artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Coh’an Vs Fahmi (dan) Lukman


Pesan saya, sebelum Anda beranjak ke paragraf selanjutnya, lebih baik Anda membaca tulisan ini saat berak atau dalam keadaan mengantuk. Jikalau tak ingin menyianyiakan waktu Anda di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini dengan hal-hal sepele, seperti membaca tulisan ini. Selanjutnya, akan saya tempatkan kalimat yang seharusnya menjadi pembuka untuk paragraf kedua setelah titik pada kalimat ini, supaya Anda percaya bahwa membaca tulisan ini tidak termasuk dalam kategori ibadah. Dua hal yang tidak bisa kita pisahkan dari diri seorang Coh’an, adalah bola dan kopi dan keduanya menjadi bahan dasar pembuatan tulisan ini.

Beberapa hari menjelang Ramadhan Coh’an mengajak Fahmi (dan) Lukman sparing di facebook dan bahkan berlanjut saat Ramadhan. Namun yang membuat saya heran dan gagal paham, mengapa Coh’an mengajak Fahmi (dan) Lukman sparing di facebook, kenapa tidak di lapangan saja padahal belum atau baru menjelang Ramadhan. Entah setan apa yang membisiki, tiba-tiba saya mendapat ilham dan sampai pada kesimpulan; mungkin karena semua lapangan di Kairo berstandar internasional sehingga mereka ikut libur layaknya Sekolah Bertaraf Internasional.

Untuk ajakan sparingnya di facebook saat Ramadhan bisa saya pahami. Mungkin faktor daya tubuh atau mungkin faktor atribut yang menempel pada mereka. Mungkin yang pertama bisa langsung Anda pahami tanpa harus belajar atau ikut gathering atau wawancara dengan atdik. Lain halnya dengan kebijakan Temus kemarin. Dan yang saya maksud dengan atribut di mungkin yang kedua adalah status. Coh’an dengan statusnya sebagai mahasiswa yang selalu dituntut dan Fahmi (dan) Lukman dengan statusnya sebagai bagian dari kalangan borjuis—merujuk pada penuturan Coh’an di sini.

Seperti keutamaan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan selainnya, yaitu berlipatnya pahala bagi siapa yang bertakwa, tuntutan Coh’an sebagai mahasiswa di bulan Ramadhan pun berlipat. Sebelum bulan Ramadhan mungkin Coh’an hanya dituntut untuk menjadi mahasiswa ideal ala jargon sekolah yang berorientasi “profesional”: kuliah cepat, mudah dapat kerja dan bergengsi. Di bulan Ramadhan, selain dituntut menghamba pada jargon “profesional” tersebut, Coh’an diharuskan mampu memanfaatkan waktu di bulan Ramadhan ini. Maka, sebuah hal wajar kalau Coh’an lebih memilih facebook—yang bisa disambi dan ditinggal beribadah—sebagai tempat sparingnya daripada lapangan.

Tidak adil kalau saya hanya mengupas atribut atau status dari salah satu pihak saja. Ok, beralih ke borjuis. Sederhananya, supaya tulisan ini bisa Anda nikmati sambil ngopi, adalah bangsawan yang tangannya selalu steril, artinya, tidak pernah kotor. Nah, Coh’an sebagai kaum proletar yang untuk menafkahi dirinya sendiri harus mencucikan piring bekas makan orang lain tidak mampu mengimbangi pola hidup Fahmi (dan) Lukman yang bangsawan itu. Sehingga Coh’an tidak bisa menyewakan lapangan bertaraf internasional dan lebih memilih alternatif facebook daripada suq sayyarot. Jelas, suq sayyarot berdebu, Pek. Belum lagi kalau jatuh, bisa menyebabkan cacat pikir.

Sekilas pertandingan antar Coh’an dengan Fahmi (dan) Lukman adalah pertandingan yang tidak adil, tidak fair. Satu lawan dua. Namun mengingat Fahmi (dan) Lukman adalah dua begundal kecil, kita anggap saja ini pertandingan yang adil. Yang perlu diperhatikan oleh Coh’an, sebelum dia menyerang kembali Fahmi (dan) Lukman, anak kecil itu layaknya seperti pejabat. Dalam beberapa hal bersifat relatif, misal, imut atau ngganteng. Tidak semua anak kecil atau pejabat imut dan ngganteng. Dan dalam banyak hal bersifat absolut, artinya hukum relativitas tidak berlaku di sini, seperti,  dimanja dan dituruti dan dihormati dan tidak ada kesalahan dalam tindak tanduknya. Semua anak dan pejabat harus dimanja. Semua keinginan anak dan pejabat harus dituruti. Semua (anak) pejabat harus dihormati. Semua kelakuan anak dan pejabat tidak bernilai salah. Inilah beberapa hal yang harus diingat dan diperhatikan Coh’an supaya tidak kualat karena menyalahi adat yang sudah berlaku sejak zaman purba.

Coh’an dalam pertandingan ini tidak melulu menyerang. Di lain sesi dia membela Fahmi (dan) Lukman dengan suka rela. Seperti ketika Fahmi (dan) Lukman ditanya seorang kepala sekolah bertaraf internasional tentang pernah tidaknya dia—Fahmi (dan) Lukman—menonton film polno. Coh’an membela dengan tegas bahwa, “tentu jawaban dari pertanyaan luar biasa itu akan disaksikan dan direkam oleh semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Yang mereka semua juga punya potensi untuk menjadi orang MUNAFIK di panggung sandiwara ini, termasuk yang bertanya, termasuk yang mendengarkannya.”

Sebuah pertandingan dikatakan menarik jika terdapat tragedi saling serang. Dan sejauh ini tidak saya dapati respon serangan dari Fahmi (dan) Lukman. Entah kalau melalui serangan gaib. Atau mungkin Fahmi (dan) Lukman sedang khusyuk iktikaf di masjid milik Sekolah Bertaraf Internasional dalam rangka mencari ilham strategi serangan yang pas dan mematikan. Tapi saya berharap—mungkin Anda juga—Fahmi (dan) Lukman segera membangun serangan sebelum azan subuh dan kita jenuh lalu tertidur sampai menjelang maghrib.

Di awal saya mengungkapkan bahwa kopi menjadi materi pokok dalam tulisan ini. Supaya saya tidak dicap pembohong maka saya katakan dengan sejujurnya, sudah dua cangkir kopi tandas menemani saya dalam membuat tulisan ini. Dan saya berniat membuatnya lagi setelah tulisan ini rampung lalu menemani Wahab main PES 2015 yang baru saja diinstal. Oia, bagi yang belum kenal siapa Coh’an atau Fahmi (dan) Lukman bisa klik di sini, di sini dan di sini. Dan bagi yang penasaran dengan saya bisa klik di sini, insya Allah masih bisa menerima permintaan pertemaan.

Moh Faqih Dlofir
Terlahir ngapak dan biasa dipanggil Faqih, Dlofir atau Cah Gagah. Selama tidak ada urusan kegiatannya berupa makan, minum, tidur, bolak-balik kamar mandi dan nge-net. Kalau main PES selalu menang, mungkin karena jarang piknik. Oia, dalam pengakuannya dia senang membaca.

No comments:

Post a Comment