artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Trofeo Agustuso Pitulasano


Agustus menjadi bulan yang mempunyai makna tersendiri bagi bangsa dan rakyat Indonesia. Apalagi kalau bukan adanya hari kemerdekaan. Hari lahirnya bangsa Indonesia. Menjadi meriah dan riuh dengan diadakan beraneka ragam lomba di setiap tempat yang ditinggali oleh warga Indonesia. Momen ini tidak disia-siakan oleh ketua Al-hikmah untuk mengelar pertandingan futsal antar almamamater. Mereka mengajak Misykati dan Ikamaru, dua almamater sekaligus sebagai lawannya. Semacam trofeo di khazanah persepakbolaan Italia yang mempertemukan tiga  kesebelasan dengan gelar juara terbanyak.

Sesuai dengan kesepakatan, 18 Agustus bertempat di Nadi Syabab Madrasah digelarlah Trofeo Agustuso Pitulasano pada sore hari. Yang mana Misykati bertarung dengan Al-hikmah pada pertandingan pertama, selanjutnya Al-hikmah bersua dengan Ikamaru. Dan pada pertandingan terakhir Misykati berjumpa dengan Ikamaru.

Pertandingan antar-tiga tim berlangsung tegang dan cukup alot. Meski tidak menampilkan permainan seperti layaknya derby-derby kelas dunia, tapi pertunjukkan tiga tim ini sedap dilihat. Walau terkadang ada duel-duel sengit dan tubuh-tubuh berjatuhan ke tanah, akan tetapi tidak sampai seperti derby super classico antar Boca Juniors vs River Plate di Argentina yang menjurus kasar. Bahkan bagi penulis derby tersebut lebih tinggi satu tingkat levelnya dibanding derby el classico Barcelona vs Real Madrid di Spanyol.

Tak dipungkiri Trofeo ini menyedot banyak perhatian warga masing-masing almamater. Setidaknya tiga puluh kepala menyambutnya dengan datang ke lapangan. Bukan hanya untuk bertungkus-lumus dan mencari keringat di lapangan, tetapi untuk mempererat tali silaturahmi antar anggota. Lebih-lebih mempertautkan antara tiga ketua dari masing-masing almamater yang baru saja terpilih. Lapangan yang disewa dua jam hampir tidak mampu meratakan seluruh hadirin untuk bisa bermain secara bergantian apalagi saling bertukar teknik antar individu.

Eduardo Galeano, penulis legendaris Uruguay pernah menyerat dalam bukunya Soccer in Sun and Shadows, sejarah panjang sepak bola adalah sebuah perjalanan menyedihkan dari keindahan berganti menjadi tugas yang remah-remah sepah. Ketika olahraga menjadi sebuah industri, semua hal menjadi tontonan (siaran pertandingan sepakbola). Dari hal yang penting sampai remeh-temeh (pernak-pernik sepak bola, misal: Park Ji Sung mengoleksi mobil dengan merk Toples Krupuk atau Sir Alex Ferguson sekali mandi menghabiskan 5 buah shampoo sachet ). Dan karena bisnis siaran itulah sepak bola menjadi salah satu pundi-pundi pemasukan paling menguntungkan di dunia. Teknokrasi olahraga profesional telah merancang sedemikian rupa untuk menghadirkan kilatan kecepatan dan brutalitas kekuatan. Dari bisnis ini menjadikan sepakbola yang menegasikan kegembiraan, membunuh fantasi dan mencabut keberanian semata demi uang.

Hari itu, di tengah perkembangan global di mana sepakbola ditempatkan nyaris seperti reklame iklan-iklan, Misykati, Al-hikmah juga Ikamaru berhasil mengembalikan sepakbola pada tugas sucinya; permainan. Yang mana kegembiraan dan kesenangan menjadi harga mati.

Hari itu, selang satu hari setelah kemerdekaan Indonesia, Misykati, Al-hikmah dan Ikamaru mengajarkan kepada kita bahwa menikmati sepak bola bukanlah dengan memikirkan kualitas jersey atau alas kaki yang dipakai. Tapi dengan berkumpul bersama, bercanda bersama, guyub rukun untuk merekatkan semua elemen yang ada.

Toh, hidup akan baik-baik saja walau tidak ada . . .* yang mengelola sepakbola.

Merdekahh!!!
 *(silahkan titik-titik tersebut diisi sendiri. Misal : FIFA/PSSI)

Ayatullah El Haqqi
Pemuda ini lahir di daerah penghasil tembakau, tetapi tidak suka merokok. Kali pertama datang ke Mesir diajak ludrukan dan dibaiat dengan nama “Supri” di lapangan futsal. Kata teman-teman ia sangat pendiam. Hafal Pancasila dan tepuk pramuka.

No comments:

Post a Comment