artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Kajian Pungkasan; Misykati Bedah Dua Tokoh Tafsir


[Misykati Online]
Jum’at malam (18/4), Misykati kembali menggelar Paket Kajian Turatsnya setelah pada minggu lalu sempat break. Tema kali ini masih terkait seputar disiplin tafsir yang secara fokus mengkaji tokoh, sebagai upaya lanjutan mengenal ragam metodologi penafsiran. Sayyid Qutb dan Aisyah Abdurrahman (Bintu Syathi’), yang keduanya merupakan tokoh tafsir abad 20, secara elaboratif dan komprehensif disajikan oleh dua presentator muda Misykati, Muhammad Misbah dan M. Fuad al-Amin yang keduanya adalah mahasiswa jurusan Tafsir Universitas al-Azhar. Agenda ini merupakan kajian pungkasan yang diselenggarakan para termin ini, mengingat waktu ujian yang semakin dekat.

Malam ini lebih ramai dari malam-malam sebelumnya. Tak kurang dari 25 anggota Misykati hadir menyemarakkan kajian. Sebagaimana biasa, acara dibuka oleh MC lalu diserahkan sepenuhnya kepada moderator yang pada kesempatan kali ini dibawakan oleh Titis Roso Wulan. Mengingat waktu yang semakin beranjak malam, ia tak begitu banyak menyampaikan mukaddimah sehingga segera memberikan kesempatan pertama untuk presentasi kepada Muhammad Misbah yang bertugas mengupas tuntas Sayyid Qutb. Adalah “Fî Zhilâli al-Qur`ân” salah satu karya fenomenal Sayyed Qutb yang hingga hari ini masih eksis dan terus dibaca oleh para pengkaji literatur-literatur Islam, khususnya bidang tafsir.

Sebelum melakukan kajian terhadap sebuah karya, seyogyanya para pengkaji membaca terlebih dahulu biografi sang pengarang atau pencetus dari karya tersebut. Sehingga dengan modal pengetahuan tentang latar belakang sang pengarang tadi, para pengkaji bisa lebih obyektif dan tepat dalam memahami isi atau kandungan karya. Maka berangkat dari perspektif itulah, Misbah juga tak lupa memaparkan secara singkat biografi Sayyed Qutb guna mengetahui misi khusus yang ada di balik penulisan “Fî Zhilâli al-Qur`ân”. Sementara pada menit-menit selanjutnya, sebagaimana yang tertera dalam makalah yang ia sajikan sebanyak 4 halaman, Misbah menguraikan secara lebih detail tentang kerangka pemikiran dan corak penafsiran Sayyed Qutb, juga pandangannya terhadap konsep nasikh dan mansukh sekaligus memberikan beberapa contoh aplikasi dari corak penafsiran tadi.

Memasuki presentasi kedua, M. Fuad al-Amin memulai aksinya dengan menjabarkan klasifikasi tafsir berdasarkan sumbernya, yaitu tafsîr bi al-ma’tsûr dan tafsîr bi al-ra’yi. Setelah mendefinisikan masing-masing jenis tafsir tersebut ia kemudian baru mengaitkannya dengan karya Bintu Syathi’ “Tafsîr al-Bayâniy li al-Qur`ân al-Karîm” yang digolongkan ke dalam jenis tafsîr bi al-ra’yi. Sebagaimana Misbah, sebelum memasuki kajian metodologi yang diterapkan Bintu Syathi’ dalam tafsir, ia juga secara apik menjelaskan sejarah perjalanan Bintu Syathi’ yang sangat sarat dengan nuansa keilmuan. Oleh sebab back-ground keluarga yang sangat religius dan akademis, Aisyah kecil telah dididik untuk menghafal al-Qur`an dan diajari pengetahuan-pengetahuan Islam oleh keluarganya. Sehingga tak ayal jika kelak ia tumbuh sebagai salah seorang pemikir Islam perempuan ternama yang cukup disegani berbagai kalangan akademisi. Tak kurang dari 40 karya dalam bentuk buku telah beliau telorkan dan tersebar diseluruh dunia meliputi bidang Dirasât Islâmiyyah, Fiqh, tafsîr, Âdâb dan lain sebagainya.

Oleh beberapa kalangan ulama’ ‘ulûm al-Qur`ân, Tafsir Bintu Syathi’ digolongkan dalam corak tafsir âdâbiy dan ada juga yang menggolongkannya dalam jenis tafsir balâghiy. Maka untuk memberikan deskripsi lebih lengkap tentang kerangka pemikiran Bintu Syathi’, Fuad melanjutkan presentasinya ke beberapa pembahasan mendasar, khususnya terkait dengan kitab Tafsîr al-Bayâniy li al-Qur`ân al-Karîm”. Basis metode Bintu Syathi’ menjadi topik awal sebelum memasuki beberapa kajian aplikatif lain yang meliputi pandangan Bintu Syathi tentang huruf muqaththa’ah, konsep anti sinonimitas dan Isrâ`iliyyât.

Melaju ke sesi tanya jawab, kajian menjadi semakin seru. Dimulai dari Luthfi yang menanyakan contoh aplikasi lebih detail tentang metode penafsiran Sayyed Qutb yang cerderung bercorak sastra kemasyarakatan (adabi ijtimâ’i), juga menanyakan korelasi metode penafsiran Bintu Syathi’ dengan metode hermeneutika yang hingga saat ini masih hangat dibincangkan oleh berbagai pemikir Islam. Berangkat dari pertanyaan inilah sesi dialog selanjutnya menjadi lebih panas dan hidup. Sebab para peserta lain ternyata juga ingin mengetahui lebih jauh tentang metode hermeneutika. Namun karena tema kajian kali ini tidak secara spesifik membahas hermeneutika, maka kajian lebih banyak fokus mengkaji metodologi penafsiran kedua tokoh tersebut. Adapun mengenai hermeneutika, ketua Misykati berencana akan menyelenggarakan kajian hermeneutika secara khusus pada pertemuan-pertemuan mendatang paska ujian termin kedua.

Walaupun Jum’at kali ini merupakan agenda terakhir kajian reguler, namun Misykati masih mempunyai dua agenda lagi yang akan segera dilaksanakan, yaitu Try Out Tahfidz al-Qur’an tertulis dan malam penutupan kegiatan Misykati plus sholat Hajat dan do’a bersama menjelang ujian. Sesuai rencana, Try Out akan dilaksanakan pada Jum’at mendatang (25/4), sementara agenda penutupan masih dalam konfirmasi dan akan diumumkan selanjutnya.(MLA)

No comments:

Post a Comment