artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Lima Hari Penuh Berkah



Tak terasa lima hari di bulan Ramadhan ini telah kita lewati dengan penuh perjuangan untuk menahan hawa nafsu kita sendiri. Mulai dari makan, minum, menggunjing orang , berkata kotor dan masih banyak lagi. Meskipun begitu, lima hari yang telah kita lalui merupakan waktu yang sangat berharga untuk kitaisi dengan berbagai kegiatan ibadah. Terutama di malam hari, karena di waktu tersebut Allah menebarkan segala keberkahan bagi umat manusia.

Di antara  ibadah yang dilakukan saat malam Ramadhan adalah sholat Tarawih. Di dalamnya terdapat keberkahan, rahasia dan fadilah yang tidak dapat kita duga setiap malamnya. Diriwayatkan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata : Aku bertanya kepada Nabi SAW tentang keutamaan shalat Tarawih di bulan Ramadhan, lalu beliau bersabda:
1. Malam pertama, Allah membebaskan  orang mukmin dari dosa sehingga seakan-akan mereka baru terlahir di dunia.
2. Malam kedua, Allah mengampuni dosa orang mukmin dan kedua orang tuanya jika keduanya beriman.
3. Malam ketiga, salah satu dari malaikat penghuni langit berseru di bawah arsy: Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat”.
4. Malam keempat, dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur dan al- Quran.
5. Malam kelima, Allah ta’ala memberikan pahala seperti pahala orang yang sholat di Masjid al-Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid al Aqsa.
Sebenarnya hadis di atas yang menjelaskan keutamaan shalat Tarawih masih panjang hingga malam ketiga puluh, namun penulis hanya membatasinya hingga malam kelima saja.

Jika kita merenungi hadis di atas, maka kita tahu betapa dermawannya Allah di bulan Ramadhan ini. Sampai suatu pekerjaan yang terasa ringan bagi kita, akan diganjar Allah dengan pahala yang besar. Padahal hal tersebut tak seberapa di mata kita, namun ternyata di mata Allah sangatlah mulia. Contohnya lagi dalam hal bersiwak, Rasulullah SAW bersabda: Jikalau tidak memberatkan umatku, maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak”. Bersiwak menurut hukum asal adalah sunnah, hanya saja di bulan Ramadhan, bersiwak berubah hukumnya menjadi makruh jika dilakukan setelah tergelincirnya matahari dari tengah ufuk condong ke barat yang menandakan waktu zuhur telah tiba. Ini merupakan pendapat madzhab Syafii, dikarenakan ada hadis Rasulullah yang maknanya: Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa dihadapan Allah lebih harum daripada bau misik”. Hadis tersebut mengindikasikan bahwa bau mulut kita ketika puasa ternyata di hadapan Allah begitu mulia,  bahkan lebih harum dari pada minyak misik.

Oleh karena itu, marilah kita saling berlomba- lomba untuk melakukan kebaikan sekecil apapun itu. Karena boleh jadi  sesuatu yang kecil bagi kita, begitu mulia di mata Allah. (Tsani).
اللهم انك عفو كريم تحب العفو فاعف عنا يا كريم.

No comments:

Post a Comment