artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Menjelajah Alam Ijmâ' & Qiyâs bersama Misykati

[Misykati Online]

Jum'at malam (28/3), masih dalam Paket Kajian Turats Misykati, kali ini merupakan studi aplikasi dari disiplin ilmu Ushul Fikih. Mengingat pada kajian minggu lalu, yang mana telah membahas ilmu Ushul Fikih secara global bersama Munafidzu Ahkamirrahman, Lc. maka minggu ini Misykati menggelar bedah buku yang diampu oleh M. Irkham Masykuri dan Tsalisul Khiyar. Obyek yang dibedah adalah kitab "Nihâyat al-Sûl fi Syarhi Minhâj al-Wushûl ilâ 'ilmi al-Ushûl" karangan imam al-Isnawi, dan secara fokus dikerucutkan lagi pada pembahasan Ijmâ' dan Qiyâs, yang notabenya masih debateble di kalangan para ulama'.

Kajian yang bertempat di "kampus biru" (sapaan nyentrik sekretariat Misykati) ini, pada dasarnya tidak berbeda dengan kajian-kajian sebelumnya. Namun kali ini, acara kajian tidak didahului dengan tahfidz bersama sebagaimana mestinya, mengingat efisiensi waktu. Akan tetapi, hal ini tidaklah mengurangi rasa hidmat para peserta dalam mengikuti acara tersebut.
Pada pukul 20.15 CLT, Fatchul Machasin yang bertindak sebagai moderator langsung memulai kajian yang diteruskan dengan diskusi dengan tidak banyak memberikan kata-kata pengantar. Maka waktupun langsung diberikan sepenuhnya kepada kedua presentator, yang masing-masing diberi durasi waktu 15 menit untuk menyampaikan makalah masing-masing.

Kesempatan pertama diberikan kepada Irkham Masykuri yang berasal dari Salatiga. Beliau mengutarakan beberapa poin penting yang terkait dengan ijma', di antaranya: devinisi ijma' yang dipakai oleh al-Isnawi, yang secara etimologi berarti "kebulatan tekad" (al-'azmu), dan dapat juga diartiakn "sepakat-setuju-sependapat" (ittifâq). Adapun secara terminologi, ijma' berarti: kesepakatan semua ulama' mujtahid dari umat nabi Muhammad SAW terhadap suatu perkara. Presentator juga menjelaskan tentang otoritas Ijma': "bahwa walaupun Ijma' termasuk sumber hukum yang muttafaq 'alaih, namun ternyata masih terdapat beberapa golongan yang menyatakan ijma' bukanlah sebagai sumber hukum setelah al-Qur`an dan Sunnah. Di antara golongan yang menentang tersebut adalah kelompok Syi'ah Nidhamiyyah ,Zaidiyyah dan Khawârij, serta beberapa kelompok lain yang sepakat dengan mereka.

Pada menit-menit selanjutnya, Irkham secara lebih luas juga menjelaskan tentang landasan hukum ijma', jenis-jenis ijma', dan juga kemungkinan terjadinya ijma' pada masa sekarang ini. Lalu memasuki presentasi kedua, Tsalisul Khiyar, pemuda asal Cilacap berkesempatan untuk mengupas secara ringkas tentang pembahasan Qiyas, khususnya yang terdapat dalam buku karangan al-Isnawi tersebut. Icul (panggilan akrab Tsalisul Khiyar) juga mngemukakan hal yang sedikit sama dengan Irkham, bahwa qiyâs yang merupakan sumber hukum keempat setelah ijma', juga masih debateble sehingga terdapat beberapa kelompok yang mengingkarinya. Di antaranya adalah; kelompok Syi'ah Imamiyyah, Imam Daud al-Dzahiri dan kalangan Nidhamiyyah. Mereka tidak mempergunakan qiyâs sebagai dasar hukum. Kedua presentator yang merupakan mahasiswa tingkat 3 Universitas al-Azhar Fakultas Syari'ah wa al-Qanun jurusan Islamiyah itu mengutarakan materinya dengan lugas dan ringkas, yang kemudin diteruskan dengan sesi tanya jawab.

