artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Tadzkirah: "Think Globally, Act Locally"


Hari itu Kamis tanggal 10 Februari 2011, suasana jalan depan Konsuler KBRI Kairo tampak ramai. Banyak orang berlalu lalang, berdatangan dari berbagai arah. Sebagian orang menenteng koper, banyak lagi yang hanya sebatas datang mengantar.

Di kamis itu, Kang Kholil beserta Saif Albana terbang dengan Garuda Indonesia menuju Jakarta. Maskapai Garuda mampir ke Kairo untuk mengevakuasi para WNI kembali ke bumi pertiwi, hari itu kloter ke 6. Siapa yang tahu bahwa evakuasi berhenti di angka 6. Meski banyak yang kecewa, namun tak sedikit yang merasa lega, Mesir sepertinya akan segera aman.

Tak ada yang menjamin keamanan, hanya saja si biang kerok, Husni Mubarak, sudah tak lagi diinginkan rakyat namanya bersanding dengan kata Presiden. Ya, Jum’at (11/4) selepas maghrib. Mubarak mengundurkan diri.

Setelah lebih dari sebulan keduanya pulang keindonesia. Kang Kholil dan Saif berkenan mengisi Tadzkirah pada 14 April lalu. Saif mengaku lebih bersemangat sekembalinya ke Mesir. Semangat untuk menaklukan Kairo, mengarungi samudra diktat tingkat empat. Selain itu, ia sudah melalang buana survey ke Malang, Jakarta, untuk mencari info S2 di tanah air.

Kang kholil, beda lagi, sesepuh Misykati yang satu ini sudah lama tidak pulang. Wajar, ia begitu dielu-elu kan oleh keluarga sesampainya di tanah kelahiran. Banyak sekali informasi dan pengalaman yang kang kholil dapatkan selama berada di Indonesia.

“Kita harus jeli membedakan antar kebutuhan dan keinginan, apapun keinginan kita, kebutuhan kita sebagai mahasiswa adalah studi lancar dan ijazah” seru kang Kholil.

Apa yang akan dilakukan di Mesir sebaiknya dirancang dengan baik, hal itu sebagai rambu-rambu agar kita sukses dan tidak jauh melangkah kebablasan dari jalan yang tidak sesuai dengan visi misi sebagai mahasiswa harapan bangsa. Selebihnya ia menyebutkan kata mutiara “ If you fail to plain, you plan to fail” di sinilah diperlukan sebuah rencana agar bisa mencapai apa yang dicita-citakan.

Seberapa tahun lamanya belajar di Bumi Musa, yang diharapakan banyak orang adalah ilmu itu bermanfaat bagi masyarakat. Maka, kita disini belajar untuk kembali pangkuan ibu pertiwi.

Lebih lanjut, kang kholil juga menyatakan bahwa sepintar apapun diri kita, dan seilmiah apapun bahasa yang kita kuasai, hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan Masyarakat. Dalam hal ini "Think Globally, Act Locally" mutlak diperlukan sebagai landasan dalam berinteraksi dengan Mayarakat. [FFA]

No comments:

Post a Comment