artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Serial Kajian Turats Misykati Bedah Jauhar al-Tauhîd


[Misykati Online]

Setelah minggu lalu Misykati sukses mengadakan acara perdana dari Serial Kajian Turats, yang mana merupakan kegiatan follow-up dari wacana sekaligus realisasi dari mimpi (usulan, red.) ketua Misykati M. Luthfi al-Anshori untuk mengadakan kegiatan semacam itu. Seperti yang telah kami laporkan minggu lalu, bahwa kajian perdana kemarin membahas tentang madkhâl atau lebih simpelnya pengenalan secara global mengenai ilmu kalam, yang disampaikan oleh Nidhol Masyhud Lc.

Pada kesempatan kali ini, tepatnya Jum'at malam (14/3), anak-anak alumni MAPK yang kuliah di Mesir itu kembali mengadakan seri lanjutan dari Serial Kajian Turats Misykati, yaitu bedah kitab "Jauhar al-Tauhid" karya al-Imam Ibrahim bin Hasan al-Laqani. Dalam seri kedua ini, Muhammad Arfan & M. Alex Mahya Shofa berkesampatan unjuk gigi untuk mengupas tuntas kitab tersebut, yang juga digunakan sebagai muqorror (diktat kuliah) untuk materi tauhid di Universiatas al-Azhar.

Seperti pada kajian sebelumnya, bertempat di kampus biru (sekretariat Misykati, red.) acara Misykati didahului dengan tahfidz al-Qur`an bersama sesuai muqorror masing-masing tingkat. Muhammad Rofiqul Anam sebagai MC memberi instruksi untuk memulai tahfidz secara berpasang-pasangan.

Setelah tahfidz selesai, agenda inti yang ditunggu pun datang juga. M. Fuad al-Amin yang bertindak sebagai moderator mulai mengeluarkan untaian kata-kata pengantar dalam bedah buku kali ini. Kesempatan pertama diberikan kepada Muhammad Arfan sebagai pembedah buku, pemuda asli kelahiran Boyolali atau yang lebih dikenal dengan kota susu itu. Dalam mukadimahnya ia menerangkan tentang esensi dari judul dan biografi singkat pengarang kitab "Jauhar al-Tauhid", beliau adalah al-Laqani (wafat 1041 H). Jauhar sendiri berarti permata yang elok, sedangkan nama al-Laqani dinisbatkan kepada sebuah desa bernama Laqqonah di Bukhaira, salah satu provinsi di Mesir. Beliau merupakan seorang ulama' bermadzhab Maliki dan termasuk seorang sufi juga mutakallim. Maka tidak heran jika dalam bukunya kita temukan pembahasan sepuatar tasawuf dan akhlaq. Di samping itu, beliau juga beraliran Asy'ariyah, hal ini tampak melalui counter-conternya terhadap pemikiran Mu'tazilah, Jabariah, dan Qodariah. Dalam buku ini terdapat 144 bait nadzam.

Setelah memberikan uraian ringkas di atas, Arfan mulai masuk dalam pembahasan ilmu tauhid. Secara etimologi, tauhid artinya sesuatu itu satu, sedangkan secara terminologi tauhid berarti ilmu yang membahas tentang penetapan aqidah yang diperoleh dari dalil-dalil tentang keyakinan. Ilmu tauhid juga bisa disebut ilmu ushuluddin. Dalam pembahsannya, ilmu tauhid dapat diklasifikasikan menjadi 4 macam, meliputi: pembahasan tentang ketuhanan (ilahiyyât) kenabian (nubuwwât) dan kenyataan yang hanya bisa didengar berdasarkan informasi dari wahyu (sam'iyyât). Dalam pembahasan ilahiyyât masih terbagi lagi menjadi ilahiyyât, rubûbiyyah, dan asmâ` wa sifât. Lebih lanjut al-Laqoni juga memandang bahwa ilmu tauhid tidak harus dipelajari secara mendalam, tetapi cukup secara ringkas.

Di akhir presantisanya, Arfan menyampaikan bahwa buku ini terlalu rumit bagi para pemula. Dia menegaskan buku ini lebih cocok untuk dikonsumsi oleh kalangan menengah ke atas, maupun kalangan akademis.

