artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Bunga Bank: Tinjauan Hukum Islam

Resensi
Hukum bunga bank sejak dahulu sudah menjadi perdebatan di kalangan ulama dan cendikiawan muslim. Dalam perdebatan tersebut muncul tiga pendapat yang saling berbeda satu sama lain. 

Di antara mereka ada yang memandangnya haram, ada yang memandangnya syubhat, dan ada pula yang memandangnya mubah. Perbedaan pendapat tersebut muncul disebabkan oleh perbedaan metode dan analogi hukum yang digunakan. Misalnya, apakah bunga bank itu identik dengan riba?

Sebelum diuraikan lebih jauh mengenai hukum bunga bank, terlebih dahulu kita pahami apa yang dimaksud dengan riba. Riba ialah tambahan dari modal. Maksudnya, suatu transaksi yang dilakukan oleh dua orang -baik dalam keadaan tunai maupun pinjaman- dengan ketentuan bahwa salah seorang di antaranya memperoleh tambahan dari modal utama pada saat transaksi. Pada garis besarnya, riba terbagi atas dua macam, yaitu 1) riba nasi'ah, dan 2) riba fadhl.


1) Riba nasi'ah ialah riba yang diharamkan di dalam Al-Qur'an, yaitu bentuk riba yang berlaku pada zaman Jahiliyah, dengan kelebihan pembayaran yang ditentukan atau diharuskan kepada orang berutang sebagai imbalan dari tenggat waktu yang diberikan.

Larangan riba semacam ini didasarkan atas firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah/2: 275 yang menyatakan:

"Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan sepertinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata, sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba."

2) Riba fadhl ialah riba yang dilarang dalam Al-Sunnah, yakni bentuk riba yang berkaitan dengan jual beli dengan ketentuan kelebihan yang diperoleh dalam tukar-menular barang yang sejenis, seperti emas, dengan emas, gandum dengan gandum, dan lain-lain yang berkaitan dengan tolak ukur, misalnya timbangan. Larangan riba seperti ini didasarkan atas Hadits Nabi SAW yang menyatakan:

"Janganlah engkau menjual emas dengan emas, melainkan dengan harga yang sama, dan janganlah menambah sebagian atas bahagian yang lain; jangan (pula) engkau menjual perak daengan perak, kecuali dengan harga yang sama, dan janganlah engkau melebihkan sebagian atas sebagian yang lain; serta jangan engkau menjual barang yang ada di tempat dengan barang yang gaib." (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa'id al-Khudri).

Setelah diuraikan pengertian riba dan macam-macamnya, timbul masalah, apakah bung bank dapat dikategorikan riba atau bukan? Untuk memecahkan masalah ini terlebih dahulu harus ditelusuri bunga bank itu sendiri.

Bank, dalam mekanisme kerjanya, memberikan bunga (tambahan) kepada orang yang menyimpan uangnya, sebaliknya bank juga memungut bunga terhadap nasabahnya. Maksud dari pemberian dan pemungutan bunga tersebut adalah sebagai imbalan atas beroperasinya uang yang diambil atau disimpan itu. Besarnya bunga tersebut biasanya sekitar 1-2,5% dari modal pokok setiap bulannya. Karena adanya tambahan tersebut, maka sebahagian ulama menganalogikan bunga bank dengan riba.

Muhammad Ali As-Shabuni, misalnya, menganggap bunga bank sebagai riba nasi'ah, sebagaimana riba yang berlaku di zaman Jahiliyah. Ulama ini lebih jauh menyatakan bahwa riba nasi'ah adalah semacam riba yang diperlakukan zaman sekarang di bank-bank umum (konvensional), yakni dengan adanya tambahan-tambahan tertentu yang harus dibayar, seperti 5-10% dalam peminjaman uang, baik secara berserikat maupun secara individu. Keadaan seperti ini telah berlangsung lama pada semua bank konvensional.

Perbedaan pandangan ulama di atas maka dengan pertimbangan menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang haram, para ahli perbankan Islam telah memikirkan untuk mendirikan bank-bank yang berorientasi pada pelaksaan hukum syari'at. Hal ini dimaksudkan untuk pengembangan dan pengelolaan keuangan umat Islam secara lebih sehat.

Pemikiran dan pertimbangan itu menghasilkan sebuah aksi nyata, yaitu dengan didirikannya bank-bank syari'ah. Tujuan utama pendirian bank-bank seperti ini ialah agar umat Islam terhindar dari melakukan perbuatan yang haram, seperti peminjaman uang di bank yang dipandang haram menurut hukum Islam. Dari pertimbangan itu, didirikanlah bank-bank syari'at, seperti Bank Syari'ah Mandiri.

