artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Dunia yang Hilang


Ilustrasi oleh Pandu Dewanata

Melodi rindu dalam hatinya bergetar hebat. Meski yang diinjaknya kini adalah dunia penuh peradaban, tak ubahnya berkunjung ke negeri lain dalam dimensi yang sama saja. Tetap hampa. Ditatapnya air car yang melaju kencang di depan. Hanya tatapan biasa. Tak seperti kali pertama ia saksikan keajaiban teknologi itu beberapa hari lalu, takjub. Dimulai saat ia dan seorang sahabat klub diskusi ilmiah pimpinannya bereksperimen asal-asalan di laborat. Memakai teori mesin waktu John Titor yang berisi sistem dasar berupa magnetic housing units for dual microsignularities, electron injection manifold to alter mass and gravity of microsingularities, cooling and x-ray venting system, gravity sensors (VGL system), main clocks, dan main computer units, mereka ternyata berhasil membuka black hole meski hanya sekejab. Dan hasilnya, ia beserta temannya terlempar 100 tahun ke depan. Ke sebuah masa dengan rentang jarak yang lumayan, seabad.

Sebagai seorang yang berotak ilmiah, Ardi jelas terpana menyaksikan kemajuan teknologi masa itu. Mobil berjalan di udara, gedung-gedung bertingkat ratusan bahkan ribuan, jembatan-jembatan antar gedung, semua serba elektronik. Koki elektronik, pelayan toko elektronik, bahkan polisi juga. Tapi semuanya kini bagai sampah di hadapan Ardi. Walau disambut baik oleh presiden tanpa dianggap warga asing, ditempatkan dalam istana keluarga presiden dengan fasilitas tak terbayangkan wah-nya, Ardi merasa ini tetaplah bukan dunianya. Ia tak seharusnya berada di sana.

“Tak usah dipikirkan! Kajian akan terus berjalan meski nggak ada kita kok! Buletin Science juga masih punya kru yang bisa diandalkan!” saran Bagas, teman yang juga terdampar bersamanya.

Keduanya yang kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di Bandung, mau tak mau meninggalkan dunia kampus. Menghilang. Ardi, seorang pemimpin buletin kampus yang sekaligus ketua kelompok diskusi ilmiah, rupanya mengkhawatirkan kelanjutan apa yang jadi tanggung jawabnya itu. Sebuah tanggung jawab yang pastinya akan dipertanyakan di kehidupan nanti. Heran, bagaimana bisa ia begitu khawatir. Padahal ia mulai percaya adanya kehidupan sesudah mati juga baru beberapa bulan terakhir. Selama ini ia santai saja. Sebab sedari dulu ia didoktrin dengan teori bahwa setiap yang beriman pasti akan masuk surga dengan pengorbanan Yesus.

Ia yang lahir dari keluarga kristen protestan taat tak punya pilihan selain menganut agama yang sama. Tak ada masalah dengan itu selagi ia masih bisa konsen mengotak-atik mesin-mesin dan teori ilmiah yang disukai. Baru setelah ia menyadari ada sesuatu yang salah dengan jantungnya dua bulan lalu, ia jadi lebih sering merenung. Dua dari empat katup jantungnya bermasalah. Dokter memvonisnya dengan jatah waktu dua tahun untuk hidup. Dan hebatnya, tak seorang pun tahu hal itu selain dirinya dan dokter, termasuk keluarga dan teman-temannya. Hanya satu yang tahu penyakitnya, itupun kebetulan. Arin, gadis berjilbab yang menjadi krunya di buletin Science. Gadis itu sempat melihat Ardi kesakitan di taman. Melihat wajah polos Arin yang penuh tanda tanya, Ardi terpaksa berterus terang. Dari Arin pulalah, Ardi sedikit demi sedikit mengenal Islam. Baru sedikit. Rencananya ia ingin lebih dalam lagi. Tapi waktu melemparnya kemari.

Tiba-tiba saja bayangan gadis itu muncul di benaknya. Wajah yang penuh kehangatan.

