artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Belajar Syiah dan Kehidupan dalam Penjara Kairo



Kairo-- (8/4) Kajian Selasa sore Misykati telah memasuki pekan ke-9, Ikfil Chasan selaku pemateri membahas mengenai masalah Syiah. Masalah yang beberapa waktu lalu sempat membuat Indonesia memanas karena kasus Syiah di Madura.

Dalam pemaparannya, Ikfil menjelaskan mengenai perkembangan Syiah, dan itu menurutnya ada 3 versi. Pertama, Sejak zaman Nabi Muhammad SAW, terlihat dengan sering disanjungnya Ali bin Abi Thalib akan kelebihan-kelebihannya. Ali adalah gerbangnya ilmu, Ali adalah manidatul ilmu dsb. Kedua, Setelah Nabi wafat, dijelaskan seharusnya yang berhak menggantikan Nabi menjadi khalifah ialah sahabat Ali bukan Abu Bakar karena Ali merupakan ahlu bait. Ketiga, Setelah masa tahkim, dimana ketika itu Ali yang menggantikan kekhalifahan Ustman bin Afwan digantikan oleh Muawiyah, hal ini yang menjadi pemicu munculnya syiah.

Tidak hanya itu saja, Ikfil juga menyinggung mengenai masalah Syiah yang berkembang di Indonesia terutama Syiah yang ada di Sampang Madura.

“Syiah yang ada di Madura kenapa sesat? Hal ini dikarenakan ajarannya telah menyimpang jauh dengan ajaran syiah-syiah yang lain, bahkan di Iran sekalipun tidak ada ajaran seperti yang di Madura” ujar Ikfil mengutip perkataan Prof. Dr. Amani Lubis

Dalam kajian kali ini juga diselenggarakan “konferensi pers” oleh seorang Misykatian atas musibah yang menimpanya. Yang mana sebelumnya M. Ulul Albab menjadi tahanan sementara pihak kepolisian Kairo karena kasus sepele “memotret jalanan yang ada dikompleks kepolisian Darasah”


“Jadi kronologinya, waktu itu saya memfoto jalanan yang ada disekitar kompleks kepolisian, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri dan mengajak masuk ke kantor untuk menjelaskan apa yang telah saya foto” ujar M. Ulul Albab

Memang sekarang ini keadaan Mesir masih kurang stabil dalam hal keamanannya, keamanan disekitar terminal ditingkatan, bergerombol ditempat umumpun dilarang karena ditakutkan memprovokasi aksi unjuk rasa.

Selama 4 hari didalam penjara Ulul mendapati hal-hal menarik, seperti bebas dari pemeriksaan, berbagi makanan sesama penghuni penjara, dimintai doa, dsb.

“Waktu itu ada tamam (istilah pemeriksaan) mendadak dari polisi, semua barang-barang elektronik seperti HP,charge disita oleh polisi, tapi HP saya tidak kesita hingga ada penghuni yang bilang wah kamu ini mafia ya, masak yang lain kesita kamu tidak, mana mungkin ini bisa terjadi kalau kamu bukan mafia?” paparnya sembari terkekeh

Dia juga memberi tips jika berhubungan dengan pihak berwajib untuk berhati-hati tidak cepat menandatangani mahdhor (surat keterangan) sebelum paham benar isi tuntutan dalam mahdhor tersebut, karena bisa menyebabkan proses pemeriksaan menjadi lama. [6]

Penulis : Sitta A'la Arkham
Editor   : Ahmad Musabiq Habibie
Tulisan : 24

No comments:

Post a Comment