artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Potret Khazanah Tafsir; Mengarungi Samudra tanpa Batas


[Misykati Online]

Jum’at malam (4/4), serial acara mingguan Misykati telah memulai babak baru. Masih dalam Serial Kajian Turatsnya, kajian kali ini mencoba menelisik lebih jauh ke dalam ranah khazanah tafsir al-Qur`an. Pada kesempatan ini, M. Luthfi al-Anshori (ketua Misykati yang tercatat sebagai mahasiswa tingkat 3 universitas al-Azhar jurusan Tafsir) bertindak langsung sebagai moderator untuk mendampingi Ust. Khoirun Niat, Lc. sebagai pemateri.

Acara yang dimulai ba’da Isya’ itu dibuka oleh MC lalu diserahkan sepenuhnya pada moderator dengan memberikan sedikit pengantar tentang disiplin tafsir. Tanpa memperpanjang kalam, sejurus kemudian moderator memberikan waktu kepada pemateri untuk menyampaikan makalahnya. Pemateri yang notabenya tercatat sebagai mahasiswa program paska sarjana universitas al-Azhar Kairo jurusan tafsir itu menyuguhkan makalah yang berjudul “Potret Khazanah Qur’an; Studi Sejarah dan Pemetaan Turast Tafsir”. Dalam makalahnya yang berjumlah 8 halaman, beliau memberikan gambaran sejarah singkat mengenai periodisasi tafsir al-Qur’an, khazanah literatur tafsir al-Qur’an dari masa ke masa, pemetaan tafsir al-Qur’an serta sekilas menelisik tafsir kontemporer masa kini.

Tak kurang dari 20 anggota Misykati yang hadir pada kesempatan itu mendengarkan pemaparan makalah dengan penuh antusias. Setelah sesi penyampaian makalah yang berlangsung selama 30 menit telah usai, kajian dilanjutkan pada sesi kedua, yaitu dialog atau tanya jawab.

Dalam sesi ini para peserta kajian dapat memberikan sanggahan dan pertanyaan mengenai berbagai hal yang masih terasa mengganjal dalam pikiran mereka kepada pemateri. Moderator memberikan kesempatan pertama kepada Muwafiq Azifullah (mahasiswa al-Azhar fakultas Luqhah Arabiyah asal Jombang). Muwafiq menanyakan tentang dampak pembuangan sanad sebuah riwayat hadits dalam metode penyusunan tafsir yang terjadi pada abad ke-3 H. Maka ketika sanad itu sengaja tidak disertakan, lalu bagaimana dengan otentisitas kitab tafsir tersebut? Bukankah itu sangat berpengaruh terhadap nilai keabsahan sebuah tafsir? Selanjutnya ia juga menanyakan tentang masalah hermeneutika, apakah itu termasuk dalam ranah ilmu tafsir kontemporer yang sah atau relevan untuk diterapkan sebagai alat penafsiran al-Qur’an?

Pada kesempatan selanjutnya, M. Fuad al-Amin juga turut menyampaikan pertanyaannya seputar kitab tafsir karya imam Fakhruddin al-Râzi yang dikenal dengan nama “Mafâtih al-ghaib” atau “Tafsîr al-Kabîr”. Fuad melandaskan pertanyaannya ini dengan mengutip sebuah endorsmen dari beberapa kalangan ulama yang menyatakan bahwa: “fîhi kullu syai` illa al-tafsîr” (di dalam kitab tafsir al-Râzi itu terdapat segala sesuatu kecuali tafsir). Bertolak dari sini Fuad menanyakan, sebenarnya bagaimanakah kriteria umum sebuah kitab yang layak disebut sebagai kitab tafsir?

