artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

“Misykatian Contribution for Masisir” Mengenal Lebih Dekat Misykati

Bisa jadi saya dibilang manusia yang tidak bercermin tatkala saya menulis risalah singkat ini. Tetapi driving motivation atau nawaitu yang mendorong saya menulis risalah ini adalah untuk perbaikan kita bersama.


Ya, misykati itu sejarahnya relatif panjang, alumni MAPK/MAKN MAN 1 Solo yang kebetulan  melakukan studi di bumi kinanah ini ardhul kinanah, kemudian membuat sebuah ikatan, sebagai wadah silaturahim yang fungsi utamanya saya kira untuk meningkatkan intelektualitas atau wawasan keilmuan para anggotanya. Dari namanya kan sudah bisa kelihatan, yang harus diunggulkan, yang sekiranya bisa dipamerkan, atau nilai jual kita supaya tetep bisa eksotik itu adalah di bidang intelektual atau keilmuan itu.

Jadi ibarat sebuah buku, ini misalnya saja, buku sepak bola upamanya, covernya atau sampulnya  berwujud bola, seseorang yang sedang menendang bola dan mengarahkannya ke arah gawang. Yang dimana semestinya isi dari buku tersebut tentang sepak bola, atau seputar sepak bola. Bukan malah berisikan tataboga ataupun tatarias. Kan gak lucu juga. Kalau bukunya covernya sepak bola ya isinya tentu juga tentang mengenai sepak bola. Jadi inilah misykati (Majelis Intensif Studi Yurisprudensi dan Kajian Pengetahuan Islam) yang mana organisasi almamater ini mengunggulkan dimensi keilmuan, kalaupun disana ada hal lain selain keilmuan dalam tanda petik intelektualitas, itu cuman efek samping aja. Akan tetapi hal yang paling sentral dan paling esensial ya saya kira tadi intelektualitas atau keilmuan, wawasan keilmuan.

Misykati itu dirasa dari tahun ke tahun mengalami kemajuan, dan kadang juga mengalami eclipse, sedikit gerhana, sedikit mengalami kemunduran, saya kira itu wajar wajar saja. Aset Misyakati itu kan patah tumbuh silih berganti, dalam arti anggota misykati, itu kan aset berharga Misykati, karena Misykati tanpa anggota, gak ada artinya, cuman papan nama doang. Para anggota Misykati itu sesungguhnya adalah aset berharga yang tetap harus kita rangkul, kita pelihara, untuk bersama-sama  meningkatkan itelektualitas intelektual power, wawasan keilmuan itu serta tetap berlomba-lomba dalam alur kebersamaan untuk achievement oriented dalam bahasa agamanya itu fastabiqul khairat .

Supaya Misykati itu kedepannya lebih bagus gitu, memang harus kita eja kembali niatan kita, niatan bagaimana Misykati awalnya itu ? Sesungguhnya Misykati itu kan untuk menunjang wawasan keilmuan, tapi rasa-rasanya kok agak belum cukup memuaskan, ya kita harus istilahnya itu what is to be done?

Seperti dahulu kala  katanya Misykati itu sebagai wadah silaturahmi, kita jadikan sebagai  wacana, wahana untuk kita sendiri dalam mengoptimalisasi peningkatan ruhiyah, serta pengembangan bakat dan intelektual, juga sebagai tempat kawah candra dimuka, tempat penyemayaman, tempat penggemblengan, penggodokan sumber daya manusia muslim baik melalui penggalian buku-buku turats maupun yang up to date. Itu mungkin idealnya, saya baca di blog misykati itu ya.

