artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

I Wayan Koko, Keluarga Baru Misykati

Misykatian bareng Dek Koko
Ada dua hal yang memastikan peradaban manusia terus berlanjut, yaitu seks dan bercerita.
Kalau seks memastikan spesies kita agar tidak punah, bercerita memastikan spesies homo sapiens berbeda dengan binatang.

Pada Kamis (29/1) yang lalu Misykatian bertandang ke rumah Ammu Zainul Anshori dan keluarga. Pasalnya keluarga kecil ini tengah berbahagia dengan kelahiran sosok mungil buah hati mereka. Ya, mempunyai keturunan adalah dambaan bagi pasangan suami–istri dalam merajut kehidupan berkeluarga. Suasana hangat dari keluarga beliau menyambut kehadiran Misykatian pada sore itu.

Senyum ceria
Menengok bayi atau dalam bahasa jawa “tilik bayi” adalah salah satu tradisi yang berkembang di masyarakat Jawa. Bisa dikatakan bahwa menengok bayi adalah bentuk lain wajah silaturrahmi. Tak kurang dari keluarga, kerabat, dan handai tolan yang masih berhubungan, baik jauh atau dekat akan senantiasa menjenguk sesegera mungkin. Meluangkan waktu sesempatnya guna melihat, menimang, dan mengendong bayi, salah satu karunia Tuhan yang luar biasa.

Bayi tersebut boleh dipanggil I Wayan atau Koko. Lahir pada 25 Desember 2014. Hampir semua bayi yang lahir di dunia mempunyai fase atau tahapan menjadi bayi itu sendiri. Di antaranya, di mana bayi akan  terlelap terlampau cepat dengan suasana sekeliling yang ramai. Atau bayi akan memasang wajah cemberut ketika ia tidak diajak ngobrol dengan sekitarnya. Seperti itulah kiranya yang disampaikan Ammu Anshori kepada Misykatian.

Berbagai senda gurau atau berseloroh yang memancing tawa menjadi bumbu dalam perjamuan tersebut. Setelahnya acara makan-makan dan foto-foto menjadi ibadah yang tidak boleh ditinggalkan.
Sebelum pulang, Ammu Anshori bercerita tentang hal-ihwal Misykati. Melalui bercerita dan berkisah, kita bukan hanya berkomunikasi tetapi juga saling memahami dunia ini. Dalam bercerita ada ingatan dan kenangan yang memungkinkan peradabaan akan terus menerus berlangsung.

Tukang "resik-resik" Misykati
 “Dulu ketika sekretariat Misykati masih di situ (menunjuk Mutsalats) kalau ada yang mblah-mbleh (tidak serius), yang namanya Pak Mu itu selalu mecuti (istilah memberi semangat) wong-wong sing koyo ngono kui ”, ucapnya sembari mengeluarkan sebatang rokok diiringi tawa kecil dari beberapa Misykatian.


Mbah Ndlosor sedang menyampaikan petuah
Setelah dirasa cukup karena jarum jam sudah menunjukan angka 9 malam, kami pamit pulang ke rumah masing-masing. (El)

No comments:

Post a Comment