artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Misykati ="Keluarga"



Sense of belonging
, begitu bunyi kamus membahasakan istilah rasa memiliki. Sebuah rasa yang biasanya berpasangan dengan rasa kehilangan. Seperti yang Noe tulis dalam salah satu lirik lagunya yang berjudul Memiliki Kehilangan, berbunyi ”rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya”. Rasa kehilangan adalah sebuah resiko yang ditanggung oleh sebuah rasa memiliki. Tapi tidak menjadi sebuah penghalang untuk memulai memiliki rasa itu. Jadi, rasa memiliki terhadap apakah yang dibicarakan disini?

Dalam lingkup terkecil sebuah kehidupan manusia, keluarga menjadi bagian yang tidak bisa dihapus keberadaannya. Lantas, sebagai mahasiswa asing yang jauh dari keluarga masing-masing, siapakah pengganti sosok keluarga?. Almamater dimana menjadi tempat berkumpulnya mahasiswa yang berasal dari sekolah yang sama sebelumnya menjadi sosok yang bisa kita sebut keluarga. Karena teman se-almamater lah yang sebelumnya sudah kita kenal ketika pertama kali menginjakkan kaki di negeri asing ini.

Begitu juga dengan Misykati, ia bisa menjadi nama yang muncul ketika sosok keluarga ditanyakan dari Misykatian. Kebutuhan akan kebersamaan sebuah “keluarga” Misykati pun sudah tentu menjadi hal pokok yang diinginkan oleh semua Misykatian. Disinilah rasa memiliki itu berperan. Tidak hanya menjadi identitas yang bisa kita bawa ketika ditanya tergabung dalam almamater apa, tapi menjadi anggota yang ikut serta membuat Misykati bisa disebut sebagai keluarga yang harmonis. Sebegitu pentingkah Misykati untuk anggotanya?

Kalau masih ingat pelajaran IPS di jenjang Sekolah Dasar, ada 3 unsur lingkungan yang tidak bisa terlepas dari kehidupan manusia. Lingkungan keluarga, Sosial dan intelektual. Al Azhar yang menjadi tujuan utama pengembangan intelektual menjadi lingkungan pendidikan mahasiswa di Mesir ini. Walaupun pengetahuan tidak hanya bisa didapat melalui bangku kuliah, posisi Al Azhar tetap menjadi sentral pengembangan intelektual yang tidak bisa disisihkan. 

Lingkungan selanjutnya adalah lingkungan sosial. Lingkungan dimana seseorang itu tinggal dan berbaur dengan manusia lain, dengan karakter yang beragam bahkan mungkin berasal dari back ground keluarga yang beragam. Di lingkungan inilah kecerdasan sosial seseorang bisa dilatih. Dalam kondisi kita, kekeluargaan bisa menjadi lahan kecerdasan sosial kita berkembang. Melebur dalam satu wadah kekeluargaan yang tidak semua memiliki back ground yang sama. Faktor terpenting yaitu keluarga, dalam hal ini Misykati. 

Tidak hanya menjadi tempat perlindungan, keluarga lah dimana pendidikan awal seorang manusia terbekali. Keluarga menjadi tempat pertama sebelum seseorang membuka pintu dunia luar yang lebih menantang. Secara otomatis menjadi tempat persiapan untuk bisa melangkah ke dunia yang lebih beragam masalahnya. Keluarga pun menjadi singgahan terakhir ketika lelah akan dunia luar mulai menyurutkan semangat berjuang. Yup, itulah peran keluarga yang hampir setiap insan membutuhkannya.

Disinilah kita sekarang, dalam sebuah satuan keluarga yang kita sebut Misykati. Nama yang kita kenal pertama kali sebelum bertemu dengan komunitas yang lain. Nama yang juga akan terakhir kita singgahi ketika jatah hidup kita di Mesir mencapai masa kadaluarsanya. Terlepas dari masih berjaya kah Misykati sekarang di tengah komunitas-komunitas baru Masisir, Misykati tetap menjadi keluarga yang tidak bisa kita sisihkan kepentingannya. Menjadi almamater terbaik atau tidak, menjadi tanggung jawab semua anggota misykatian untuk memilih dan menentukan sikap. Masih mau Misykati hanya menjadi rumah kosong tanpa penghuni? Atau bahkan membiarkannya hanya menjadi sejarah masa lalu?.

Penulis : Annisa Fadhila
Editor   : -
Tulisan ke : 4

No comments:

Post a Comment