artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Ramadhan dan Kita




Ramadhan tak pernah sepi, seluruh hamba mendekatkan diri pada ketentraman hakiki guna menata kemudian menyempurnakan hati, juga membangkitkan semangat dalam jiwa dan menghapus semua iri dengki. Ramadhan penuh berkah, terdapat berjuta kebaikan dan karomah, pula terdapat malam Lailatul Qadar yang mana satu kebaikan memiliki ganjaran lebih dari seribu bulan. Ketika kita masih bisa menyapa bulan Ramadhan, sejatinya itu adalah sebuah anugerah yang tidak bisa diungkapkan dengan kata. Karenanya, tidak ada alasan untuk tidak mensyukuri kesempatan yang Allah berikan untuk merasakan bulan suci Ramadhan.

Ramadhan datang sebagai rahmat Allah kepada manusia, ia menjadi kesempatan untuk kita berinstropeksi dan membersihkan jiwa. Di bulan ini, manusia lebih membuktikan cintanya dan ketaatannya pada Sang Pencipta; rela menahan lapar dan dahaga dari fajar sampai terbenamnya matahari, menghindari aktifitas yang dilarang, memperbanyak amalan kebajikan. Manifestasi cinta ini juga bisa diwujudkan melalui perbanyak sedekah, menghindari amarah dan menjaga tindak tanduk serta tutur kata.

Terlepas dari laku di atas, banyak dari kalangan umat Islam masih menyepelekan bulan yang penuh rahmat ini, walaupun, baik keutamaan dan ganjaran di dalamnya, sudah banyak diketahui.

Bukan sebuah kesadaran jika seorang hamba mengerti sesuatu namun tidak mengamalkan apa yang diketahui. Mengamalkan itu jauh lebih berarti tinimbang sekadar mengetahui teori belaka. Lumrahnya manusia mengerti namun tidak mau mengamalkanapa yang ia ketahui dan apa yang ia mengerti. Dalam sebuah kisah diceritakan, ada seorang anak majusi yang tidak tahu diri makan di tengah-tengah pasar, padahal waktu itu adalah bulan Ramadhan, bulan dimana umat Islam sedang melaksanakan ibadah puasa. Ketika anak majusi itu sedang menikmati makanannya, tiba-tiba ayahnya datang lalu menyeret dan memukuli anaknya sambil berkata, “seharusnya kamu bisa menghormati umat Islam yang sedang melaksanakan puasa Ramadhan, tapi mengapa kamu tidak tahu diri makan di tengah pasar?!”

Perlu diketahui bahwa orang majusi ialah penyembah api yang terkenal sangat keras dalam mengajar dan mendidik anaknya. Masih dalam kisah tadi, selang beberapa tahun kemudian, orang majusi meninggal. Dan pada suatu malam, seorang alim bermimpi bertemu dengannya. Dalam mimpinya ia melihat orang majusi itu duduk di atas singgasana indah di surga. Lalu orang alim itupun bertanya kepada majusi tadi: ”Bukankah Anda seorang majusi, mengapa ada di tempat ini?” dan orang majusi itu menjawab: ”Memang pada awalnya aku seorang majusi tetapi ketika menjelang ajalku aku mendengar sebuah seruan di atasku: ‘Hai para malaikat-Ku, jangan biarkan ia mati tersesat dengan agama majusinya, muliakanlah ia dengan Islam, sebab ia telah menghormati bulan suci Ramadhan’.”

Dari cerita diatas, ketika seorang majusi menghormati bulan Ramadhan ia mendapatkan iman. Apalagi seorang muslim yang berpuasa dan ia bisa menghormatinya. Sudah sepantasnya ia lebih beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.

Dalam riwayat lain dikisahkan, tatkala Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dari kaumnya, Nabi Musa r.a berkata : “Apakah Engkau memuliakan hamba seperti Engkau memuliakanku ketika aku bercakap dengan-Mu Ya Rabb?” Lalu, Allah berfirman: ”Wahai Musa, sesungguhnya Aku akan menghidupkan suatu kaum pada akhir zaman (zaman nabi Muhammad SAW) dengan bulan suci Ramadhan, dan Aku lebih dekat dengan mereka dibandingkan denganmu. Sesungguhnya apabila kita sedang bercakap ada 70.000 hijab, dan apabila kaum Muhammad sedang berpuasa sampai memutih bibirnya dan menjadi pucat mukanya Aku akan mengangkat hijab antara aku dan umatnya pada saat mereka berbuka puasa. Wahai Musa, beruntunglah mereka ketika haus dahaganya dan lapar perutnya di bulan Ramdhan. Maka tidak ada balasan yang pantas untuk mereka kecuali pertemuan dengan-Ku. Sudah sepantasnya, untuk orang yang mengetahui kemuliaan Ramadhan menjaga hatinya dari dengki dan pertikaian dan juga bertambah imannya pada-Ku.”

Jika orang Majusi saja bisa menghormati bulan suci ini, mengapa kita tidak bisa menghormati dan memuliakannya?

Untuk itu, sebagai umat Islam yang harus memuliakan dan menghormati bulan Ramadhan, sudah selayaknya kita menggunakan waktu sebaik dan semaksimal mungkin. Dialah bulan yang di dalamnya penuh dengan kesabaran, barang siapa yang bersabar maka surga adalah hadiahnya. Dialah bulan yang permulaannya dan pertengahannya serta akhirannya: rahmat dan ampunan dan pembebasan dari api neraka.


Khoirun Nisa Nur 'Aini
Penyuka pagi, pemain bola voli, penikmat akhir pekan, pewarta liburan dan hiburan, belum pernah mengecup pipi lumba-lumba tapi berkali-kali makan indomie kari apalagi dengan kuah cucuran air wudhu suami #eh. Memiliki suara selembut sutra yang bikin meleleh hati. Kenalan? PM gan!!

No comments:

Post a Comment