artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Misykati Menyelami Peradaban Syari’ Mu’iz

Misykatian berpose di depan area Bayt Suhaymi
Ketika berbicara, mendengar dan membaca kata sejarah yang terlintas dalam pikiran dan benak kita tak lain adalah suatu hal yang kuno, klasik dan bahkan dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Mereka beranggapan bahwa yang terpenting adalah bagaimana menyongsong masa depan dengan segala misteri di dalamnya. Akan tetapi, sebenarnya sejarah itu unik dan menarik. Ia yang telah tertatih-tatih mengantarkan kita sampai saat ini, mampu menjadi pedoman dan acuan masa depan kita. Dengan sejarah manusia akan mampu membuka tabir kehidupan sebagai gerbang awal menuju masa depan yang lebih cerah. Bahkan, ia adalah guru terbaik kita, seperti arti kata dalam peribahasa “Experience is the best teacher”.

Begitu pula dengan Misykatian yang tak mau melupakan sejarah. Jumat(13/3) yang lalu, Misykatian meluangkan waktunya untuk ngupret  ke Syari’ Mu’iz. Seperti biasa, dengan tempat berkumpul di Sekretariat Misykati yang berdomisili di Hay Ashir atau bisa langsung menuju ke Mahattoh Darrosah. Pukul 14.00 clt Misykatian beranjak dari tempat berkumpul. Walau sebagian terdapat yang belum hadir tetap  tak mengurungkan niat untuk berangkat lebih awal.

Satu hal yang sedikit menjadi kendala dalam ngupret kali ini. Adanya Suq Sayarot sedikit menyulitkan transportasi Misykatian menuju tempat tujuan. Akhirnya diputuskan untuk naik tramco dari belakang konsuler menuju Sabi’, baru melanjutkannya dengan bis merah dari Sabi’ menuju Darosah.

Adzan Ashar  berkumandang kala sebagian Misykatian telah tiba di Mahatoh Darosah. Karena masih menunggu beberapa kawan yang belum datang, sementara panggilan sembahyang telah tiba, akhirnya Misykatianpun langsung menuju Masjid Ja’far yang terletak  tepat di depan Mahatoh Darosah untuk melaksanakan sholat Ashar.

Seusai  menunaikan sholat Ashar, Misykatian mulai mencari tramco menuju Syari’ Mu’iz. Sementara dua anggota Misykati menjemput salah satu anggota Misykati yang belum nampak wajahnya walau berdomisili di Darosah.

Meskipun  telah tiba di tempat tujuan, Misykatian  tak langsung masuk ke dalam, masih menunggu kedatangan beberapa anggota Misykati. Karena menunggu itu terkadang suatu hal yang membosankan, sebagian mengisinya dengan ber-selfie ria dan juga ada yang berbincang-bincang dengan anak-anak Mesir. Setelah lama yang ditunggu tak kunjung tiba, ketua Misykati pun memutuskan untuk segera masuk, karena memang ada sebagian anggota Misykati yang belum menunaikan sholat Ashar. Ketika memasuki gerbang awal yang begitu megah nan indah, membuat salah satu anggota Msykati merasa takjub.

“Wah, koyo mlebu neng kerajaan,” celoteh salah satu anggota Misykati berinisial YF.

