artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Seputar Piknik ke Lapangan

Oleh el Supry
Ilustrasi oleh Pandu Dewanata
Mungkin ada dua peran yang bisa Anda lakukan saat datang ke lapangan menonton langsung pertandingan sepak bola. Sebagai pendukung sebuah kesebelasan atau hanya menjadi pelancong.
***
Sebuah permainan selalu menyaratkan adanya waktu dan ruang yang khusus serta tak lupa menjunjung aturan main. Sebuah permainan juga meniscayakan kepastian siapa dan berapa pesertanya. Sebab dengan hal-hal di atas permainan akan berjalan secara fair. Permainan yang fair memuat semangat bermain, mengandung kemauan bermain.

Seburuk-buruk perang ialah perang yang mengabaikan semangat bermain. Dar der dor dengan waktu dan tempat yang tak tentu, mana suka dan tanpa kejelasan aturan main.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Masisir kembali disuguhi turnamen sepak bola se-Jawa yaitu Jawa Cup. Sebuah hajatan yang rutin digelar tiap tahun. Mempertemukan enam kesebelasan dari perwakilan yang ada dari pulau Jawa. Dan tentu tak melupakan semangat bermain, dengan waktu dan ruang yang khusus serta aturan main itu sendiri.

Maafkan saya, mungkin setelah tulisan ini terbit hingar bingar Jawa Cup telah usai. Tapi biarkan saya menuliskan hal-ihwal yang saya temukan pada satu-satunya tribun lapangan tempat dihelatnya turnamen tersebut.

Nadi Syabab Qatameya bukanlah layaknya sebuah stadion dengan tribun penonton yang mengelilingi seluruh penjuru lapangan, melainkan sebuah lapangan yang terletak di kompleks olahraga dengan satu tribun berdiri megah menghadap jalan raya. Jika anda berdiri dari arah jalan raya menghadap kompleks olahraga, akan dengan mudah sekilas melihat tribun tersebut. Begitu pula sebaliknya ketika anda berdiri dari tribun menghadap arah jalan raya kelewat gampang melihat sepinya lalu lintas jalan raya.

Datang ke lapangan menonton pertandingan menawarkan banyak hal yang tidak didapat dari layar kaca. Baik sebagai suporter atau pelancong, keduanya hadir di lapangan bukan hanya mencicipi atmosfir pertandingan. Tapi lebih dari itu.

Mengutip bung Zen RS : Di stadion, sepak bola hadir sebagai realitas yang tak terpermanai.

Anda bisa melihat bagaimana supporter Walisongo beradu chant[1] dengan pendukung Airlangga, bagaimana bobotoh Siliwangi dan The Jack saling menyalakkan suara dukungan kepada kesebelasan masing-masing. Anda bisa mengamati pemain yang menggiring bola, pada kesempatan lain anda bisa mengamati taktik pergerakan tanpa bola beberapa pemain. Anda bisa melihat pergerakan kiper lawan saat sepi dari penyerangan.

Anda juga bisa memperhatikan gerak-gerik manajer ganteng berdandan rapi dengan rambut klimis dan sepatu yang mengilat.

Dengan hadir di tribun penonton, suporter dengan bebas berteriak-teriak semau hati.Terhadap apa saja. Entah terhadap dukungan suporter kesebelasan lain yang kurang nyinyir, keputusan negatif wasit, perilaku pemain lawan atau permainan sang idola. Mengerahkan seluruh sokongan saat kesebelasannya tertinggal dari lawan. Tawuran, yel-yel rasis, dan mencaci adalah hal-ihwal yang haram dan tidak diperkenankan untuk dilakukan.

Bisa saja seorang pelancong melakukan hal yang sama dengan beberapa suporter tersebut, tapi menjadi pelancong adalah menikmati apa saja yang tergelar, baik di lapangan atau di tribun tersebut. Memandangi kelakuan para suporter. Pria-wanita, tua-muda bahkan anak-anak sekalipun. Mengamati situasi sekitar tribun. Sesuatu yang tak terduga bisa terjadi kapan saja.
***
Ya. Menonton pertandingan di tribun bisa menjadi tempat piknik bagi mereka yang kurang piknik. Siapa saja... bebas...
Tabik !!!  


[1] Chant: Menyanyikan lagu-lagu untuk merayakan pertandingan, memberi dukungan, mengintimidasi pihak lawan atau hanya untuk membuat stadion bergemuruh.

No comments:

Post a Comment