artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Introducing Cairo International Book Fair to New Members of Misykati



Berawal dari inisiatif mengisi waktu luang, para Misykatian memanfaatkan momen setahun sekali acara Cairo International Book Fair yang tahun ini diselenggarakan pada tanggal 28 Januari-12 Februari untuk jalan-jalan dan berkumpul bersama. “Gethok Tular”, inilah cara komunikasi para Misykatian dalam mengundang anggotanya, dan facebooklah yang menjadi media andalan. Setelah menetapkan tanggal, yaitu Rabu 4 Februari 2015 bakda Dzuhur dengan tempat berkumpul di sekretariat Misykati Mesir, hari yang ditunggu tiba. Para Misykatian berkumpul di tempat yang telah ditetapkan. Satu per satu anggotanya hadir, ada yang datang tepat waktu dan ada pula yang harus dihubungi terlebih dahulu, ditelpon tentunya cara yang paling akurat.

Hari mulai sore dan para Misykatian mulai lelah dan tak sabar untuk segera memburu kitab-kitab idaman mereka. Setelah dirasa yang dihubungi tak kunjung datang, dengan tegas sang ketua Misykati Moh Faqih Dlofir berkata, “ayo ndang mangkat, selak sore!.” Bergegaslah Misykatian keluar dari sekretariat menyusuri jalan setapak menuju mahathoh Gamek. Selang beberapa menit menunggu bus merah, akhirnya datang juga bus yang dinanti.

Setelah puas berdiri satu jam di dalam bus karena tak dapat tempat duduk, sampailah Misykatian di tempat pameran buku. Di samping pintu masuk, salah satu anggota Misykati membeli tiket yang harga per orangnya Le 1. Seperti biasa, di tempat ramai selalu ada polisi yang berjaga, pun di tempat ini. Setelah satu per satu Misykatian diperiksa di pintu masuk, tercenganglah mereka dengan luasnya tempat tersebut, terlebih anggota Misykatian baru. “Bagaimana tidak luas, wong pameran terbesar kedua di dunia,” celoteh Ucup. Berunding sebentar, dan memutuskan untuk berpencar, satu kelompok ke barat dan kelompok lain ke timur.


Kelompok pertama dengan perlahan menyusuri satu per satu stand pameran tersebut, ada stand yang bernama Dar al Salam yang terlihat rapi dan terorganisir bak perpustakaan. Di sini pelanggan dimanjakan dengan ditatanya kitab-kitab berdasarkan jenis. Semisal kitab Fiqih dalam satu ruang, kitab Rumah Tangga, dan masih banyak lagi yang lainnya. Dar al Kotob al Ilmiyah, adalah stand lain yang terkenal dengan kualitasnya yang bagus, akan tetapi ada harga ada barang. Ya, kitab-kitab di sini terkenal dengan harganya yang tinggi. Kebalikan dengan kitab-kitab yang dijajakkan di stand Maktabah al Taufiqiyah yang dikenal oleh para pelanggannya dengan harga rendah. Akan tetapi perlu diketahui juga kitab-kitab di sini mempunyai kecacatan dalam kurangnya kata, lembaran, begitu juga dengan kualitas kertas maupun jeleknya cetakan. Ada pula stand yang menjual harga di bawah harga pasaran, yaitu stand yang diberi nama Azbaqiyah. Di sini banyak terdapat kitab-kitab lama, bekas, bajakan maupun baru, persis seperti buku-buku yang terdapat di Sriwedari kalau di Solo atau Taman Pintar di Jogja. Banyak kitab dengan bemacam-macam bahasa  dijual di stand tersebut mulai dari bahas Arab, Jerman, Turki, Inggris, maupun bahasa lain. Seperti kata orang kebanyakan, siapa yang beruntung dia bisa dapat buku bagus dengan harga murah di stand ini. Setelah dirasa cukup melihat dan mencari kitab di stand tersebut, Misykatian berlanjut ke stand selanjutnya, yaitu stand internasional. Stand tersebut berisi stand-stand dari berbagai percetakan dunia, seperti dari Lebanon, Oman, dan masih banyak lagi yang lainnya. Di stand ini salah satu anggota Misykati bertanya dan menawar salah satu kitab yang berjudul Ushul al Fiqh al Islami, Mukhlisin namanya. Dia menunjuk kitab tersebut sambil bertanya, “Berapa harga kitab itu ya Basya?”
“150 Gineh harganya,” jawab petugas stand tersebut sembari membuka list harga. Setelah melihat-lihat dan mengamati isinya secara sekilas, karena harganya terlalu tinggi tak jadilah dia membelinya. Secara hitung-hitungan matematis, memang harga kitab di stand ini mahal, karena mereka berasal dari luar Mesir.


