufur. Ada yang bergegas, ada yang malas-malas. Ada yang senantiasa waspada, ada yang lalai dan lupa. Begitulah sunnah dunia, yang tercipta berpasang-pasang, berjodoh-jodoh. Ya, potret “Masisir lama” yang telah menghirup udara Mesir. “Wujud” mereka menjelma beraneka warna.

Di sudut lain kita melihat sebentuk keprihatinan. Tunas-tunas baru yang akan turut mewarnai dinamika Masisir tak kunjung muncul ke permukaan. Bumi para nabi yang akan menjadi ladang mereka nanti, seakan rindu menanti bibit unggul yang menumbuhi tanahnya. Namun entah kenapa, para “khalifah” yang merasa memilikinya, masih enggan memberikan izin kepada mereka. Visa masih disimpan rapi. Entah “dihargai” mahal atau hanya dikebiri. Padahal hari semakin menepi. Dan kantor-kantor syu’un terlihat sepi. Tak seperti biasa, yang sedari Oktober telah muncul pemandangan membosankan; antrian panjang!

Dimanakah mahasiswa baru? Bagaimana nasib mereka? Sampai kapankah mereka harus bertahan dalam “ruang tunggu”? Sungguh tiada yang lebih jemu dari penantian yang tak berkepastian! Kami yang mengaku kakak-kakakmu saja sudah tak sabar menunggu. Cadangan semangat yang kami bawa dulu telah hampir lenyap digilas waktu. Kami butuh bantuan kalian. “Yang akan membawakan bahan bakar”. Untuk me-recarge semangat kami. Untuk membakar asa kami.

Masisir prihatin! Setelah pada tahun lalu keinginan-keinginan untuk melanjutkan studi ke Mesir dibatasi, kini keadaan “diperparah” lagi. Bukan hanya jumlah yang semakin kecil, namun keberangkatan bahkan menjelma mimpi dan semakin terhalangi. Entah oleh siapa, entah karena apa? Perbaikan kualitas yang dahulu diinginkan dengan penyelenggaraan tes, berubah menjadi air mata yang kian menetes. Air mata yang dirundung duka, karena waktu mereka dipasung sia-sia, oleh birokrasi yang tak jelas ke mana arahnya. Air mata mereka yang tulus haus ilmu. Air mata orang tua mereka yang ingin segera melihat anaknya berangkat sebagai mujahid fi sabilillah.

Hingga saat ini kami (Masisir) masih terngungu. Menyaksikan nasib pilu para penuntut ilmu. Berbagai “hadiah dan cindera mata” untuk menyambut kehadiran Maba telah dipersiapkan sedemikian rupa. Program acara khusus untuk pembekalan mereka terpaksa ditunda. Saqoh-saqoh untuk menampung jiwa dan raga mereka -dalam menjalani episode awal adaptasi- telah dipesankan sejak lama. Dan kini masih kosong. Sepi menanti isi. Sementara senja terus berganti. Hingga masa ujian semakin dekat. Sudah seharusnya mereka datang cepat-cepat untuk segera bersiap-siap. Namun itu hanya omong kosong. Sebagaimana saqoh-saqoh yang masih kosong. Tak jelas kapan akan terisi.

Hingga tulisan ini tercatat, baru segelintir persen Maba yang datang. Yang lainnya masih menunggu nasib. Namun sebagai wujud simpati maupun empati, beberapa catatan yang ada di buletin ini kami persembahkan untuk kalian. Entah kalian akan sempat membacanya atau tidak, namun biarlah ia menjadi do’a! Semoga Allah memudahkan jalan kalian dalam menggapai cita-cita. Entah kalian akan segera terbang atau tidak, kami tetap mengucap selamat datang! “Karena sesungguhnya, nama kalian telah terpatri di tembok-tembok coklat kampus tertua negeri ini”.(Luthfie al-Badi’ie)

*) Tulisan ini dimuat di Editorial Buletin Prestasi KSW Edisi 76 bulan November 2007

No comments:

Post a Comment