artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

17+1 dan Beberapa Momen Pilu: Sepotong Curhat Seorang Penggawa



“You will never be happy if you continue to search for what happiness consists of.”  Albert Camus.

Dulu, sebelum rumah maya Misykati berubah menjadi misykati.org, tepatnya 31 Maret kemaren, Misykati diberitahu oleh facebook perihal hari jadinya. Dan saya kira,  bukan hal istimewa Mark Zuckerberg menyempatkan diri di sela-sela kesibukannya untuk mengingatkan hari jadi Misykati. Karena setelah saya telusuri bukan hanya Misykati saja yang mendapat perhatian dari pemuda kaya tersebut, tapi semua orang, dari Pak Jokowi sampai Djazam Asfari pun rutin tiap tahun diingatkan tanggal berapa mereka lahir. Untuk itulah saya ingin mengistimewakan hari jadi Misykati yang ke 17+1 lewat ke-tik-an ini.  Sebab perlu diketahui, Chelsea Olivia, Kymberli Rider dan Olivia Jensen sampai sekarang belum pernah mendapat perhatian khusus dari saya di hari ulang tahun mereka. 

Dan atas dasar nasihat dari Mbah Camus bahwa “You will never be happy if you continue to search for what happiness consists of”, saya tidak akan mencari momen-momen indah dan mengurainya dengan analisis yang tajam berikut alasan kenapa momen itu di cap indah. Tapi saya akan merayakan hari jadi Misykati dengan beberapa momen pilu yang terekam dalam ingatan selama berguyub rukun dengan Misykati.

Momen Pilu yang Pertama: Ditinggal Pulang Bidadari-Bidadari Misykati

Siapa yang tak kenal Annisa Fadhilah dan Nadya KhannaSyarifah? Dua sosok bidadari Misykati yang membuat Bang Ishlah dan Mas Djazam giat mengikuti acara Misykati. Sebagai perkenalan, sosok yang pertama lebih akrab dipanggil Mbak An dan sosok yang kedua biasa dipanggil Mbak Nad. Ok, sip.

Kepulangan mereka memang  membuat dua mas-mas tadi sedih, tapi tidak sampai pada tahap pilu, berbeda dengan saya. Bukan tanpa alasan saya merasa pilu dan hancur lebur ketika ditinggal mereka. Ada beberapa alasan, yang pertama: Setelah Mbak An pulang, siapa lagi yang akan mengajak Iis Istianah untuk sering main ke Sekretariat Misykati. Karena sampai saat ini pesona ke-korea-nan Amna Mushoffa tidak sanggup meluluhkan hati Iis Istianah untuk mampir ke Misykati. Lalu, sejak saat itu saya berargumen dan meyakini bahwa “hanya kelembutan Mbak An yang mampu menggerakkan hati Iis”.

Alasan yang kedua:  Setelah Mbak Nad pulang, siapa lagi yang akan mengantarkan Izza Nafsia menjenguk ketua Misykati, mengingat kehadiran Izza Nafsia di tengah-tengah guyub Misykati begitu urgen. Inilah faktor kedua yang membuat hati saya pilu atas kepulangan Mbak Nad.

Momen Pilu yang Kedua: Berakhirnya Masa Lajang M. Solikhul Arifin

Kalau di momen pilu yang pertama saya sendiri yang merasa tersiksa, di bagian kedua ini giliran Mas Rosyad yang merasa pilu dan tersakiti. Sebelum saya lanjutkan lebih panjang, untuk pemberitahuan—bagi yang belum tahu—istri M. Solikhul Arifin adalah si empunya facebook Rain Av, entah siapa nama sebenarnya. Ihwal penyebab dasar Mas Rosyad merasa pilu tak lain adalah berkurangnya anggota komunitas para jomblo Gamek 61 yang berada di bawah naungannya—kalau tak mau dikatakan iri.

Sejauh pengamatan saya, memang selama ini Mas Djazam lah yang getol mempromosikan status jomblonya. Tapi setelah Mas Rosyad mendengar spekulasi Mas Djazam untuk mengadu nasib ke Indonesia bulan ini dengan berbekal status jomblonya, Mas Rosyad secara terang-terangan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menghapus status sial tersebut supaya dapat segera menyusul merapatkan diri bersama golongan Kang Thole, Mas Nurdin Singo dan Mas Lendi.

Momen Pilu yang Ketiga: HUT Misykati Mengingatkan Tanggal Ujian

Mengingat mantan memang memilukan, apalagi sebab si dia menjadi mantan karena ditikung orang. Tapi mengingat tanggal ujian yang semakin dekat lebih memilukan lagi. Satu bulan setengah terhitung dari HUT Misykati. 16 Mei 2015 adalah tanggal yang dipilih Dewan Kuliah al-Azhar untuk awal diselenggarakannya ujian.

Ada banyak faktor yang melandasi kepiluan itu; mukoror yang tak kunjung terbeli, hapalan Qur’an yang harus dimulai lagi dan masih banyak lagi. Silakan, masing-masing pihak yang sama rasa dengan saya—merasa pilu—menambahkan sendiri. Karena saya yakin, kepiluan ini tak hanya melanda hati saya.

Momen Pilu yang Terakhir: Datangnya Tamu Tak Diundang ke Sekretariat Misykati

Dari sekian momen pilu yang saya sebutkan di atas, momen pilu ini yang paling memilukan. Al kisah, beberapa bulan yang lalu, sehabis azan Zuhur saya pergi dari rumah untuk menuntaskan urusan. Di sela-sela ketidakhadiran saya di rumah itulah makhluk-makhluk tak diundang datang. Mereka masuk dengan sistem bobol paksa, dan meminjam laptop saya tanpa ada sebuah kepastian kapan akan dikembalikan. Hal ini mengingatkan saya pada mantan Mas Djazam yang lebih memilih cowok lain. Bukan karena apa, cuma karena satu hal; tidak ada kepastian dari Mas Djazam. Maka tidak berdosa kalau saya menempatkan tragedi yang menimpa saya ini pada posisi tragis.

Menurut hemat saya—semoga makhluk-makhluk tersebut membaca ke-tik-an ini—kalau mau mampir ke rumah, mbok yao ngabari dulu, telpon atau sms kan bisa. Dan pastinya saya bakal stand by di rumah, bersiap menjamu dengan ramah.

Ok, sip. Itu tadi beberapa momen pilu yang bisa saya sampaikan dalam rangka merayakan hari jadi Misykati ke 17+1. Kalau setiap rezeki saja perlu dirayakan dengan secangkir kopi, apalagi hari jadi!

Akhirul kalam, terlepas dari polemik yang akan ditimbulkan dari ke-tik-an ini, selamat ulang tahun Misykati. Semoga selalu sejahtera.

Horas!

Footnote: Penyebutan nama dalam ke-tik-an ini tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan. Pun tidak mengurangi sedikit-banyak rasa hormat saya kepada yang bersangkutan di dunia nyata.
Moh Faqih Dlofir

Terlahir ngapak dan biasa dipanggil Faqih, Dlofir atau Cah Gagah. Selama tidak ada urusan kegiatannya berupa makan, minum, tidur, bolak-balik kamar mandi dan nge-net. Kalau main PES selalu menang, mungkin karena jarang piknik. Oia, dalam pengakuannya dia senang membaca.

No comments:

Post a Comment