Menjawab pertanyaan Muwafiq, mbah Niat (sapaan akrab Khoirun Niat) menyatakan bahwa: “tentu saja pembuangan sanat hadits yang terjadi dalam beberapa literatur tafsir akan sangat mempengaruhi nilai ataupun otentisitas dari kitab tafsir tersebut. Sebab dengan itu pembaca bisa jadi akan menemukan kebingungan untuk membedakan mana yang merupakan perkataan asli si mufassir dan mana yang merupakan kutipan dari “matan” hadits!”. Mengenai hermeneutika sebagai salah satu pisau analisa untuk menafsiri al-Qur’an, mbah Niat masih kurang sepakat. Pasalnya, walaupun ia mengakui baru secara sekilas mempelajari hermeneutika, namun ia melihat akan adanya sebuah kerancuan jika hermeneutika diterapkan sebagai metode tafsir. Sebab tuntutan hermeneutika yang meniscayakan keterkaitan dunia teks, dunia pengarang dan dunia pembaca akan sulit dilakukan.

Lalu menanggapi pertanyaan Fuad, mbah Niat menjelaskan bahwa, memang dalam kitab tafsir imam al-Râzi kita akan menemukan berbagai penjelasan yang panjang lebar tentang berbagai permasalahan, khususnya yang terkait dengan disiplin ilmu kalam maupun falsafah. Hal itu wajar dan lumrah jika kita memahami latar belakang keilmuan al-Râzi sebagai seorang sosok yang memang secara intens banyak mempelajari bidang ilmu kalam. Nah, dalam disiplin ilmu al-Qur’an kita mengenal sebuah istilah “istithrâd” yang berarti terlalu berpanjanglebar dalam hal menafsiri al-Qur’an. Maka yang terjadi dalam “Tafsîr al-Kabir” adalah uraian yang panjang lebar berbagai persoalan sehingga terkesan justru meninggalkan unsur sebuah kitab tafsir yang pada dasarnya adalah menjelaskan makna kata perkata atau kalimat perkalimat sesuai dengan kaidah kebahasaan, dalam hal ini adalah bahasa Arab. Adapun ketentuan kriteria umum sebuah kitab tafsir tidak hanya terpaku pada satu corak atau gaya penafsiran tertentu. Sebab hingga masa saat ini kita justru merasa kaya dengan menemukan berbagai literatur tafsir dengan corak dan metode yang beraneka ragam, sesuai dengan latar belakang keilmuan maupun sosio-kultural masing-masing mufassir.

Acara kajian ini berlangsung hangat tanpa mempedulikan hawa dingin malam kota Kairo, dan tak terasa malam pun telah mulai menguap. Setelah berlangsung selama kurang lebih 3 jam dengan berbagai tanggapan dan sanggahan, pertanyaan dan jawaban dari peserta lain, tepat pada pukul 22.30 akhirnya kajian pun diakhiri oleh sang moderator. “al-Qur`an merupakan samudera hikmah maupun petunjuk yang tak terbatas. Maka hanya dengan durasi 3 jam ataupun satu malam tak kan cukup untuk mengarungi samudera itu. Banyak sekali khazanah turats Islam yang merupakan perhiasan mahal umat Muhammad. Di samping itu kajian-kajian kontemporer juga semakin gencar dan pesat mengiring laju zaman yang seakan terus berlari dengan kemajuan ternologi dan sains. Maka banyak sekali PR yang harus kita kerjakan dalam rangka mengemban amanah suci sebagai thâlibul ilmi. Maka kami berharap dengan diadakannya Serial Kajian Turats Misykati ini setidaknya dapat memberikan deskripsi awal sebagai bekal untuk mengarungi lebih jauh samudra kekayaan Islam tersebut. Sebab dengan peta, sebuah perjalanan akan lebih mudah ditempuh!” papar ketua Misykati menutup kajian.

Untuk minggu mendatang, sebagaimana yang disepakati oleh forum setelah melakukan berbagai pertimbangan, kajian akan diajukan satu hari dari jadwal biasanya (Jum’at, 11 April) menjadi hari Kamis (10/4). Masih dalam lingkup disiplin tafsir, Serial Kajian Turast Misykati berikutnya akan menampilkan M. Fuad al-Amin dan Muhammad Misbah (keduanya tercatat sebagai mahasiswa tingkat 3 universitas al-Azhar jurusan Tafsir) sebagai pemakalah yang akan melakukan kajian tokoh di bidang tafsir, terkait profil, latar belakang, metodologi maupun corak mereka dalam menafsirkan al-Qur’an.(arip_ae)

No comments:

Post a Comment