Setelah dibuka sesi tanya jawab oleh moderator, pertanyaan pertama muncul dari Muwaffiq, mahasiswa Fakultas Lughah tingkat pertama. Kali ini ia menanyakan tentang batasan lafadz "semua mujtahidin" di dalam ta'rif ijma' yang tersebut di atas. Muwaffiq menanyakan juga tentang perbedaan antara musyawarah dan ijma'. Kemudian menyusul pertanyaan kedua, yaitu dari Fuad al-Amin tentang proses terjadinya ijma' dan sampai kapan ijma' masih bisa terjadi untuk menentukan hukum, sedangkan terjadinya ijma' disyaratkan dengan adanya mujtahid.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, Irkham mengutarakan bahwa dalam ta'rif ijma', ada juga ta'rîf 'âm yaitu makna ijma' dalam arti umum, dan juga ta'rîf khâsh yaitu makna ijma' dalam artu khusus. Sebagai contoh: ijma' ahli Madinah dan lain sebagainya. Kemudian ia juga mengatakan bahwa ijma' lebih kepada memutuskan hukum suatu masalah, sedangkan musyawarah merupakan tukar pendapat antara dua orang atau lebih. Pada kesempatan selanjutnya, Alek Mahya Shofa juga berpendapat bahwa musyawarah sebagaimana terdapat dalam al-Qur'an (wa amruhum syûrâ bainahum) lebih menuju pada arti umum, yaitu tak ada batasannya antara urusan yang bersifat duniawi dan ukhrawi. Sedangkan Ijma' lebih kepada urusan agama dan legalitasnya tergantung pada kata sepakat dan tidak sepakatnya ijma' tersebut. Lalu disambung oleh Ahmad Sulthoni yang masih seputar musyawarah, bahwa jika dipandang dari sudut ilmu hadits musywarah merupakan suatu proses dan lebih kepada sebuah sharing ide.

Waktu semakin malam dan diskusipun semakin hidup ketika masuk dalam bahasan kemungkinan terjadinya ijma' dan sampai kapan ijma' itu bisa terjadi. Irkham Masykuri mencontohkan ijma' dengan terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Yaitu melalui kesepakatan para ahlu al-halli wa al-'aqdi yang dalam hal ini adalah para sahabat Nabi SAW. Dan yang dimaksud dengan ahlu al-halli wa al-'aqdi di sini adalah mujtahid. Selaim itu Nasif juga berpendapat bahwa kemungkinan ijma; pada masa sekarang ini bisa terjadi dengan menyaratkan bahwa ahlu al-halli wa al-'aqdi itu adalah orang-orang ataupun ilmuan yang ahli dalam masalah tertentu. Pendapat itu juga dikuatkan oleh Luthfi al-Anshori yang mengatakan kemungkinan ijma' di masa sekarang. Selain itu luthfi juga menambahkan bahwa ijma' bisa berfungsi sebagai kontrol terhadap perilaku masyarakat, yang mana hal ini mengisyaratkan bahwa ijma' dimungkinkan terjadi pada masa sekarang ini.

Di akhir diskusi, Rifmiyanto, Lc. sebagai supervisor pada acara malam tersebut menyampaikan beberapa penjelasan tambahan seputar perdebatan para peserta dengan mengutip beberapa statemen dari para ulama'. Menurut syeikh Ali Jum'ah, Mufti Mesir, mengatakan bahwa ijma' mungkin terjadi pada masa sekarang ini. Sementara Dr. Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa ijtihad itu ada dua macam: ijtihâd takhashshush (sebagai contoh: ahli kedokteran diminta pendapatnya dalam rangka menetapkan ijma' tentang berbagai permasalahan yang berkaitan dengan dunia kedokteran); ijtihâd manthiqa'i (yang merupakan ijtihad lokal masing-masing daerah dan hasil ijtihad itu hanya memungkinkan untuk diterapkan oleh daerah tersebut).
Adapun agenda Jum'at depan (4/4), kajian akan memasuki ranah turats tafsir yang akan disampaikan oleh Khairun Niat, Lc. (Encek)

No comments:

Post a Comment