artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Pesona Alexandria kala Ramadhan


Kali ini akan kami sajikan suasana Ramadhan dari kota Alexandria, kota yang terletak di sepanjang laut Mediterania.  Alexandria atau Iskandariah adalah kota terbesar ke dua setelah ibu kota Mesir, Kairo. Tak kalah dengan Kairo yang menyimpan bejibun asar sejarah dinasti-disnasti yang pernah berjaya di Mesir, Alexandria juga menyimpan banyak peninggalan-peninggalan bersejarah mulai dari istana Montaza yang berdiri megah, juga Citadel Qait Bay Fort yaitu bangunan pertahanan yang dibangun Sultan Qaitbay Al Zahiry sebagai benteng pertahanan dari serangan turki Usmani. Benteng ini berdiri gagah menantang ombak. Dan masih ada banyak peninggalan yang lainnya.

Di musim panas, kota ini menjadi tujuan utama untuk berlibur, baik bagi penduduk lokal maupun wisatawan mancanegara. Di bulan Ramadhan, Alexandria juga banyak diminati mahasiswa asing, terutama Indonesia dan Malaysia, untuk mengikuti dauroh yang diselenggarakan oleh Maulana Syaikh Ala Mustofa Naimah dalam satu bulan Ramadhan penuh. Dauroh ini berganti-ganti tema tiap tahunnya. Berbeda dengan tahun kemarin yang bertemakan Ilmu Hadits, tahun sekarang Syeikh Ala mengusung tema Ilmu Balaghoh dengan kitab Talkhisul Miftah karangan Muhammad bin Abdur Rahman Al-qazwini yang mana kitab ini merupakan ringkasan dari kitab Miftahul Ulum karya Imam As-skaki.

Mungkin suasana Ramadhan di Alexandria tak jauh berbeda dengan suasana di Kairo, hanya saja terdapat satu dua hal yang bisa kita ambil sebagai perbedaan.

Jika di artikel sebelumnya dijelaskan bahwa puasa di Kairo tidak mengenal imsak ataupun tanda-tanda berakhirnya sahur kecuali azan subuh. Sedikit berbeda dengan fenomena yang disajikan Alexandria,  di kota ini setiap masjid menyelenggarakan dua kali azan subuh, azan yang pertama biasanya dikumandangakan 20 menit sebelum azan subuh. Ciri khas azan pertama ini tidak mengumandangkan lafal “Asholatu khoiru mina annaum”. Buat pemula dan yang tak tau tentang kebiasaan ini, azan ini sangat mengecoh karena dikira azan subuh sungguhan padahal waktu masih menunjukkan pukul 02:40 am.

Seperti saat hari pertama rombongan kami tiba di Alexandria,  kami terkecoh dengan azan tersebut meskipun kami sudah berusaha mengkroscek jadwal azan di islamic finder dan berrtuliskan subuh untuk kota Alexandria pukul 03.08 am dan kami berhenti makan sahur dan tidak melanjutkannya sampai akhir karena takut sudah masuk waktu subuh.

Selain itu, ketika berbuka puasa akan banyak didapati tempat-tempat bertenda yang khusus menyediakan hidangan buka puasa dengan cuma-cuma. Di depan tenda biasanya tertuliskan “Maaidaturohmaan” yang ditulis dengan besar dan jelas. Di bulan Ramadhan banyak sekali ditemui musaadah-musaadah untuk berbuka puasa semacam ini. Menu yang dihidangkan pun tidak tanggung-tanggung, satu porsi nasi basmati lauk ayam lengkap dengan sayur-sayurannya dan minuman balah bil laban (semacam kurma kering yang diolah dengan susu), tidak cukup sampai sini, di pintu keluar tenda nanti akan disuguhkan khalawiyat ( jenis manisan di Mesir). Untuk yang menginginkan berbuka dengan suguhan tersebut, disarankan jangan datang di detik-detik menjelang bedug maghrib. Namun jika masih ngeyel, jangan harap bisa makan dengan duduk.


Di Ramadham kali ini, kota Alexandria memecahkan rekor dunia dengan menghidangkan makanan buka puasa terpanjang di dunia sepanjang 3 kilometer. Pemecah rekor sebelumnya diraih oleh negara Italy yaitu dengan panjang 2 kilometer. Jum'at 27 Juni 2015 kemarin kursi dan meja  disepanjang jalanan pinggir pantai Alexandria ditata dan dijajajr sepanjang 3 kilometer dan kami hanya bisa melihatnya lewat kaca bus yang kami tumpangi sepulang dari kunjungan ke Maulana Syaikh AbdusSalam Sitta dan ziarah ke beberapa makam Auliya. (Ida)
Anis Safrida

Pecinta pelangi, penari dadakan, pengoncek brambang-bawang. Sesekali menjadi "polisi cerewet" percakapan. Belum menaruh minat untuk melihat sepak terjang Kim Jong-Un dalam seri drama Korea Utara. Terlahir di titik paling tengah kota Pulau Jawa (Magelang).

No comments:

Post a Comment