artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Sebelum Pulang, Misykatian Antar Djazam Muncak Sinai

Misykatian berpose dengan Mas Djazam
Setelah melewati periode paling dibenci oleh para jomblo mahasiswa, yaitu di-php-in ujian, para Misykatian mencoba melepas penat dengan berlibur ke puncak Sinai sekaligus dalam rangka menghibur anggota Misykati tercinta, Mas Djazam Asfari, yang akan meninggalkan teman-teman dan seluruh gebetannya kenangannya selama di Kairo.

Jam 09.00 clt armada kami meluncur dari KSW menuju TKP. Dalam perjalanan yang kami tempuh dalam sehari semalam, kami melewati kawasan perbukitan, sawah, gurun, dan laut yang dekat dengan terusan Suez. Momen ini secara tidak langsung mengingatkan kami pada Tanah Air tercinta, terutama bagi Mas Djazam yang dalam pengakuannya: Di tengah lautlah saya nembak pacar pertama saya.


Mas Djazam sembunyikan duka dengan senyuman

Sebelum sampai di gunung Sinai, kami mampir sejenak di Uyun Musa. Tempat yang di dalamya terdapat sumur mata air yang digunakan rombongan Nabi Musa dahulu kala sebelum kerajaan api menyerang untuk menghilangkan dahaga pascakejaran Fir’aun. Uyun Musa merupakan batu yang telah dipecahkan Nabi Musa dengan tongkatnya, lantas terpancarlah 12 mata air yang diperuntukkan kepada kaum Nabi Musa untuk melepas dahaga. Tentu kami tak ingin menyia-nyiakan tempat sakral tersebut, maka kami mengabadikannya melalui ritual pemotretan, selfie dan ritual-ritual bid’ah lainnya. Bahkan tak jarang para jomblo—termasuk Mas Djazam--terlihat sedang  berdoa untuk lekas dilepaskan dari jeratan statusnya. Sampai detik ini meskipun di dalamnya sudah kering tak berair, sumur yang dikatakan sebagai sumber mata air tersebut masih terjaga dengan baik. Setelah puas mengelilingi sumur Nabi Musa, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju TKP.


Mas Djazam luruh dalam kenangan
Jam 24.00 clt kami sampai di kaki Gunung Sinai. Rehat sejenak, lalu jam 01.30 dini hari, perjalanan kami menuju puncak Gunung Sinai dimulai.

Dalam pendakian, kami tak ingin menggunakan cara pragmatis,  dengan menyewa kambing jantan atau brontosaurus onta  misalnya, tapi kami lebih memilih lari ke hutan belok ke pantai jalan kaki sebagai perwujudan dari sikap berani seorang jones ksatria yang rela jungkir balik demi mendapatkan gebetan cita-citanya. Sikap berani tersebut tak lain kami peroleh dari pembacaan kami terhadap Bung Pram, dan sepertinya cocok sebagai bekal buat Mas Djazam sebelum pulang.

Kalau mencintai dengan berani, kalau membenci dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap orang asing bisa jajah kekasih kita.

Lalu, dengan berbekal beberapa buah senter, gebetan Gunung Sinai pun kami taklukan sebelum matahari terbit.

Di puncak, kami dapati sebuah gereja ortodoks dipenuhi  para jamaah sedang berdoa. Juga mushala tua yang masih terawat cukup baik. Di sisi lain, nampak segerombolan turis Jepang duduk takdzim menanti Sang Raja terbangun dari lelapnya. Beberapa orang juga terlihat tengah melaksanakan shalat subuh. Di sini kami menemukan ketenangan, ketentraman dan keharmonisan yang—paling tidak—bisa membuat kami lupa barang sejenak tentang bayang-bayang mantan pertandingan KPK vs POLRI.

Ketika matahari mulai menggeliat, pendarnya begitu ajaib. Ia, selain mampu meubah bukit Sinai menjadi emas, juga mampu memalingkan hati kami dari sosok Pevita Pearce.  Sunrise, begitu Mas Djazam memanggilnya mesra. Pada detik-detik itu, puncak Sinai dengan semua pengunjungnya terdiam khusyuk, seakan-akan sedang mendengarkan curhatan gebetan lantunan ayat-ayat suci.  Daya tariknya begitu memesona, segera ritual-ritual bid’ah untuk mengabadikan momen tersebut kami jalankan meski hawa dingin menusuk sampai ke sum-sum tulang: berfoto, selfie atau merekam dalam bentuk 3gp video.

Setelah momen itu berlalu dan matahari telah naik ke atas permukaan, kami mulai turun sembari menyaksikan gunung-gunung di sekeliling yang masih samar-samar ketika kami mendaki semalam. Dan ternyata pemandangannya begitu indah.

Sungguh, Allah tidaklah menciptakan semua ini sia-sia.
Begitulah Al-Quran menegaskan. 

Salah empat keindahan Sinai

Meski di pegunungan Indonesia juga banyak batu dengan jenis yang bermacam-macam,  namun batu yang berada di sini sungguh memikat hati. Bentuknya begitu elok. Batu-batu itu ada yang seperti fosil-fosil dinosaurus, gingsul kelinci hewan yang mengerikan, pun ada yang serupa mulut Mas Djazam binatang yang sedang menganga, dan masih banyak lagi yang tak mampu digambarkan. Kami juga sempat melihat seonggok batu yang diperkirakan sebagai tempat ketika Bani Israil menyembah sapi emas.

Karena keterbatasan waktu dah hal-hal lain yang tidak memungkinkan, kami tidak sempat mengungkapkan cinta pada gebetan menyinggahi tempat-tempat wisata yang sudah direncanakan. Seperti makam Nabi Sholeh, Nabi Harun, dan yang lainya. Meskipun begitu ditinggal nikah mantan kami tetap bahagia dengan berjuta pengalaman yang sudah kami miliki dari puncak Sinai. (kak_shev, dialih bahasakan oleh cahgagah)

No comments:

Post a Comment