artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Misykati Gelar Seminar Tafsir


Tepatnya tanggal 18 Agustus 2009, yaitu satu hari setelah tanggal bersejarah bagi rakyat Indonesia lewat, Misykati mengadakan acara yang cukup menarik dan mampu mendatangkan lebih dari 80 peserta. Acara yang diadakan Misykati beserta organisasi Almamater dan forum kajian di kalangan mahasiswa Indonesia di Mesir ini bertajuk Seminar Arkeologi Tafsir di Indonesia yang bertempat di Aula Griya Jawa Tengah, Nasr City. Adapun tema yang diusung dalam acara tersebut adalah “Mengenal Khazanah Tafsir dan Tipologi Penafsiran Ulama Nusantara”.

Dengan kerjasama antara almamater FISMABA (Forum Informasi Silaturahmi Mahasiswa dan Alumni Bahrul ‘Ulum), TC (Tebuireng Center) dan FORDIAN (Forum Studi Al-Qur’an) akhirnya acara yang dipersiapkan kurang lebih 10 hari ini terealisasikan dengan lancar dan mampu mengundang banyak massa. Adapun panitia yang membantu jalannya acara terbentuk melalui perwakilan dari masing-masing organisasi terkait. Semisal untuk Sterring Committee-nya diambil dari top-leader masing-masing almamater. Ketua panitia dan sekretaris dari Misykati, untuk bendahara dari TC, seksi acara dan konsumsi dari Fordian dan FISMABA, untuk Dekdok dari Fismaba dan untuk perlengkapan serta humasnya dari semua perwakilan gabungan.

Dalam acara ini menghadirkan 2 presentator dan 2 panelis. Untuk presentator pertama adalah Nur Faizin, MA (Peraih Gelar Master Al-Azhar dengan predikat Mumtaz bi Thoba’, dengan judul thesis: “Syubhat Islam Liberal di Indonesia Seputar Al-Quran, Ilmu dan Tafsirnya: Deskripsi dan Kritik”). Presentator kedua adalah Sutrisno Hadi Tasman, MA (Peraih Gelar Master Al-Azhar dengan predikat Mumtaz dengan judul thesis: ”Corak-corak Tafsir di Indonesia Paska Kemerdekaan 1945”). Untuk panelisnya kita mengundang salah satu senior Misykati, Saiful Bahri, MA (Kandidat Doktor Universitas Al-Azhar jurusan Tafsir dan ilmu-ilmu Al-Qur’an) dan M. Saifudin, MA (Kandidat Doktor Universitas Al-Azhar jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu Al-Qur’an). Untuk mengatur jalannya acara, perwakilan dari FORDIAN yang menjadi moderator kali ini Toyyib Arifin.

Acara yang berlangsung dari pukul 16.30 hingga pukul 22.00 WK ini berjalan dengan lancar dan mampu memberikan info-info penting kepada hadirin yang datang pada waktu itu. Seperti biasanya, acara dibagi menjadi dua sesi, yaitu sesi penyampaian materi dan tanya jawab. Sutrisno Hadi mengatakan bahwa, Tafsir masuk di Indonesia bersamaan dengan masuknya Islam ke Indonesia. Adapun corak tafsir yang ada bisa dilihat dari sisi sumbernya, kecenderungan dan metodologi yang dipakai. Maka munculla istilah semisal; tafsir tahlîli (tafsir analitik), maudlû’i (tematik), muqâron (komparatif) dan ijmâli (penjelasan global).

Secara umum, dapat dikatakan tafsir di Indonesia banyak terpengaruh oleh corak tafsir di Mesir. Hal ini sempat ditanyakan oleh seorang penanya ke presentator mengenai asal muasal tafsir di Indonesia yang banyak memakai konsep tafsir adabiy-ijtimâi (sastra-kemasyarakatan). Pertama kali corak tafsir adabiy-ijtimâi dipandang sebagai corak tafsir kontemporer. Sample awal dari cirak ini bias kita lihat dalam tafsir Al-Manâr (karya: Rasyid Ridha dan M. Abduh). Memang kondisi masyarakat pada waktu itu sedang tunduk dalam imperialisme Barat. Maka timbullah niatan untuk bangkit mengejar ketertinggalannya dan bangkit dari ajaran mereka sendiri.

Tafsir dengan metode adabiy-ijtimâi ini digunakan agar Al-Qur’an lebih dekat dengan masyarakat dan juga untuk menjawab problematika yang mereka rasakan waktu itu. Pertama kali tafsir corak ini berkembang di Mesir. Paham progresif dan modernis inilah yang kemudian juga muncul di Indonesia. Apalagi waktu itu Indonesia pun sedang mengalami penjajahan yang dilakukan oleh Belanda dan Jepang kala itu. Maka paham progresif dan modernis ini cepat menyebar di Indonesia.


Di Indonesia banyak tersebar tafsir bi al-ra’yi dari pada tafsir bi al-ma’tsûr, sebab tafsir bi al-ma’tsûr memang sulit dikaji oleh kebanyakan penafsir di Indonesia. Dan juga tafsir bi al-ma’tsûr itu bersifat transenden, karena hanya bersumber dari hadits yang notabenenya adalah wahyu. Sementara untuk tafsir bi al-ra’yi lebih bersifat nisbiy (relative) karena bias ditafsirkan sesuai dengan kondisi zaman yang ada.

Meskipun acara ini tidak berlangsung lama, namun sudah bias dibilang sukses, dilihat dari sudut pandang peserta acara yang banyak, juga materi acara yang aktual dan informatif. Sebab, sejatinya khazanah pemikiran dan karya ulama Nusantara sangatlah banyak. Namun terkadang kurang mendapatkan perhatian yang memadai dari kaum akademis Indonesia. Maka melalui acara semacam ini diharapkan masyarakat Indonesia bisa bangkit, yaitu dengan terus melakukan kajian dan riset demi mencapai sebuah kemajuan.(Ajib-Luth).

No comments:

Post a Comment