Adzan Ashar berkumandang, saatnya para Misykatian mendirikan shalat dan istirahat sejenak. Penat dan lelah sedikit menghilang dari kaki-kaki yang kelelahan, isyarat untuk bergegas meneruskan destinasi selanjutnya. Destinasi dilanjutkan ke stand Saudi Arabia yang sudah diketahui banyak orang bahwa stand inilah stand terbesar di Ma’radh. Awal masuk ke stand ini para pengunjung harus diperiksa terlebih dahulu sebelum dipersilahkan masuk.  Dan di sini terdapat pintu masuk maupun pintu keluar, bak pertokoan resmi yang biasa terletak di perkotaan. Berbeda dari stand lain, stand di sini malah lebih terlihat seperti galeri karena stand tersebut ditata dengan rapih, bersih yang terdiri dari stand-stand juga lukisan-lukisan yang indah dari negara tersebut. Terlebih lagi di sini kita bisa menjumpai stand maktabah maupun jami’ah, adapun di stand jami’ah tersebut para pengunjung bisa bertanya-tanya tentang info berbagai jami’ah yang terdapat di stand ini. Banyak pula para pengunjung yang mengunjunginya karena tertarik untuk sekadar melihat-lihat dan berfoto ria dengan galeri lukisan ynag dipajang di stand tersebut. Tak ketinggalan, Misykatian pun ikut serta berfoto dengan lukisan-lukisan yang indah di stand tersebut, dimulai dari galeri Mekkah dan Madinah serta Ka’bah dan jajarannya. Setelah puas mengabadikan momen dengan galeri yang berada di situ, Misykatian berlanjut ke stand Jami’ah Islamiyah yang banyak diketahui oleh orang Indonesia. Di stand tersebut mereka sekadar melihat-lihat kitab meski tersirat keinginan hati untuk bertanya tentang jam’iah tersebut tapi tak satupun kata keluar dari mulut anggota Misykati, mungkin karena sungkan. Lama mengelilingi stand tersebut, akhirnya adzan Maghrib berkumandang, tanda untuk lekas keluar dari stand tersebut.

Shalat Maghrib dilaksanakan di masjid samping stand tersebut dengan khidmat.


Seusai sholat, perut mulai memberontak, tanda perut yang belum diisi meminta jatahnya. Keputusan selanjutnya ditetapkan makan terlebih dahulu di kafe seadanya yang disediakan panitia di dalam Ma’radh. Semua Misykatian berkumpul untuk makan dan istirahat sejenak dari perburuan kitab. Furqon memesan kuftah dan kopi untuk mengisi jeritan-jeritan perut yang menjerit keras karena kekosongan amunisi. Sementara itu yang lain saling bertukar informasi terkait kitab-kitab yang mereka beli. Ada yang bertanya di mana bisa beli kitab ini, harganya berapa, dan ada pula yang sekadar bercanda tawa untuk melepas lelah. Tak mau kalah bicara, kelompok kedua yang berpisah di gerbang tadi menceritakan perjalanan perburuan mereka. Dan yang sangat mengejutkan, El Haqqi menunjukkan foto yang membuat kami berdecak heran tak percaya akan foto yang disodorkannya. Ya, dia menunjukkan foto yang luar biasa, yaitu foto buku 99 Cahaya di Langit Eropa karya orang Indonesia, Hanum Salsabiella Rais dan suaminya Rangga Almahendra, yang sempat menjadi best seller di Indonesia. Terlebih lagi buku yang termasuk dalam kategori novel tersebut telah difilmkan tahun lalu. El Haqqi pun angkat bicara di mana dia menemukannya, dan ternyata di stand Azbaqiyah. Yang menjadi pertanyaan di banyak benak Misykatian yaitu kok bisa berada disini. Ada yang berpikir nyleneh tentangnya dengan berasumsi dicuri haromi pun juga ada yang berhusnudzan bahwa novel tersebut telah melanglang buana di dunia.



Di sela-sela perbincangan hangat mereka, anggota Misykati bertambah dengan datangnya Aini, Nimah, Safrida dan yang lainnya. Di tengah-tengah perbincangan, beberapa dari mereka ada yang ngluyur pergi berburu kitab yang dirasa belum didapat. Dua dari mereka menyusuri stand dekat peristirahatan tersebut guna mencari kitab Qalyubi wa Umairah dan kitab-kitab lain. Berdoa dalam hati dan bertawakkal dengan berkeliling, namun ternyata kitab awal yang dimaksud tak berhasil digenggam. Meskipun begitu, mereka berhasil menenteng Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan kitab The Ulama in Egypt, serta kitab-kitab lainnya, hitung-hitung melegakan hati untuk dibawa pulang.

Setelah melirik sekitar yang semakin sepi dan kitab yang dicari sudah didapat, Misykatian kembali berkumpul di tempat peristirahatan semula. Istirahat sejenak untuk merapikan kitab-kitab yang telah dibeli agar mudah dibawa kemudian memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. See you next year Ma’radh.
Mufid Slankerasta

Pemuda jatmika asal Salatiga. Rambut kribonya yang artsy memberi keberuntungan sekolah di luar negeri dan juga membuat dia dengan gampang dikenali orang sebagai "rambut Kaka badan Bimbim". Suka menyendiri di tengah keramaian Gamaliya.

No comments:

Post a Comment