Bank-bank konvensional selama ini menjadi tempat untuk melakukan transaksi keuangan bagi seluruh komponen masyarakat dan pelaku ekonominya, baik yang muslim dan non muslim. Seakan-akan, semua proses yang dilakukan selama ini, dipandang boleh-boleh saja. Seakan-akan, semua ini berjalan secara tidak terelakkan lagi dari unsur riba yang diharamkan itu. Kegiatan seperti ini telah berlangsung lama. Ini berarti bahwa masyarakat Muslim -jika kita berpegang pada pandangan ulama yang mengharamkan bunga bank- telah melakukan perbuatan yang diharamkan.

Pada masa kini, sudah didirikan cukup banyak bank syari'ah yang berusaha melakukan transaksi keuangan yang sesuai dengan tuntunan Islam. Bahkan, dalam waktu-waktu mendatang ini akan banyak bagi bank-bank syari'ah yang bermunculan. Persoalan yang muncul ialah apakah dengan adanya bank-bank syari'ah itu, umat Islam yang melakukan transaksi keuangan -dengan dalih agar terhindar dari perbuatan hsram yang dilakukan selama ini- sudah harus beralih ke bank-bank syari'ah?

Jawabannya adalah kita seharusnya sudah beralih ke bank syari'ah. Fasilitas dan sarana yang disiapkan oleh bank-bank syari'ah hingga saat ini sudah cukup memadai untuk melakukan berbagai transaksi keuangan yang sesuai dengan tuntutan syariat Islam tersebut.

Kalau pada masa dahulu kita melakukan transaksi keuangan di bank-bank konvensional tanpa melihat dan menyadari adanya unsur riba di dalamnya dan mengikuti pandangan ulama yang membolehkan, maka hal itu karena tidak ada jalan keluar yang lain yang dapat digunakan untuk melakukan transaksi.

Tetapi, faktanya bahwa kini sudah ada jalan keluar yang dapat ditempuh agar terhindar dari unsur-unsur riba itu. Adanya bank-bank syari'ah di berbagai kota di Tanah Air, siap sedia melakukan transaksi-transaksi yang sesuai dengan tuntunan syari'ah dan jauh dari unsur riba, maka tidak ada alasan untuk tidak menggunakannya.

Kehadiran bank-bank syari'ah ini sangat dinanti-nantikan oleh masyarakat Islam. Tetapi, seiring dengan kedatangannya itu, perlu dilengkapi dengan sarana dan fasilitas administratif yang lebih lengkap dan manajemen yang lebih profesional, sehingga keberadaannya menjadi sangat bermanfaat dan sngat membantu umat dlam melakukan transaksi-transaksi yang sesuai dengan tuntunan syari'ah.

Jumlah bunga yang dipungut dan diberikan oleh bank kepada nasabah jauh lebih kecil dibandingkan dengan riba yang diperlakukan di zaman Jahiliyah. Pemungut riba pada masa itu memperoleh keuntungan besar, sementara peminjamnya selalu tercekik dengan utang dan tidak mampu membayarnya. Pemungutan bunga bank tidak kan membuat bank itu sendiri atau nasabahnya memperoleh keutungan besar. Sebaliknya, bank atau nasabah tidak merasa dirugikan atas adanya pemberian bunga bank tersebut.

Perlu diperhatikan bahwa tujuan pengembalian kredit dari debitur pada zaman Jahiliyah ialah untuk tujuan konsumtif, sehingga mereka harus menderita bila tenggat waktu pembayaran telah tiba. Sementra kreditur belum mempunyai uang. Dalam keadaan demikian, dilipatgandakanlah rentenya sebagai akibat dari keterlambatan pembayaran.

Itulah sebabnya, Allah SWT melaknat perbuatan semacam itu dan mengharamkannya. Karena, debitur pada saat itu tidak berperikemanusiaan. Berbeda dengan kenyataan sekarang, tujuan peminjaman uang di bank adalah untuk tujuan produktif, bukan konsumtif, sehingga para kreditur tidak akan merasa tertolong dan beruntung atas adanya jasa bank untuk mengembangkan usahanya itu.

Salah satu kebolehan jual-beli dalaha adanya kerelaan kedua pihak dalam transaksi, yakni penjual dan pembeli merasa beruntung. Demikian halnya dengan bunga bank. Kedua belah pihak (bank dan nasabah) merasa beruntung. Maka, tidak masuk akal kalau bunga bank diharamkan.

Sebab, meskipun diidentikkan dengan riba, tetapi tujuan dan metode pelaksaannya jauh berbeda dari apa yang pernah dipraktikkan pada masa Jahiliyah. Proses kerja riba yang diharamkan di dalam Al-Qur'an dengan bunga bank adalah dua metode yang berbeda secara substansial. Bunga bank jauh lebih tepat dianalogikan dengan jual-beli yang didasarkan atas suka sama suka ('an taradliy-kerelaan masing-masing pihak).

Referensi: " HUKUM ISLAM & Pluralitas Sosial " Karya Prof. Dr. Said Agil Husin Al-Munawar, MA halaman 67-72.


Penulis  : Diambil dengan izin dari catatan فيصل عقيل المنور 
Editor   : -
Tulisan  : 14

No comments:

Post a Comment