artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Anak-anak dan Momentum Ramadhan


Anak-anak tidak tahu batas dan seenak udelnya sendiri. Sebab itu, anak-anak adalah buku yang tak pernah usai untuk dibaca.

Setelah sekian tahun, kurang lebih 1436 tahun agama Islam lahir, hadir, dan tersiar ke pelosok dunia. Selama rentang tahun itu pula ajarannya berkelindan kepada umat-umatnya. Sudah barang tentu tak terhitung banyaknya cerita ihwal anak-anak yang sekadar bersinggungan atau menjalankan sepenuh hati kegiatan dalam ritus-ritus keagamaan. Entah lucu, sedih, bahagia, kecut, liris dsb.

Salah satunya, cerita yang masyhur dan legendaris tentang anak-anak dan ritus-ritus keagamaan yaitu kisah Rasulullah dan dua cucunya.

Rasulullah sedang mengerjakan sholat sunnah dua rakaat. Ketika sujud berlangsung, tiba-tiba Hasan memanjat punggung Nabi. Hasan kecil memukuli tubuh kakeknya itu layaknya menunggang kuda yang mesti berpacu cepat.

Sebetulnya Nabi sudah cukup lama menempelkan dahinya di atas lantai. Tapi tingkah Hasan membuat manusia sekaliber jagad ini memperpanjang sujudnya lebih lama lagi. Hasan puas bermain kuda-kudaan.Hasan akhirnya turun. Nabi mulai berniat mengangkat tubuhnya. Sekali lagi, punggungnya tertahan. Husain tiba-tiba melompat ke atas punggung dan menirukan aksi kakaknya, Hasan. Artinya, Nabi mesti menambah waktu lagi untuk menunda duduk tasyahud. Baru ketika kedua cucunya turun, Rasulullah melanjutkan gerakan sembahyang.

Cerita di atas memang tidak disebutkan secara terperinci asal-usul, waktu dan tempat. Tapi yang paling kentara, anak-anak adalah fase individu atau kelompok dengan umur tertentu. Menganut agama dengan atau tanpa Tuhan yang ibadahnya adalah bermain.

Keistimewaan ibadah bermain tersebut malahan bisa berlipat-lipat lebih besar dengan datangnya bulan Ramadhan. Anak-anak menjadi bebas dan leluasa bermain-main. Terkadang sampai larut malam bahkan mengarak waktu sahur. Membangunkan mereka yang punya hajat untuk berpuasa.

Sayangnya, masa kecil saya tidak ditakdirkan seperti itu. Saya tidak ditetapkan untuk menjalani karnaval  tersebut.

Tapi ada masa sesuatu ini pernah dilakukan oleh lazimnya anak-anak di Nusantara.Tidak mustahil, secara sadar maupun tidak, mereka meneladani cucu Nabi. Seperti di kampung saya, mereka beribadah dalam ibadah.

Ketika adzan Isya mengalun dari speaker masjid, para bocah dari yang terdekat dengan masjid sampai penjuru kampung berbondong-bondong datang untuk sholat. Mereka bertemu, bercanda, membeli jajanan yang serupa atau bermain petasan. Sewaktu sholat Isya mereka bisa khusyuk, anteng, tapi selesai sholat fardu suasana menjadi berbeda.

Sholat tarawih yang mana bagian dari sholat sunnah dianggap ritus suci bagi orang dewasa. Dan rugi jika tidak ditunaikan karena hanya dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Tidak bagi anak-anak. Sebab itu hanyalah alibi belaka. Dan untuk tujuan, apalagi kalau bukan bermain.

Awalnya mengeraskan bacaan “amin” kemudian malah sahut-sahutan. Lain sesi dorong-dorongan pada saat rukuk. Lain babak menjulurkan jempol pada temannya yang lain saat tasyahud akhir seraya berbisik “kalah... kalah... kalah...”. Lain hari kala bacaan imam panjang dan terlalu lama, tanpa pretensi salah satu dari anak-anak nyeletuk “qul hu wae lek... kesuwen... “.

Malah ada cerita dari ibu saya, dua tahun lalu saat yang lain sedang tarawih ada beberapa bocah dengan sengaja mengusili satu-satunya rumah orang kristen yang jaraknya memang dekat dengan rumah saya. Di dalam rumah ada seorang nenek dan pasangan suami isteri beserta anaknya. Tanpa ragu-ragu para bocah ini memasukkan beberapa petasan yang  telah disulut. “Dor... dor.. der..”. Sang isteri keluar rumah dan melapor kepada ibu saya.

Bermain dan kenakalan yang dilakukan anak-anak ini selama tidak membahayakan orang lain sebaiknya memang dilestarikan. Orang dewasa hanya perlu mengawasi,  selanjutnya menegur jika dirasa kenakalannya berlebihan namun jangan pakai emosi. Agar mereka sedikit banyak punya memori tentang masjid, puasa, dan Ramadhan. Sebab permainan ingatan dan kenangan senantiasa berlangsung selama hayat masih di kandung badan.

Anak-anak adalah arsip. Kelak anak-anak tersebut menjadi generasi penerus orang-orang terdahulu. Novelis asal Ceko, Milan Kundera pernah berseru : “Untuk menghancurkan sebuah bangsa, bumihangus buku-bukunya. Niscaya bangsa itu akan lupa. Dan saat itulah ia akan hancur”.

Mungkin saya mempunyai pelesetan dari pernyataan di atas supaya (agak) relevan dengan tulisan ini, selain juga sebagai sebuah bentuk nasihat dari saya: “Untuk menghancurkan sebuah umat, bumihangus anak-anaknya. Niscaya umat itu akan lupa. Dan saat itulah ia akan hancur”. (Supri)

No comments:

Post a Comment