artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Pamit Muleh Ust. Nurul Ikhsanuddin Lc.


Maghrib, tepatnya hari ke sembilan bulan Desember 2011, Misykati kembali lagi bertatap muka dengan keluarga besarnya. Walaupun derajat cuaca Cairo yang makin lama semakin menurun dan membuat malam yang dingin lebih cepat datang, tak membuat sekretariat Misykati sepi tanpa kunjungan. Hari ini salah satu senior Misykati, Nurul Ihsanudin mengadakan wadaan menyambut kepulanganya tanggal 10 desember 2011 dengan mengantongi gelar LC.

Acara yang tak lepas dari guyonan khas keluarga Misykati ini, dibuka dengan sambutan Vahrul Adhi sebagai ketua Misykati. Dilanjutkan penyampaian kesan sekaligus pesan terkhusus kepada saudara Nurul yang akan segera mengakhiri kebersamaanya dengan Cairo. ”kita tidak seperti malaikat yang selalu suci dan sempurna imanya kepada Allah, tapi kita juga tak sepicik setan dalam melanggar ketentuan-ketentuanNya” tutur Rofiqul Anam memberikan pesan mewakili keluarga Bu’uts yang tentunya disambut dengan sedikit guyonan yang memang tak bisa begitu saja terlepas dari kebiasaan anggota keluarga ini. Tak ketinggalan juga Fatchul Machasin mewakili anggota Misykati menyampaikan rasa kehilangan dengan kepulangan saudara Nurul sebagai salah satu senior Misykati yang mempunyai kontribusi besar bagi existensi nama Misykati diantara banyaknya almamater yang ada di mesir ini, dengan sederet prestasi yang berhasil ia raih. Tapi kehilangan itu tak sebanding dengan kebanggaan akan keberhasilan salah satu anggota sehingga bisa mengabdikan ilmunya untuk dibawa pulang kembali ke tanah air.

Ammu Sugeng Haryadi sebagai sesepuh Misykati pun ikut serta memberikan sedikit nasehat sebagai sangu yang beliau titipkan untuk menyertai saudara Nurul kembali ke Indonesia. Keharusan menghormati orang yang memberikan kita ilmu sesedikit apapun itu, menjadi titik poin pesan ammu Sugeng yang tak hanya khusus untuk Nurul, tapi untuk semua keluarga Misykati yang memang masih membutuhkan orang lain dalam mencari ilmu. “ilmu kita itu bukan punya kita, itu hanya titipan yang kita warisi dari ulama’ yang mengajarkan kita, jadi tidak ada alasan untuk menolak ketika orang lain membutuhkan kita untuk berbagi ilmu dengannya” lanjut ammu Sugeng menambahkan.

Sebelum acara ramah tamah digelar, Nurul Ikhsanuddin Lc. menyampaikan sambutan terakhirnya. Sebagai anggota Misykati, beliau merasa bangga menjadi bagian dari keluarga yang harmonis ini. Dengan sedikit flash back kenangan beliau bersama Misykati, suasana dingin Cairo berhasil menghangat karenanya. “selamat jalan mas Nurul.... dan selamat menjemput kesuksesan dimana pun sampean berada”. [nisa]

No comments:

Post a Comment