Setelah Arfan selesai menyampaikan presantasi seputar kitab "Jauhar al-Tauhid", tiba giliran Alek Mahya Shofa beraksi. Mas Alex atau yang lebih akrab disapa Maleo, adalah mahasiswa tingkat 4 jurusan Akidah Filsafat. Maka tak ayal jika Maleo termasuk senior Misykati dan berpengalaman. Maleo di sini bertindak sebagai pembanding dari Arfan dalam presantasi sebelumnya. Di awal pembicaraannya, Maleo menjadikan lebah sebagai metafor yang notabene mampu membuat madu, walaupun ia tidak sekolah dengan kisah seorang profesor.

Maleo menyatakan bahwa, tauhid menurut dzauq Syeikh Muhtar RA. adalah tanzîh al-ahâd 'an al-adad, wa tanzîh al-wâhid 'an al-ta'addud (penyucian Dzat yang ahad dari bilangan dan Dzat yang wahid dari hitungan). Secara sederhana, Syeikh Muhtar RA. membedakan antara esensi ahad dan wahid. Hal ini merupakan refleksi dari ayat al-Quran "qul huwa Allâhu ahad" dan "wa ilâhukum ilâhun wâhid". Dengan ini beliau menarik benang merah bahwa, ahad adalah sesuatu yang tidak terbilang juga tidak terhitung, sedangkan wahid adalah sesuatu yang terbilang tapi tidak terhitung.

Maleo sedikit mengkritisi substansi dari kitab ini, yang terkesan cenderung memmbingungkan dan terjadi tumpang tindih pembahsan. Di antarnya terselipkan secara eksplisit pembahasan seperti shalat dan zakat yang seharusnya masuk dalam kerangka syariat atau fikih, juga pembahasan tentang ikhlas yang seharusnya masuk dalam kajian ilmu akhlaq. Terlebih Maleo juga memandang tentang inkonsistensi pengarang dalam pemaparan argumen. Beliau terkadang mengedapkan dalil-dalil naqli tapi tak jarang juga beliau lebih menitik beratkan sisi logika dari pada nash.

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan sesi dialog. Dalam dialog ini terjadi banyak sanggahan dan pertanyaan, maupun hanya sebatas tanggapan dari peserta. Di antaranya muncul dari Ahmad Shultoni, yang mana ia menolak adanya kerancuan kontens dalam kitab "Jauhar al-Tauhid" yang disebutkan oleh Maleo. Menurutnya, adanya percampuran beberapa kaidah disiplin ilmu selain tauhid di dalam kitab "Jauhar al-Tauhid" adalah sesuatu yang wajar dan biasa. Hal itu juga akan banyak kita temukan di beberapa kitab lainnya, yang ditujukan sebagai bumbu pelengkap isi kitab.

Selanjutnya Nashif dengan segudang pengetahuannya, ia cukup merasakan beberapa kerancuan yang ada dalam kitab "Jauhar al-Tauhid". Di sana ia menemukan beberapa pembahasan yang dianggap musy ma'ul (tidak masuk akal) mengenai konsep 'arsy yang konon katanya mempunyai panjang sekian meter, juga shirâth yang panjangnya harus ditempuh dalam waktu sekian ribu tahun. Lantas apakah yang menjadi tolok ukur dari hitungan tahun tersebut? Apakah ada naql Sharih yang menjelaskannya?

Kemudian Muwafiq menanyakan tentang kitab apa yang kira-kira lebih mudah dipahami dan cocok bagi kalangan pemula. Selain itu Muwafiq menyoroti tentang sebuah wacana bahwa ilmu tauhid tidak harus dipelajari secara mendalam, akan tetapi cukup secara ringkas saja. Apakah justru dengan adanya wacana tersebut akan membuat akidah orang Islam mudah untuk digoyahkan, menilik studi kasus tentang keberhasilan gerakan kristenisasi yang mampu menggerogoti akidah sebagian muslim Indonesia.

Adapun pada kajian Jum'at (28/3) mendatang Serial Kajian Turats Misykati akan mengarungi samudera pembahasan tema baru dalam babakan ilmu Ushul Fiqh, yang akan dinahkodai oleh Munafidzu Ahkamirrohman, Lc. dengan Fathul Makhasin sebagai moderator.(Fandam)

No comments:

Post a Comment