artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Cinta; Nukleus Semesta

Ilustrasi oleh Muk
Oleh Pandu Dewanata
“Wahai Jibril!”

 Tiba-tiba suara Allah bergelora memenuhi semesta dan seisinya.

“Aku telah mencintai seseorang, maka cintailah dia.”

Lalu Jibril pun mencintai orang itu, bahkan jibril menggelorakan cintanya melalui ungkapannya yang agung kepada seluruh penghuni langit.

“Wahai Penghuni langit, sesungguhnya Allah ta’ala telah mencintai seorang hamba, maka cintailah wahai kalian semua kepada hamba yang telah dicintai-Nya.”.

Lalu gemuruh cinta bertaburan dari penghuni langit melimpahi sang hamba itu, dan penghuni bumi pun menerima sepenuhnya.
Bicara tentang cinta selalu tak berkesudahan, selalu menjadi bahasan yang menarik sepanjang sejarah.  Hampir semua manusia normal merasakan—belum tentu mengerti—bagaimana rasanya cinta, entah mencintai maupun dicintai. Walaupun banyak orang yang mengalami cinta tapi begitu sedikit orang yang menyelami lebih dalam esensi Cinta karena ketidakpuasan pada kulit luar yang mungkin hanya terduga cinta. Lantas apa itu Cinta? Dan bagaimana kita mengolah Cinta itu sendiri—mengingat Cinta adalah bagian terpenting dalam laku kehidupan manusia?

Bagi Rumi Cinta adalah hasrat dan kebutuhan. Hal ini selaras dengan bukti adanya alam semesta yang diciptakan Tuhan  dengan Cinta-Nya kepada para nabi: “Jika bukan karena engkau takkan kuciptakan surga.”  Dan diperkuatdengan hadis qudsi yang lain dengan konteks yang lebih umum. Dia berkata: “Aku adalah perbendaharaan tersembunyi. Aku ingin dikenal maka Kuciptakan dunia.” Pernyataan bernada metaforis ini, bahwa Al-Khaliq ingin dikenal oleh makhluk-Nya, mengandung sebuah pesan tersirat yang sangat dalam maknanya. Yaitu Allah SWT menciptakan segala yang ada dengan Cinta dan kasih sayang-Nya. Dengan demikian, Cinta Tuhan mengejawantahkan perbendaharaan yang tersembunyi dari para nabi maupun bijak bestari yang menjadi motivasi bagi penciptaan alam semesta. Hasilnya Cinta mengalir ke seluruh urat nadi dunia. Semua perbuatan dan gerakan berasal dari Cinta, bentuk-bentuk dunia adalah pantulan realitasnya.

Ibn Hazm pun memiliki definisinya sendiri tentang cinta, ia berkata dalam kitabnya Thouq al-Hamamah Fi al Ilfah wal al Ullaf: “Dalam cinta awalnya kau akan bermain-main namun pada akhirnya kau akan bersungguh-sungguh. Kedalaman makna cinta sangat indah dan agung.  Kata-kata semata tak kuasa menggambarkan segenap keindahannya dan keagungannya. Hakikatnya tidak bisa ditangkap kecuali dengan penghayatan dan penjiwaan yang mendalam.  Agama tidak memusuhi cinta dan syariatpun tidak melarangnya. Cinta adalah urusan hati dan hanya Allah yang mengetahui hati manusia.”

Cinta tak menganut paham tafsir tunggal, selalu terbuka terhadap tafsir. Setiap manusia memiliki argumentasi tentang Cinta menurut latar belakang, pemahaman dan apreisasi yang berbeda dari hasil eksplorasi dalam dunia kesenian maupun budaya. Dan karena itulah cinta menjadi keindahan yang bergerak, menelusup ke dalam sanubari yang mendekatinya.

Dalam kitabnya Thouq al-Hamamah  fi al-Ilfah wal al-Ullaf, Ibn Hazm juga menceritakan bahwa cinta tidak mengenal strata, kasta maupun rupa. Bahkan para raja dan ulama yang diberi petunjuk pun pernah mengalami cinta. Rasa cinta begitu beragam dan dari rasa cinta yang begitu beragam yang paling mulia adalah orang yang saling mengasihi atau mencintai dijalan Allah SWT. Walaupun adakalanya mereka—yang saling mencintai—berbeda pandangan dalam suatu hal, adakalanya juga mereka tidak sepaham, namun mereka akan melakukan yang terbaik dalam ihwal kemanusiaan.

Dari beberapa wujud cinta terdapat cinta kepada keluarga, cinta untuk menyusun komitmen dan tanggung jawab. Adapula cinta karena memiliki tujuan yang sama. Cinta pada pertemanan dan pengetahuan. Cinta untuk kebaikan yang diberikan seseorang kepada saudaranya. Cinta yang fanatik kepada popularitas orang yang dicintainya. Cinta antara dua orang yang mencintai karena ada sesuatu yang disepakati oleh keduanya yang mereka rahasiakan dari pandangan umum. Cinta yang hanya mencari kepuasan biologis dan sebatas menyalurkan nafsu seks. Dan cinta dengan kerinduan yang tidak ada obatnya kecuali bertemu dengan jiwa-jiwa yang terpisah.

Semua jenis cinta diatas dapat berubah seiring dengan gerak laju dan tumbuh-kembang sebab-sebabnya. Kecuali cinta yang disertai kerinduan hakiki yang tidak ada obatnya , itulah cinta yang abadi dan hanya bisa dipisahkan oleh kematian.

