artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Sudahkah Puasa Anda Bernilai?


Allah telah menciptakan sesuatu ada yang istimewa dan biasa-biasa saja. Seperti masjid yang diistimewakan Allah adalah Masjidil Haram, tempat yang diistimewakan yaitu Makkah, hari yang diistimewakan adalah Jumat, seseorang yang diistimewakan adalah orang tua, bulan yang diistimewakan adalah Ramadhan dsb. Layaknya intan permata yang dibandingkan dengan tumpukan batu, maka sesuatu yang istimewa tersebut harus mendapatkan atensi lebih.

Dan Ramadhan kali ini merupakan sebuah momentum untuk mensyukuri berbagai nikmat Allah, salah satunya adalah anugerah kesehatan serta umur panjang untuk menikmati bulan suci ini dan memanfaatkan kesempatan tersebut dengan memaksimalkannya melalui segala amal kebaikan kita. Lewat segala pernak-perniknya, penduduk Mesir begitu antusias dalam mengindahkan bulan penuh berkah ini. Semisal, lewat lampu-lampu fanus yang sering menghiasi jalanan Kairo, suara tilawah di setiap masjid-masjid penjuru daerah dan maidaturrahman—shodaqoh dari tangan para muhsinin dalam bentuk hidangan berbuka puasa. Pun kegigihan Masisir dalam melantunkan kalam suciNya, juga dalam menjalankan sholat tarawih dan qiyam lail turut andil mengistimewakan bulan Ramadhan kali ini.

Meski begitu, tak jarang pula masih dijumpai orang-orang yang berpuasa hanya sekadar menahan lapar dan haus belaka dan yang puasanya biasa-biasa saja—tidak ada peningkatan signifikan dari Ramadhan sebelumnya. Bahkan lebih dari itu, sebagian dari mereka juga masih ada yang getol melakukan kemaksiatan di bulan suci ini. Semisal, mereka yang secara blak-blakan makan dan minum pada siang hari di pinggiran kota tanpa adanya rasa malu, yang tidak sengaja melihat status facebook seseorang hingga berujung pada jamaah rasan-rasan, atau karena menuliskan status facebook yang tujuannya hanya untuk riya dsb. Jika ditelaah lebih dalam, tindak kemaksiatan tersebut tidak akan lepas dari peranan setan yang selalu mengajak pada kebatilan.

Dalam sebuah hadis mengenai bulan Ramadhan, kanjeng nabi Muhammad bersabda: “Apabila bulan Ramadhan tiba, maka terbukalah pintu-pintu surga dan pintu- pintu neraka tertutup serta setan-setan terbelenggu.  (HR Muslim). Arti “setan terbelenggu” dalam hadis tersebut jika dipahami secara kasat mata, maka seperti terlihat adanya kontradiksi dengan segala laku kemaksiatan tadi. Bagaimana tidak, katanya dalam Ramadhan setan dibelenggu tapi kok masih terjadi kemaksiatan. Hal tersebut secara tidak langsung akan menimbulkan asumsi- asumsi apriori yang memicu pada sebuah persoalan. Karena, sangat tidak mungkin ada nash syar’i yang bertentangan dengan sebuah kejadian.

Dalam Kitab Assiyam dari Darul Ifta dijelaskan bahwa pemaknaan istilah “setan terbelenggu” di sini seharusnya dipahami secara komprehensif, dengan pemahaman bahwa kemampuan setan menjadi berkurang untuk menggoda orang yang sedang berpuasa. Atau dengan pemahaman bahwa sejatinya yang dibelenggu adalah setan yang durhaka saja, sedangkan setan yang lemah tidak. Bisa juga dari beberapa faktor lain yang menyebabkan timbulnya kemaksiatan selain dari setan itu sendiri, baik itu berupa kebiasaan jelek,  jiwa yang buruk atau karena setan yang berbentuk manusia.

Faktor ke-tiga tersebut yang sebenarnya harus kita diwaspadai, yang mana mengisyaratkan bahwa ternyata golongan setan bukan hanya dari jin saja, tapi juga berbentuk manusia. Hal ini senada dengan firman Allah dalam surat an-Nas: “Aku berlindung pada tuhannya manusia... dari golongan jin dan manusia.”

Syekh Mutawalli Sya’rowi dalam kitabnya Assyaithon wa Al-insan mengatakan “kita harus tahu  bahwa setan ada dua jenis, yaitu jin dan manusia. Keduanya mempunyai sifat yang sama, yaitu menyebarluskan kedurhakaan dan pengrusakan di bumi. Setan dari jenis jin adalah mereka yang durhaka dan bertugas membendung kebenaran dan mengajak pada kekeufuran. Setan dari jenis manusia juga melakukan tugas yang sama.

