artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

The Secret Road to Success


Kita terkadang tertipu dengan kondisi di sekitar kita, kondisi yang membuat kita banyak melakukan sesuatu yang tak bernilai. Bukankah ada hal yang lebih penting yang harus dilakukan kita sebagai insan yang pandai.

Ketika ku terbayang dengan kehidupan dimasa mendatang, ku selalu tancapkan gambaran-gambaran terindah yang ingin kudapat. Bayangan indah yang ingin sekali kudapatkan dengan cepatnya.Akan tetapi terkadang gambaran itu pudar disebabkan ketidaksiapanku untuk mendapatkanya. Salah satu faktor yang membuatku tidak siap adalah kemalasan, sehingga akupun kurang berani dan kurang sekali bekal yang aku bawa. Aku selalu berucap dalam diriku ini,”Waktu itu berjalan seiring berputarnya bumi, apakah kita hanya bisa terdiam dan menunggu nasib?”.

Kitapun sering mendengar nasehat-nasehat dari orang yang lebih tua dari kita, ketika mereka berucap”Hai anak muda, penuhilah dirimu dengan berbagai bekal tuk hari esok, sebab aku merasa menyesal dulu aku tak berbekal yang banyak”. Apakah nasehat yang meraka katakan ke kita tidak memberi manfaat, apakah memang kita tak bisa memahami akan substansi dari isi nasehat itu, atau apakah memang hati kita sudah terkunci rapat dan tak lagi bisa dibuka?pertanyaan-pertanyaan ini kembali pada diri masing-masing.

Aku punya sedikit cerita bagaimana menjadi orang besar. Semua tokoh–tokoh terbesar dunia ternyata para penyerap ilmu pengetahuan besar. Mereka mendapatkan pengetahuan besarnya, terutama dari membaca. Mereka adalah kutu buku kelas berat.

Maha besar Alloh ketika Beliau menurunkan ayat suci al-qur’an pertama kali yang berbunyi”Iqra’” yang artinya”bacalah”. Sebuah ayat yang mempunyai banyak sekali kandungan isinya. Karena dengan membaca kita tak hanya mengetahui satu masalah saja, akan tetapi jauh lebih komplek daripada itu.

Bahkan orang bijak mengatakan”Dengan membaca kita bisa taklukan dunia”. Sebab pengaruh dari membaca sangatlah besar.

Harun Al-Rasyid, Khalifah Islam yang cukup gemilang masanya, dia adalah penggemar buku-bukunya Plato dan Aristoteles. Napoleon juga termasuk pembaca kelas berat. Dia membaca tentang Alexander the Great, Julius Caesar (juga "Perang Galia"), Plutarch, Homer, Plato, Rousseau, berbagai buku tentang kemiliteran, sejarah, pemerintahan, geografi, bahkan membaca Al-Qur’an semasa ekspedisinya ke Mesir.

Isaac Newton sejak muda membaca karya para tokoh–tokoh besar masa lalu, "The Giants", Euclid, Kopernicus, Galileo, Descartes dan banyak lainnya.

Hitler adalah pembaca buku–buku militer, buku sejarah kebesaran Jerman, Bismarck, filosofi Nietzsche, dan banyak lainnya. Saat menganggur dipakainya untuk menghabisi buku–buku di perpustakaan di Wina, Austria.

Bahkan Einsten seorang jenius abad 20 yang namanya pasti kita hafal dan kita sering mendengar berkali-kali sempat membolos sekolah karena ingin membaca lebih banyak. Akan tetapi kita?

John F. Kennedy(presiden AS ke-35 yang terbunuh pada 22/11/1963)tidak hanya pembaca buku. Ia menulis buku "Profiles in Courage" yang meraih penghargaan tertinggi Pulitzer tahun 1957(penghargaan dalam kategori jurnalistik, awal pertama di adakan pada tahun 1917 silam). Bill Gates (pendiri Microsoft, orang terkaya di dunia) menghabisi seluruh buku komputer di perpustakaan sekolahnya hanya dalam waktu beberapa minggu.

Andai waktu yang masih tersisa disini kita gunakan dengan benar, kita tak kan merasa canggung, kita tak kan merasa takut, justru kita akan merasa sangat siap untuk mengahadapi problematika yang akan kita jemput nantinya.

Coba sesekali kita renungi bersama akan arti hidup. Hidup singkat di dunia dan kekal di alam akhirat. Tak terbayang jikalau kita nantinya akan gagal di dua alam yang pasti kita tempati sekarang dan yang akan datang.

Membaca sebenarnya merupakan pekerjaan yang menyenangkan. Coba saja ketika kita membaca sebuah novel yang tersusun dengan kalimat-kalimat yang indah. Kita tak kan berhenti untuk membaca. Apalagi membaca komen-komen yang berada dalam wall dinding kita di FB(Facebook), pasti kita senang untuk membacanya. Celotehan teman-teman yang lucu dan bikin orang tertawa.

Setelah berbagai contoh penulis sampaikan, tinggal bagaimana respon dari para pendengar dan pembaca. Kalau kita memang menginginkan suatu renaisance dalam kehidupan kita, perbanyaklah membaca. Toh kita sudah banyak membeli buku-buku, bahkan kalau dikalkulasi bisa mencapai puluhan ratus ribu, puluhan ratus pond, dan puluhan ratus dolar. Ingat sobat, kesempatan hanya hari ini, kemarin sudah sirna tak bisa kita kembalikan lagi.

Bahkan pepatah China mengatakan”An inch of time is worth an inch of gold, but it is hard to buy one inch of time with one inch of gold”. Penulis berharap apa yang telah disampaikan bisa menjadi peringatan bagi penulis, pendengar dan pembaca. (ajib/Tazkirah)

No comments:

Post a Comment