Namun nyatanya sebagian manusia mencintai manusia lain karena keindahan fisik ,ataupun sesuatu hal yang dirasa memiliki kesamaan dengan orang yang mencintainya. Padahal jenis cinta yang tumbuh karena suatu sebab, akan semakin bertambah kuat seiring semakin kuatnya sebab, dan akan semakin berkurang seiring berkurangnya sebab, akan semakin mendalam ketika alasan cinta semakin dekat, akan semakin kendur ketika alasan cinta semakin jauh. Tak ada cinta yang abadi kecuali cinta yang berasal dari dalam jiwa, muncul tiba-tiba, tanpa alasan.

“Cinta dengan alasan itu bukan cinta tapi kalkulasi.”

Seperti kata al-Ghazali hubungan kausal pada akhirnya hanya terletak dalam pikiran manusia, dalam psikis dan imaji kita yang terbiasa melihat gelas yang jatuh akan pecah, orang yang bekerja akan kaya. Namun pada tingkat ontologis, hubungan sebab-akibat tidak akan pernah mengunci relasi dan gerak.

Kesulitan manusia dalam memahami hakikat Cinta itu sendiri dikarenakan tindakan manusia yang cenderung mencukupkan diri dalam memahami (terduga) cinta hanya sebatas pada pembacaannya pada modus dan fenomenanya semata. Belum atau bahkan tidak mau mengkaji Cinta yang ada dibalik (terduga) cinta. Semisal pembatasan hakikat Cinta dengan pemahaman mainstream tentang cinta, yaitu ketika kita bisa bermesraan dan saling mengisi antara satu sama lain sekaligus bisa memenuhi segala keinginan yang dicinta. Ini adalah fenomena-fenomena umum yang bahkan belum menyentuh permukaan Cinta itu sendiri apalagi esensi kesejatiannya yang berimplikasi pada penerapan dalam konteks universal.

Atau ketika tergesa-gesa menyimpulkan tentang cinta yang palsu lalu menolak cinta, padahal yang ia tolak ialah cinta yang palsu bukan cinta yang asli. Maka mereka terhijab untuk dapat memahami Cinta selama-lamanya. Seperti seorang yang hanya menyukupkan diri dengan keyakinannya terhadap suatu rasa. Bahwa hanya salak pondoh saja yang enak, umpamanya, lalu dia menutup diri untuk mengadakan penelitian pada rasa salak-salak yang lainnya, bahkan menolak setiap pendapat yang masuk maka sampai kapanpun pengenalannya terhadap rasa salak hanyalah salak pondoh belaka. Jika hal itu dikaitkan pada dunia ilmu pengetahuan maka ilmunya tidak akan pernah berkembang, hanya menjadi hiasan semata dalam pikiran. Dan Jika dikaitkan dengan amal ibadah maka akan menjadi orang yang malas dan bahkan mati dalam hidup, karena sedikitpun mereka tidak mempunyai daya dan kreasi.

Daya dan kreasi Cinta bisa kita lihat dalam literatur kesusastraan sufi, karya sastra yang memiliki keberadaan Cinta dalam temanya, dijadikan sarana mediasi untuk makna Cinta kepada Tuhan secara lebih kreatif. Meskipun penekanannya lebih banyak kepada pencitraan cinta dalam maknanya yang feminis-erotis. Namun penggambaran unsur feminis itu dilakukan sebatas mengagungkan salah satu sifat jamaliyah Tuhan, yang dalam keyakinan para sufi, sifat itu termanifestasikan dalam kehadiran perempuan.

Kenapa kok perempuan? Ibn Arabi berpendapat, bahwa Tuhan menciptakan pria dari aspek maskulinitas Tuhan. Dan wanita dari aspek femintas-Nya. Dari itu, kecintaan pria kepada wanita, maupun sebaliknya  merupakan penyatuan dari yang semula satu menjadi dua dan kembali menjadi satu. Bisa dikonklusikan bahwa sarana mencintai Tuhan ialah melalui ciptaan-Nya. Namun jangan sampai kita terlena dalam Cinta pada makluk-Nya sehingga melupakan Cinta pada-Nya, terbuai sarana sehingga melupakan tujuan.

Kekreatifan Cinta juga bisa kita temukan dalam sebagian puisi-puisi Jalalluddin Rumi, namun dalam sajak Rumi wanita ditampilkan tidak sebagai molek tubuh yang selalu diposisikan lebih rendah dari laki-laki dalam budaya patriarkhal, melainkan sebagai makhluk yang tak indah secara fisik saja namun juga sebagai seberkas cahaya Tuhan.

Dalam kacamata Tuhan, Cinta yang dirumuskan dalam pandangan-Nya dalam keseluruhan makna dan esensinya memiliki potensi-potensi yang kreatif yang harus direalisasikan oleh manusia sebagai manifestasi kekhalifahannya di muka bumi. Secara tidak langsung Tuhan menegaskan perihal cinta yang memiliki semangat kreatif  berupa pelaksanaan ajaran-ajarannya yang berdimensi kemanusiaan dan bukti kecintaan manusia terhadap-Nya.

Namun upaya untuk mencintai Tuhan sepenuhnya tidak mungkin tanpa seseorang berikhtiyar untuk menundukan dirinya dan sebelum seseorang mampu mengatasi godaan-godaan dari selain Tuhan. Jalan ini disebut mujahadah (perjuangan batin menundukan diri) yaitu berupaya untuk menekan dorongan-dorongan egosentriknya agar bayang-bayang makhluk yang menghijabi cahaya ilahi masuk menuju kalbu perlahan lahan akan sirna. Hal ini semata bukan untuk kepuasaan diri melainkan untuk kepentingan agama dan kemanusiaan.



No comments:

Post a Comment