Ada sebuah hikayat dalam kitab Tanbighul Ghofiliin mengenai setan. Suatu ketika, setan melihat seorang songong yang kelihatannya khusyu berdzikir di masjid, seketika itu juga dia tertawa terbahak-bahak sambil tersenyum sinis. Lalu, dia bertemu dengan seorang yang berpuasa namun masih suka berada dalam mall, seketika itu pula dia tersenyum sinis. Kemudian, dia menjumpai seorang yang sedang membagikan zakatnya ke tangan ratusan fakir miskin, dan dia makin keras tawanya. Teman si setan penasaran, lalu menanyakan ihwal laku sinisnya itu.
“Kenapa engkau tersenyum sinis kepada mereka, padahal mereka melakukan kebaikan?”
Lalu, setan menjawab.
“Barang siapa yang mengaku telah merasakan manisnya zikir sementara ia masih gila dunia maka sama juga bohong, karena zikir dengan hubbud dunya ibarat air dan minyak. Barang siapa yang mengaku mencari ridlo Allah tanpa membenci nafsunya maka sama juga bohong. Barang siapa yang mengaku ikhlas sementara ia masih senang dipuji orang lain, maka sama juga bohong.”

Selain setan-setan yang berwujud manusia, dalam diri manusia sendiri juga terdapat hawa nafsu yang sering mengajak kepada kejelekan dan terus mendesak manusia hingga keinginannya tercapai. Mereka yang berpuasa namun masih senantiasa mengikuti hawa nafsunya itu sama saja, alias puasanya tidak ada nilainya.

Jika dikaji, sebenarnya salah satu hikmah disyariatkannya puasa adalah sebagai upaya pengendalian diri. Baik itu mengendalikan berbagai sifat buruk yang ada pada diri sendiri berupa nafsu maupun perbuatan nista lainnya yang bisa merugikan orang lain. Maka dalam berpuasa, kita bukan hanya sebatas menjauhi perbuatan nista yang ditimbulkan oleh setan saja, namun juga mengendalikan diri dari segala sesuatu yang dapat menimbulkan kemaksiatan. Sehingga nantinya, puasa kita akan lebih bernilai dan berkualitas.

Lantas, seperti apa puasa yang bernilai?

Adalah puasa yang bukan hanya sekadar menahan haus dan lapar saja, namun juga giat dalam melaksanakan amal kebaikan lainnya. Puasa yang ada peningkatan dari hari ke hari. Puasa yang bisa meninggalkan bekas pada diri seseorang.

Selama ini bila kita cermati, impresi dari Ramadhan itu sendiri belum bisa memberikan pengaruh lebih kepada seseorang. Seakan amal ibadah mereka hanya terasa ringan dalam Ramadhan saja, namun tidak untuk bulan-bulan setelahnya. Semua kemaksiatan seakan tersembul kembali seusai bulan Ramadhan. Begitu juga siklus amal kebaikan mereka yang nampak menurun pascaRamadhan. Hal tersebut lantaran standar kualitas amal mereka masih rendah yakni belum mencapai standar yang “ahsanu amala”, dalam artian pola ibadah mereka masih sebatas ikut-ikutan.

Mereka yang tidak mengetahui fadhilah-fadhilah bulan Ramadhan menganggap puasa hanya sebatas formalitas belaka. Menurut penulis, ada dua faktor yang mendasari fenomena tersebut. Pertama, lantaran olehnya dalam beribadah puasa, mereka belum  memurnikan niat semata-mata untuk Allah. Kedua, mereka belum menyertakan ibadah puasa ini dengan ilmu. Coba renungkan firman Allah dalam surat al- Mujadilah ayat 11 yang berbunyi:
 يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ اَمَنُوْا مِنْكُمْ وَ الَّذِيْنَ اُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَتٍ وَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ.
Artinya: “. . .(N)iscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Berangkat dari ayat tersebut, dalam ibadah kepada Allah kita juga perlu ilmu agar dalam melakukan ibadah tersebut sesuai dengan petunjukNya sehingga memperoleh standar kualitas ibadah yang tinggi. Banyak orang berpuasa namun tidak dibekali dengan ilmu yang mamadai. Mereka hanya sebatas mengetahui syarat sah dan rukun puasa saja, namun tidak pada peningkatan amal kebaikan di dalamnya.

Karena itu agar kiranya puasa Ramadhan kita bernilai, kita harus memperdalam ilmu tentang puasa dan ibadah lain di bulan Ramadhan. Agar senantiasa bisa lebih giat dalam menyemarakkan perbuatan ihsan, tentunya tidak hanya di bulan Ramadhan saja, namun juga diaplikasikan pada bulan-bulan setelahnya. Sebab sejatinya, ke-istiqamah-an tidak terbatas pada aplikasi amar makruf nahi mungkar saja, namun juga konsistensi dalam mengerjakan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala apa yang dilarangNya.

Sebagai penutup, penulis hadirkan salah satu doa Jibril yang diamini oleh Nabi.

“Celakalah seorang yang mendapati bulan Ramadhan namun setelah Ramadhan berlalu ia berada dalam dosa-dosanya yang belum diampuni oleh Allah.” Wallahu a’lam.
Amna Mushoffa

Jomblo jumpalitan, pengamat lampu jalan dan kemacetan, pemuja sepak bola #halamanrumah, penggemar drama percintaan masisir. Mata dan rambut segendang-sepenarian dengan aktor Descendants of Sun dan mengaku mirip dengannya. Hidup yang nomaden membuatnya sulit untuk diidentifikasi lebih lanjut.

No comments:

Post a Comment