artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Ilmu Kalam; Misykati Membuka Serial Kajian Turats


[Misykati Online]

Jum'at malam (7/3), sesuai yang telah dijadwalkan sebelumnya, Misykati menyelenggarakan Serial Kajian Turats Perdananya dengan tema "Pengantar Studi Turats Ilmu Kalam". Sebagai presentator pada tema kali ini adalah Nidlol Masyhud, Lc. dan dimoderatori oleh Ahmad Sulthoni. Sebelum memasuki sesi kajian, agenda diawali dengan Tahfidz Qur'an bersama, sesuai dengan muqarrar masing-masing tingkat.

Sejurus kemudian, setelah usai melaksanakan tahfidz, Ahmad Sulthoni segera memimpin majlis memasuki agenda inti, Kajian Ilmu Kalam. Di awal prakatanya, Ahmad membacakan curriculum vitae Ust. Nidlol Masyhud lengkap dengan perjalanan studinya sejak kecil hingga pengalamannya dalam berbagai dunia organisasi di kancah mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir). Selanjutnya, secara singkat dan global Ahmad memberikan sedikit deskripsi tentang obyek kajian yang akan dibahas pada malam hari tersebut. Dengan tidak berpanjang kalam, ia segera menyerahkan waktu sepenuhnya kepada Nidlol untuk menyampaikan presentasinya.

Berdasarkan silabus yang telah disepakati, malam hari itu Nidlol akan menyampaikan 2 obyek kajian penting. Pertama adalah "Pengantar Studi Turats Kalam; Sketsa Perkembangan dan Literatur" yang menjelaskan secara rinci historiografi kemunculan dan perkembangan ilmu kalam. Kedua adalah studi aplikasi dan bedah buku "al-Iqtishâd fi al-I'tiqâd" karya al-Ghozali yang masih tergolong ke dalam genre ilmu kalam.

Memulai pembahasan pertama, Nidhol secara lugas menjelaskan urgensitas sebuah tauhid dalam ranah kehidupan manusia. Sebab, ..."semenjak pertama kali turun, al-Quran telah berbicara kepada manusia dengan bahasa yang langsung terhubung ke dalam wawasan naluriahnya (fithrah) : “Iqra' bi 'smi rabbik!”. Ini sebuah potret jelas, bahwa pengenalan terhadap Tuhan adalah sebuah wawasan yang sangat mendasar…". Setelah menjelaskan sejauh mana pondasi keimanan (tauhid) itu benar-benar ditekankan oleh Tuhan dan Rosulnya, Nidlol melaju pada penjelasan awal mula atau embrio kemunculan ilmu kalam pada zaman Nabi Muhammad Saw. Lalu secara lebih rinci lagi ia menjelaskan berbagai gejolak dan perdebatan yang terjadi di kalangan para Sahabat hingga Tabi'in dan Atba' Tabi'in seputar ilmu kalam.

Berbagai aliran bermunculan seiring dengan perjalanan waktu dan perubahan iklim politik maupun sosial. Mulai dari Khawarij, Syi'ah, Mu'tazilah, Murji'ah, Nawashib, dll. Masing-masing memiliki faham tersendiri kaitannya dengan beberapa obyek pokok dalam bidang aqidah. Bertolak dari situlah muncul beberapa nama yang cukup dominan dalam kancah perdebatan ilmu kalam. Secara cepat, ringkas dan padat dengan dibantu sebuah white-board Nidhol menggambarkan peta perjalanan ilmu kalam secara jelas sesuai periodisasinya masing-masing.

Memasuki babak selanjutnya, Nidlol memberikan deskripsi pemetaan karya-karya turats yang terkait dengan disiplin ilmu kalam. Hal ini ditujukan agar para peserta mampu memahami dan mengetahui berbagai macam khazanah literatur yang ada dalam ruang lingkup ilmu kalam, sehingga memudahkan mereka untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Secara global, karya-karya itu diklasifikasikan menjadi beberapa bagian. Di antaranya adalah yang bergenre kitab Sunnah, kitab Kalam (Mu'tazilah dan Asy'ariyyah), dan yang tergolong ke dalam genre filsafat, juga karya-karya komparatif. Alhasil, setelah menghabiskan waktu setengah jam, usailah sesi pertama pemaparan umum sejarah kemunculan ilmu kalam dan perkembangannya.

Selanjutnya acara diselingi dengan sesi tanya jawab yang dibuka untuk seluruh peserta. Kali ini Arfan dan Nashif melontarkan pertanyaan-pertanyaannya dengan cukup menggebu. Arfan secara ringkas menanyakan pengaruh kemunculan aliran-aliran ilmu kalam itu terhadap perkembangan disiplin Hadits dan Ilmu Hadits. Sedangkan Nashif menanyakan seputar keterpengaruhan aqidah kaum muslimin kala itu oleh iklim kekuasaan dan politik.

Setelah menginventarisir seluruh pertanyaan yang masuk, Ahmad mempersilahkan kepada Nidlol untuk menjawab dan memberikan penjelasan. Dari pertanyaan Arfan Nidlol menjawab bahwa, kemunculan berbagai aliran itu tentu sangat berpengaruh pada proses perkembangan Hadits dan Ilmu Hadits. Menurut berbagai sumber literatur menjelaskan, bahwa sejak kemunculan aliran-aliran itu bertumbuhkembanglah pula berbagai hadits palsu yang dibuat untuk menguatkan argumentasi masing-masing. Walhasil muncullah berbagai usaha dari para ulama' klasik maupun kontemporer untuk melakukan sebuah studi hadits untuk meneliti keabsahan sebuah hadits secara rinci dan ketat.

Lalu menanggapi pertanyaan Nashif, jelas sekali bahwa perkembangan aliran pemikiran kala itu sangat dipengaruhi oleh iklim politik yang sedang menghegemoni. Jika sang penguasa kala itu berpegang pada akidah khawarij misalkan, maka akan sangat memungkinkan sekali bagi khawarij untuk bertumbuhkembang secara subur dan sebaliknya akan membatasi ruang gerak aliran-aliran lainnya. Bahkan secara asasi, bahwa kemunculan aliran-aliran itu sendiri kebanyakan dilandasi oleh kepentingan-kepentingan politik.

Memasuki sesi berikutnya, yaitu bedah buku "al-Iqtishâd fi al-I'tiqâd", Nidhol memberikan beberapa catatan penting dari apa yang terkandung dalam kitab sebagai bekal atau madkhal untuk mengkaji kitab tersebut secara lebih mendalam. Para peserta yang sebagian telah memegang kitab tersebutpun sibuk menyimak dan mebolak-balik halaman kitab. Ternyata sesi kali ini tak kalah menarik dengan sesi pertama. Dengan mengetahui sejarah perjalanan penulisnya, al-Ghozali, yang merupakan ulama' besar dalam bidang ini, peserta seakan termotivasi untuk lebih dalam lagi mengkaji berbagai karya-karyanya.

Adapun Jum'at depan (14 Maret 2008), materi yang akan dikaji masih berkisar pada disiplin ilmu kalam yang merupakan studi aplikatif (bedah buku) dari materi yang telah disampaikan Jum'at kemarin. Kitab yang akan dibedah adalah "Jauharah al-Tauhid" karangan imam al-Baijuri. Adapun yang akan bertindak sebagai presentator atau pembedah pada pertemuan mendatang adalah M. Arfan dan sebagai pembanding M. Alek Mahya Shofa dengan dimoderatori oleh M. Fuad al-Amin.(Luthfi el-Badi'ie)

No comments:

Post a Comment