*****
“Kemana anak itu? Ditelepon ke nomor yang ini, mati. Yang itu, juga mati!” cerocos Bela, anggota klub ilmiah yang terkenal dekat dengan Ardi.
“Iya! Tahu nggak sih kita kelimpungan ngurusin buletin sama kajian!” sahut Priska, anggota lain.
“Aku juga udah telepon keluarganya. Katanya dia tak pernah pulang! Bagas juga! Mereka berdua seakan lenyap ditelan bumi!" lanjut Pramono, teman Ardi dan Bagas.
“Kira-kira kemana? Ada yang tahu?” Bela menatap teman-temannya dengan raut serius. Mereka tahu seperti apa perasaan Bela ke Ardi. Bagaimana dia tak gelisah bila yang dipuja menghilang begini. Teman-teman yang lain menggeleng. Terakhir mereka lihat Ardi dua minggu lalu. Satu suara.
“Apapun itu… dia harus kita temukan! Aku akan menghubungi teman-temannya yang lain, Pramono! Kamu hubungi polisi minta bantuan!” perintah Bela berlaku jadi pemimpin.
Di bangku belakang, Arin hanya mendesah. Ia ingin sekali membantu mencari Ardi, tapi ia merasa bukan apa-apa. Hanya kebetulan salah seorang kru buletin Science saja. Ada perasaan was-was dalam hati Arin. Ia tahu penyakit Ardi. Jangan-jangan… Ahh!  Tidak! Langsung ditepisnya dugaan buruk itu.
“Semoga Allah melindungimu…!” doa Arin dalam hati.

***** 
Dengan air car, Ardi terbang melintasi gedung-gedung pencakar langit. Tak ada batas teritorial. Bebas saja ia terbang sejauh-jauhnya. Karena memang yang ada masa itu hanya satu kuasa. Dunia dipegang satu tangan raksasa, Pemerintahan God of the New World. Presiden untungnya baik pada Ardi dan juga Bagas. Keduanya dimanja. Diperbolehkan melakukan apapun dalam istana. Apapun! Termasuk menempati kamar keluarga presiden. Hanya satu yang dilarang dari mereka, turun ke bawah dan berjalan-jalan dengan kaki. Alasannya, hal itu akan mengotori kaki. Namun, Ardi yang kritis tak bisa menerima alasan konyol seperti itu. Meski tak bisa menebak kemana arah kebijakan presiden terkait keduanya sebagai makhluk transferan, tapi ia telah mencium bau tak sedap bersembunyi dalam manisnya tutur kata beliau.

Hingga siang itu, Ardi nekad.

“Jangan Ar! Nanti kita diusir dari dunia ini!’ seru Bagas melarang Ardi melangkahkan kaki menapak tanah.

Dingin. Begitulah yang dirasa Ardi. Lantai di bawah kakinya lembab. Tak ada tanah yang tersisa di sana. Semua telah terlapisi oleh bahan-bahan. Ardi melangkah lebih lanjut. Menuju kemana ia tak tahu. Jalan-jalan. Keluar dari istana yang dianggapnya sumpek. Ia ingin pulang.

“Kalau nggak mau ikut, pulang sana sendiri! Aku ingin mencari jalan pulang!" bentak Ardi. Bagas ciut. Ia memberanikan diri mengikuti langkah Ardi.

Keduanya menuju lantai dasar sebuah gedung. Sesuatu yang sama sekali tak pernah mereka lakukan sebelumnya. Entah mengapa gedung-gedung di sana selalu dimulai dari lantai lima ke atas. Dulu mereka sempat bertanya-tanya kenapa. Sekarang mereka sudah tahu jawabannya. Dingin!

Mereka tak menyangka apa yang akan ditemuinya di sana.
"Dor! Dooor!.” peluru berlapis hampir saja mengenai Ardi jika seseorang tidak menolongnya. Mengajaknya berguling-guling. Seorang lagi menolong Bagas. Bergegas, kempat orang itu lari. Menghindari tembakan. Ardi dan Bagas yang tak tahu menahu, naluriah mengikuti kedua orang yang telah menyelamatkan mereka. Jantung keduanya berdegup kencang. Ardi mulai sesak. Jantungnya tak sehat lagi. Dalam pelarian, ia ambruk.

*****
“Alhamdulillah…! Dia sudah siuman, Bi…!” ujar seorang gadis berjilbab yang menunggui di sampingnya.
Yang dipanggil Abi menoleh ke arahnya.
“Alhamdulillah. Katub jantungmu sudah kami perbaiki. Nak… Insya Allah, kau akan hidup normal lagi.” lanjut laki-laki paruh baya itu.

Ardi melongo. Ilmu kedokteran pada masanya saja tak bisa menyembuhkan satu katub yang bermasalah. Dan sekarang? Ia hanya bisa geleng-geleng kepala.

