artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Mendalami Kefashihan dalam Bahasa Arab

Kairo-Kamis(3/12) warga Misykati kembali menikmati hidangan yang mempermudah mereka dalam bercakap dalam bahasa arab. Buku karangan Samid Abdul Hamid Hamudah yang berjudul “Kaifa Takunu Fashihan” inilah yang mengarah dalam penggunaan bahasa arab dengan benar.

Pukul 18.45 kamis lalu, buku karangan Samid ini dibedah oleh kader Misykati yaitu M. Muaffik Azifulloh dan M. Rofiqul Anam. Keduanya adalah mahasiswa Al-azhar tingkat 3 di fakultas lughoh(B. Arab).

Dengan panduan dari Furqon sebagai moderator, acara berlangsung seru mulai dari prosesi penyampain isi makalah sampai prosesi tanyajawab.

Dalam presentasinya, Muaffik dan Rofiqul hanya membuat satu makalah yang kemudian dipresentasikan bersama dengan metode penjelasan setengah bab awal oleh Muaffik dan setelahnya oleh Rofiq.

“Fasih Berbahasa Arab” inilah yang menjadi judul dalam presentasi mereka. Keduanya mulai menerangkan tujuan dari dibuatnya buku itu yang kemudian meluas dengan menjabarkan isi-isinya. Untuk memudahkan presentasinya, Muaffik dan Rofiq membuat satu pertanyaan pokok untuk menjadi bahan penjabaranya yaitu “Bagaimanakah Seharusnya Kita Belajar Bahasa Arab?”.

Ada lima point yang terdapat didalam makalah. Pertama; mulailah dengan ilmu nahwu. “Sebelum lebih jauh terlibat dalam mempelajari bahasa arab tentu dituntut bagi para pencari ilmu untuk mempelajari ilmu nahwu terlebih dahulu. Disamping mempelajari kaidah-kaidah yang ada, pencari ilmu juga dituntut membiasakan diri dalam berinteraksi dengan contoh-contoh i’rob dan juga belajar melalui wasilah seorang guru”. Itulah cuplikan yang di ambil dari makalah mereka.

Kedua; Berbahasa arab kapanpun dan dimanapun kita berada. Ketiga; Berusaha sebanyak mungkin menghafal gaya bahasa(uslub) para ulama terdahulu dan menggunakanya dalam interaksi keseharian. Adapun point keempatnya adalah mempelajari ilmu tajwid. Supaya pelajar bisa lebih benar dalam mengucapkan bahasa arab, makanya dituntut juga untuk mempelajari ilmu tajwidnya. Seperti yang telah dikutip dari perkataan Imam Ibnu Al-Jazary:
إذ واجب عليهم محتم قبل الشروع اولا ان يعلموا
مخارج الحروف والصفا ليلفظوا بأفصح اللغات

Adapun point yang kelima; latihan mengendalikan intonasi dan ekspresi saat berbicara. Dalam kutipan makalah yang ada disebutkan bahwa “kalam yang fasih belum sempurna adanya apabila kalam tersebut tidak mampu menarik perhatian pendengar dan bisa diresapi secara mendalam”.

Disamping itu, dalam buku yang dibedah ini disebutkan bahwa kesalahan-kesalahan yang sering tidak disadari oleh pelajar adalah dalam kalimat yang berbunyi إنا قوم متعلمين. Dalam bukunya dijelaskan bahwa secara sepintas susunan yang dibuat adalah benar akan tetapi itu adalah penyusunan yang salah. Dan yang benar adalah إنا قوم" متعلمون

Ditambah juga dengan lafadz yang mengikuti wazan "فعلى" dimana dalam wazan ini tidak boleh ditambah dengan ta’tanis. Tapi yang sering salah ketika mengucapkanإمرأة كسلانة". Karena lafadz yang mengikuti wazan "فعلان" itu tidak boleh ditambahi ta’tanis. Maka cukup bagi pelajar untuk mengatakan perempuan itu malas adalah "إمرأة كسلى".

Dan dalam penuturan terakhirnya, Samid menuliskan dalam kitabnya menyoal bagaimana menjaga agar tidak mudah lupa terhadap apa yang telah dipelajari. Faktor utama yang menyebabkan lupa adalah karena pelajar tidak mau mengamalkan ilmu yang telah ia perolehnya. (Ajib)

No comments:

Post a Comment