Nah seiring berjalannya waktu, dari tahun ke tahun itu sesungguhnya saya melihat bayak sekali media-media yang bisa merefleksikan identitas, kualitas, integritas dan juga komunitas Misykati di tengah arus Masisir. Jadi sekarang itu yang menjadi tantangan kita adalah bagaimana kita bisa eksis dengan bergabagai macam kegiatan yang kita punya, kita bisa hadir di tengah-tengah Masisir, pendek kata dengan identitas atau huwiyah Misykati. Caranya adalah dengan mengakomodasi semua potensi yang ada, yang mampu melahirkan pencapaian-pencapaian atau achievement dan ikut serta mengiklankan watak atau identitas karakter/karakteristik khusus Misykatian itu di kalangan Masisir maupun yang lebih jauh lagi.  Saya sendiri berharap jangan sampai Misykati itu mengalami degenerasi atau kemunduran atau kemerosotan generasi dengan berbagai macam indikasi-indikasi itu, salah satunya adalah makin tampak rusaknya sel-sel atau genetik Misykati itu, hilangnya karakteristik ras Misykatian, yaitu meningkatkan wawasan keilmuan dengan debit yang ada.

Ini maaf-maaf ya, selama tiga tahun terakhir ini, saya merasakan kalau sesungguhnya the misykatin contact, the misykatin constituents itu agaknya kurang mengakomodasi potensi anggota. Jadi kurang menseimbangkan, kurang memodifikasi potensi yang ada untuk beradaptasi, sama-sama mengembangkan art and heritage atau wawasan intelektual itu. Sehingga saya punya imajinasi gitu, Misykati itu bisa melakukan shedding process atau ganti kulit, dalam bahasa jawanya itu nglungsungi. Kalau ada ular ganti kulit, orang-orang jawa bilang: ee ulane lagi nglungsungi atau ganti kulit. Jadi kita melakukan proses nglungsungi, memodifikasi, me-layout Misyakati yang lebih bersifat kekinian dan bisa diterima oleh semua elemen anggota. Sesungguhnya kita itu selain dituntut untuk tetap melestarikan kegiatan-kegiatan Misyakati yang dulu-dulu itu, sebagai generasi yang come going, kita kalau bisa jangan hanya melestarikan saja, tetapi kita perlu membuat suatu sintesa-sintesa baru, kegiatan-kegiatan baru dengan corak dan ukiran yang baru atau kekinian, membuat karya-karya baru menggunakan media, baik blogger, facebook, youtube dan lain-lain, multimedia, sehingga lebih akrab dengan suasana zaman dan teknologi. Jadi kita membagun integritas, identitas, dan komunitas misykatian mampu beradaptasi dengan masa kekinian.

Yang harus kita siapkan adalah strategic planning, marketing strategy yang bagus, yang inovatif supaya dagangan kita bisa lebih eksotik untuk dijual dengan ditopang media yang sekarang sudah tidak terbatas, dengan adanya internet itu. Disamping kita harus menumbuhkan sikap altruisme social kita, semua pihak bersinergi, punya orientasi, lebih dekat kepada kebersamaan dan  gotong royong, saling tolong menolong, terjadi wisdom, dan kita berakar dari identitas asal kita.

Harapan saya kedepan supaya Misykati itu menjadi rumah kreatif bersama, yang dipenuhi dengan buku-buku, koran, majalah, makalah, permainan bola dan lain-lain, juga karya-karya inovatif lainnya dalam rangka memunculkan kantong-kantong prestasi atau dalam bahasa menterengnya eviefment enclave.

Akhir kata orang perancis bilang, du chocs des opinions jaillit la verite dan wasalam……
Al-faqir ilaa allah tabaraka wa ta’ala

Penulis : M.Thoriq Aziz
Editor  : Sitta A'la Arkham
Tulisan ke : 1

3 comments:

  1. Anonymous8:40 PM

    Ditunggu info-info terbaru melalui blog Misykati ini

    ReplyDelete
  2. Anonymous8:53 PM

    Nggak paham nih baca tulisan ini. Saya masih kurang intelek nih buat paham bahasa kaya gini,,,

    ReplyDelete
  3. Anonymous1:53 AM

    Wah yg nulis ini satu almamater sama vicky prasetyo ya? Kok bahasanya mirip...wkwkwk

    ReplyDelete