Diamatinya sekeliling. Satu ruangan luas yang bersih. Bernuansa Islami. Di sudut-sudut ruangan ada tempelan gambar yang ia tahu sebagai kaligrafi. Ia terhenyak. Tak pernah sekalipun ia menyaksikan hal semacam ini di dunia baru. Tapi otaknya bergerak cepat. Tebakannya mengarah ke satu jawaban. Ia merasakan hawa yang sama sekali berbeda dengan yang dirasakannya di istana. Dingin. Dan itu berarti, di bawah tanah.

“Dimana aku?” tanya Ardi bangkit dari baringan.
“Di dunia yang hilang.” ceplos gadis yang tadi menunggui Ardi.
Dahi Ardi berkerut. Laki-laki berjenggot putih tertawa seraya mengangguk-angguk. Menyepakati kata-kata putrinya.
“Dunia yang hilang dari sebuah peradaban modern, Nak…!” terang laki-laki itu kemudian.
“Kau pasti dari dimensi waktu yang telah lalu?"
Ardi mengangguk.
“Aku tidak tahu pasti kau Islam atau tidak, tapi dari wajahmu yang teduh, aku merasa kau bagian dari kami, Nak! Lalu tindakanmu yang berani menentang presiden membuktikan hal itu.”
"Sudah kau lihat dunia di atas sana? Bagaimana menurutmu?" sambil mengelus-elus jenggotnya laki-laki tadi mendekat.
"Kemajuan teknologi yang pesat. Kehidupan yang serba simpel. Fasilitas umum yang lengkap. Segala kebutuhan hidup yang terpenuhi!”
“Tak berpikirkah kau akan kebutuhan ruhani mereka, Nak?” lembut suaranya bergetar.
Ardi terdiam. Ia saat ini juga sedang krisis keyakinan.
“Kami umat Islam tak mendapat bagian hidup di atas sana. Kami pun lari ke bawah, mendirikan benteng di bawah tanah. Karena kami tahu, mereka anti pada hawa dingin. Kami membekali diri kami dengan obat penghangat badan yang juga kami suntikkan ke tubuhmu tadi!”
Ardi tak banyak bicara. Ia jadi teringat akan semua nasihat Arin. Akan adzab kubur dan neraka. Akan cerita-ceritanya yang membuat Ardi begitu terpikat pada Islam.
“Pak…”
“Panggil saja aku Pak Hasan! Ini anakku Meimunah!"
‘Tolong bimbing aku mengucap kalimah syahadah!"
Pak Hasan dan gadis tadi terkaget. "Kau bukan muslim?"
Ardi tersenyum.
Bagas yang barusan datang berseru gembira Ardi menyusulnya. Dua jam yang lalu, ia telah melaksanakan prosesi yang sama di tempat yang berbeda.

*****
Ngiung, ngiung, ngiung…
Alarm tanda bahaya berkumandang. Markas pengobatan dunia yang hilang telah diketahui letaknya oleh polisi-polisi New World. Sekitar dua puluhan orang di dalamnya tengah bersiap-siap bertempur melindungi wanita dan anak-anak yang dalam proses pengevakuasian ke markas lain.

“Nak… dalam markas ini, aku sudah menyiapkan sebuah mesin untukmu dan temanmu! Kalian berdua tidak cocok berada di sini! Ini bukan dunia kalian!” Pak Hasan memaksa.
“Kami ingin berjihad, Pak!” tegas Ardi. Meski hati kecilnya menjerit rindu ingin kembali pulang.
“Jangan lupakan kewajibanmu! Jihad saja di duniamu dengan memenuhi tanggung jawab yang sebenarnya! Berjihadlah dengan agama barumu nanti!” nasihat Pak Hasan begitu mengena. Ardi terdiam. Matanya berkaca-kaca.
“Islam tak akan pernah padam di muka bumi! Percayalah! Sekarang masuklah ke mesin itu! Kami akan baik-baik saja!”
“Tapi…!” Bagas pun menolak.
“Ayo masuk Bagas!” seru Ardi. “Aku percaya pada kata-kata Pak Hasan!”

Dengan berat hati keduanya masuk. Pak Hasan terlihat memencet-mencet tombol. Mesin itu bergetar hebat. Sebuah portal hitam terbentuk. Bagas masuk duluan. Ardi menyusul, ia sempat menoleh ke belakang saat darah muncrat dari pelipis Pak Hasan. Ia juga mendengar teriakan Allâhu Akbar yang keluar dari mulut beliau.

No comments:

Post a Comment