artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Sekilas tentang Sahur di Mesir



Berbeda dengan kebiasaan sahur di Indonesia, di Mesir tidak mengenal istilah imsak. Bila di Indonesia banyak kita jumpai di brosur-brosur tercantum jadwal imsakiyah, juga di beberapa masjid selalu mengingatkan waktu imsak, bahkan sampai acara televisi tidak ketinggalan memberitahu para pemirsa setianya. Maka  di Mesir kami hanya mengandalkan islamicfinder.org untuk mengetahui waktu sholat subuh terkini. Jikapun ada brosur yang menyantumkan jadwal imsakiyah sangat sedikit jumlahnya, selain itu belum pernah saya mendengarkan peringatan imsak dari sebuah masjid di Mesir. Sehingga pada sahur pertama, seorang teman memutuskan untuk minum walaupun adzan sudah berkumandang. Mungkin dia menunggu imsak dari masjid sebelum adzan subuh sebagaimana di Indonesia dan belum minum setelah makan. Sedangkan di Indonesia beberapa umat muslim menjadikan imsak batas terakhir makan, minum dan besetubuh. Bahkan ada yang tidak sahur sama sekali ketika bangun dan mendapati sudah waktu imsak, padahal kita ketahui jarak antara imsak dan adzan subuh sekitar 10-15 menit. Jadi, kapan batas terakhir makan sahur? Apakah adzan subuh ataukah waktu imsak?

Puasa sendiri secara bahasa berarti imsak atau menahan. Sedangkan menurut istilah, syekh Hisyam Kamil dalam kitabnya al-Imta’ menjelaskan, puasa adalah menahan diri dari syahwat perut dan kemaluan dari tebit fajar shodiq sampai tebenam matahari dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.

Adapun waktu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum dan bersetubuh disebutkan dalam firman Allah:
وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ
Artinya : “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqoroh : 187)

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini bahwa Allah membolehkan makan, minum dan menggauli istri pada malam hari kapan saja seorang yang berpuasa menghendaki sampai tampak jelas sinar pagi dari gelapnya malam. Dan hal ini diungkapkan dengan benang putih dan benang hitam. Kemudian kesamaran ini dijelaskan dengan firman-Nya: مِنَ الْفَجْرِ “yaitu fajar”.

Imam  Ahmad meriwayatkan, dari al-Sya’abi dari Adi bin Hatim:
“Ketika ayat ini turun aku sengaja mengambil dua ikat tali, satu bewarna putih dan satu lagi bewarna hitam, lalu aku letakkan keduanya di bawah bantalku. Setelah itu aku melihat keduanya dan ketika sudah tampak olehku secara jelas antara tali yang putih dari yang hitam, maka aku langsung menahan diri (tidak makan, minum, dan berjima’). Dan keesokan harinya aku pergi menemui Rasulullah dan kuberitahukan kepada beliau apa yang telah aku lakukan itu.”  Maka beliau pun bersabda: “Kalau demikian tentulah bantalmu itu sangat lebar, sebenarnya yang dimaksud adalah terangnya siang dari gelapnya malam.” (Diriwayatkan Imam Bukhori dan Imam Muslim). Dan sabda beliau: ”Kalau demikian tentulah bantalmu sangat lebar,” maksudnya, jika dapat meliputi kedua benang putih dan hitam yang dimaksudkan dalam ayat tersebut, yakni terangnya siang dan gelapnya malam, berarti bantalmu itu seluas timur dan barat. (Tafsir al-Qur’an al-Azim juz 1 halaman 271).

Imam bukhori meriwayatkan, dari Anas dari Zaid bin Sabit: “Kami makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian beliau berdiri untuk melaksanakan sholat. Aku bertanya: “berapa antara adzan (subuh) dan sahur?” Dia menjawab: “sebanyak ukuran bacaan lima puluh ayat.” (Shahih Bukhori hadis ke-1921)

Sebagaimana penjelasan di atas waktu dibolehkannya seseorang untuk makan, minum dan bersetubuh di bulan Ramadhan adalah sejak terbenamnya matahri seluruhnya atau waktu magrib sampai waktu fajar. Adapun fajar yang dimaksud adalah fajar shodiq. Dinamakan fajar shodiq karena telah jelas dan tampak waktu subuh yang ditandai dengan warna putih yang menyebar di ufuk. Dengan  demikian apabila seseorang meyakini telah tampak fajar shodiq atau ditandai dengan adzan subuh maka wajib baginya mengakhiri makan, minum dan hal-hal yang dapat membatalkan puasa dan ini menjadi batas terakhir sesorang untuk sahur. Jika masih terdapat makanan atau minuman di mulut dan terbit fajar shodiq maka hendaklah dimuntahkan untuk kehati-hatian.

Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radiallahu “anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan pada malam hari. Maka makan dan minumlah kalian sehingga Ibnu Ummu Maktum mengumandangkan adzan.” Di dalam riwayat yang lain Imam Bukhori menyebutkan dari Aisyah radiallahu “anha bahwa Bilal biasa melakukan adzan di malam hari, maka Rasulullah shallallahu ‘alahi wasalam bersabda: “Makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummu maktum melakukan adzan, karena sesungguhnya dia tidak melakukan adzan kecuali sudah terbit fajar.” Dan di kedua hadis dikatakan: “Jarak antara adzan keduanya tidaklah lama melainkan bila yang satunya naik maka yang satunya turun (dari menara).” (Shahih Muslim hadis ke-1092 dan Shahih Bukhori hadis ke-1918,1919)

Sehingga barang siapa makan dan minum sebelum terbenam matahari seluruhnya yang ditandai dengan masuk waktu magrib atau setelah terbit fajar shodiq maka telah batal puasanya dan wajib menqadha’. Adapun waktu imsak sebagaimana yang biasa kita jumpai di Indonesia adalah untuk memperingati bahwa adzan subuh sudah dekat agar umat Muslim mulai hati-hati dalam melakukan sahur dan bukan menjadi batas akhir waktu sahur itu sendiri.
Demikian, semoga puasa dan amal perbuatan kita diterima oleh Allah. Aamiin.
Dhimas Pribadi

Kalau ada yang bilang dia jago beladiri ‘’Sangkal Putung”, itu benar. Kalau ada yang memanggil dengan sebutan “Cebong” itu juga benar. Lahir di atas kuda dari tanah Sumbawa. Dari kecil sudah akrab dengan bola, bangun pagi bola, di sekolah bola, pulang sekolah bola, siang bola, tapi sorenya nonton spongebob. Tak ada yang menduga kalau orang ini bakalan jadi Liverpuldian.

No comments:

Post a Comment