Saat sebagian melaksanakan sholat Ashar, anggota Misyakti bertambah dengan kedatangan para sesepuh Misyakti, seperti Mas Djazam, Mas Da’im, Mas Sitta dan Mas Rosyad. Sesaat setelah menyapa anggota Misykati yang berada di pelataran masjid mereka langsung menyusul untuk menunaikan sholat Ashar di Masjid Al hakim bi Amrillah. Kemudian dilanjut dengan penjelasan sejarah masjid ini oleh Mas Djazam dan Mas Da’im. Konon masjid yang terletak paling depan sebelah kiri dari gerbang masuk ini, dulunya dibangun oleh Al- Aziz billah. Namun, sampai ia meninggal pembangunan masjid ini belum selesai. Akhirnya pembangunan masjid ini dilajutkan oleh putranya yang bernama Al-Hakim bii Amrillah yang kemudian nama masjid ini dinisbatkan kepadanya. Masjid ini pun dulu juga menjadi pusat penyebaran ilmu ke dua setelah Masjid Azhar. Di dalamnya berlangsung majlis ilmu yang mengajarkan paham syi’ah, sehingga,masjid ini saat ini masih menjadi wisata religi bagi kaum Syiah India dan Bagladesh. Masjid ini juga pernah mengalami renovasi pada masa pemerintahan Presiden Mesir,  Anwar Sadat. Setelah dirasa cukup dengan penjelasan dan foto-foto di masjid ini, Misykatian mulai beranjak meninggalkannya.

Bang Daim sedang menjelaskan sejarah masjid Al Hakim
Bang Djazam lagi caper
Cheers
Sebagaimana diketahui, bahwasanya Syari’ Mu’iz itu di dalamnya teradapat sebuah perkampungan penduduk. Konon, kota Kairo awalnya hanya sebatas untuk daerah sekitar Syari’ Mu’iz ini saja. Setelah beberapa masa, cakupan kota Kairo meluas seperti yang kita ketahui bersama saat ini. Di tengah-tengah perkampungan ini juga terdapat masjid, pasar dan beberapa bangunan klasik, menarik nan  artistik yang masih berdiri kokoh. Dan sebagian bangunan yang berdiri di sekitar Syari’ Mu’iz ini dulunya dibangun pada zaman Dinasti Mamluk. Kemudian ketika Dinasti Utsmani berhasil merebut kekuasaan, ia tidak menghancurkan bangunan yang dibangun oleh Dinasti Mamluk, akan tetapi ia malah membuat bangunan tandingan bangunan. Di antara bangunan tersebut, terdapat suatu bangunan dengan istilah “Sabil”. Konon, Sabil adalah tempat minum sekaligus istirahat bagi orang yang melewati daerah ini. Corak bangunan Sabil Utsmani berbeda dengan Sabil pada zaman Mamluk. Sabil pada zaman Utsmani bentuknya cembung seperti mengedepankan dada. Sedangkan masjid peninggalan Utsmani,dari segi menaranya pun juga beda. Menaranya berbentuk lancip seperti pensil sebagai simbol untuk menggambarkan bahwa pada zaman Utsmani sangat perhatian dalam bidang  intelektual dan keilmuan.

Di sekitar Syari' Mu'iz
Sepanjang perjalanan, Misykatian ditemani dengan  kuaci dan beberapa bungkus snack. Sebelum mengakhiri perjalanan kali ini, Misykatian juga singgah di depan bangunan yang dulunya menjadi rumah sakit. Persis di depan bangunan itu terdapat makam istri Raja Aybak, raja pertama Dinasti Mamluk Burji. Sang permaisuri adalah putri berdarah Persia. Konon, sang putri setiap hari memakai perhiasan hampir di seluruh tubuhnya sehingga akhirnya masyhur dengan Syajarato Ed-dur.Tapi sayang, ia meninggal dalam kondisi yang begitu tragis.

Setelah dirasa cukup puas dengan ngupret kali ini, dan juga Adzan maghrib telah berkumandang. Misykatian pun segera bergegas menyusuri kawasan pasar Husein sekaligus keluar dari daerah Syari’ Mu’iz. Kemudian singgah dulu di Masjid Al-Ghuri untuk menunaikan sholat Maghrib.

Karena hari sudah semakin petang dan udara yang semakin dingin, akhirnya diputuskan untuk segera pulang ke rumah masing- masing. Sebagian anggota Misykatipun singgah di KSW untuk menghadiri Barjanji sekaligus acara perpisahan salah satu anggota KSW. (Nik)

No comments:

Post a Comment