artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Yang Terkadang Mengajari Kita

Seorang gadis Rusia keluar dari dapur umum asrama tempat kami tinggal, Madinatul Bu’uts, asrama para pelajar asing yang dikirim negara masing-masing untuk belajar di Universitas Al-Azhar, Mesir. Di tanganya setumpuk ayam potong terlihat menggiurkan. Sudah menjadi kebiasaan kami untuk mengambil jatah makan secara berkelompok. Hari itu, ia barangkali mendapat jatah mengambil makan kelompoknya.

Dapur umum terletak di lobi gedung nomor pertama dari lima gedung yang ada di kawasan asrama khusus putri ini, dan kamar gadis itu terdapat di gedung nomor empat. Artinya, ia harus berjalan melewati dua gedung hingga sampai di kamarnya.

Yang hendak diceritakan, bukan tentang sejauh mana gadis itu berjalan dengan ayam-ayam yang dibawanya. Namun tentang dua kucing yang siap menyatroninya tepat di depan pintu dapur itu. Dengan kedua tangan yang  terisi penuh oleh potongan-potongan ayam dan se-thobaq nasi, gadis itu jelas sulit menghindar.

Ia hanya sesekali menghentikan langkahnya agar kedua kucing itu ikut berhenti menggelayuti kakinya. Namun ketika ia kembali berjalan, kedua kucing tersebut secara kompak akan kembali membuntuti. Lima kali sudah gadis Rusia itu memberhentikan langkahnya sementara, namun para kucing tetap kompak untuk kembali mengejarnya.

Di pemberhentian yang ke-enam, si Rusia menatap kedua kucing itu lekat, ia kemudian menggerakan tanganya dengan cepat, pura-pura menjatuhkan potongan ayam untuk salah satu kucing yang ada. Niatnya satu kucing saja ia kelabui, namun kucing ke-dua ternyata masuk dalam jerat. Ia menyerang kucing pertama yang sedang mencari-cari potongan ayam bayangan tadi, dan selanjutnya terjadi pertarungan hebat antara kedua kucing itu. Kucing bodoh, pikirku.

Ilustrasi oleh Pandu Aditya

Gadis Rusia tadi langsung melenggang dengan tenang menuju kamarnya, tak tertarik dengan pertunjukan gelut dua kucing yang amat dahsyat yang telah ia sebabkan. Kedua kucing tadi jua telah lupa dengan tujuan mereka mengejar potongan-potongan ayam itu. Sekarang mereka sibuk bertengkar dan membiarkan si juragan yang membawa sumber makanan mereka menghilang.

Pertunjukan tadi, jika dilihat dengan mata dan perasaan yang tak telanjang, barangkali akan membawa kita pada sebuah kesadaran tentang keadaan umat saat ini.

Untuk mencapai sebuah tujuan, nyatanya kita membutuhkan persatuan yang kuat, solid dan sistematis. Dua kucing penyatron tadi, sama-sama punya tujuan untuk mendapatkan potongan ayam yang ada di tangan seorang gadis Rusia. Saat mereka bekerjasama untuk mengejarnya, si gadis Rusia bahkan hampir tak bisa berbuat apa-apa. Mereka -kedua kucing itu- berbagi tugas untuk menghentikan langkahnya dari sisi kiri dan kanan.

Namun, ketika salah satu dibohongi dengan lemparan potongan ayam bayangan, yang lainya bukan melanjutkan perjuangan mengejar si pembawa ayam. Yang terjadi adalah si kucing yang satu justru memusatkan perhatian pada temanya yang “seakan-akan” diberi jatah. Dan karena keduanya tak mendapatkan apa-apa, maka yang terjadi selanjutnya adalah bertarung. Pertengkaran khas para kucing yang bising. Lalu ketika hanyut dalam pertengkaran, mereka lupa dengan tujuan, yang menyebabkan mereka tak mendapat apa-apa. Pada akhirnya, si gadis Rusia-lah satu-satunya yang merasa senang karena menang.

Dan begitulah apa yang terjadi pada kita. Tak ada lagi persatuan umat yang membuat kita kuat. Kita hanya seperti dua kucing tadi, saling berbeda dan curiga. Setelah terbiasa berbeda dan saling curiga, ternyata lama-lama kita juga terbiasa bertengkar. Menyerang satu sama lain atas nama golongan, perbedaan mazhab, perbedaan prinsip dan banyak lagi alasan. Padahal yang ada dan kasat mata adalah perbedaan kepentingan.

Berbeda-pun sejatinya adalah hal yang biasa, bahkan ia adalah fitrah,
ولو شاء ربك لجعل الناس أمة واحدة ولا يزالون مختلفين إلا من رحم ربك
“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat), kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu.”

Namun jika perbedaan itu dibumbui dengan kebiasaan saling curiga dan bertengkar, itu hanya akan membuat kita lemah dan cepat hancur. Dan yang kemudian akan merasa senang dan menang seperti si gadis Rusia pembawa ayam dalam cerita hanyalah satu, musuh Islam yang selalu mendamba kehancuran kita.

Itulah kesadaran yang timbul setelah menyaksikan alam yang terkadang mengajari kita, untuk tidak menjadikan persatuan umat hanya sebatas tema yang laku diangkat di majalah-majalah dan media, namun kosong aplikasi. Membiasakan saling bersatu meski dalam perbedaan dan dalam hal yang paling sederhana kiranya jauh lebih penting. Agar keberadaan kita sebagai umat pembawa rahmat lebih nyata di dunia, dan agar pihak yang tak suka dengan Islam tidak dengan senangnya melenggang di atas keributan kita sambil berkata: umat bodoh.

Hewan, tumbuhan bahkan angin yang bertiup, adalah alam yang terkadang mengajari kita. Jika kita mebacanya dengan mata yang tak kasat, ada sejuta pelajaran yang mampu kita simak.[]



Penulis : Isti'anah Jawharatul Ummah
Editor   : Ulul Bahagia

No comments:

Post a Comment