artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Festival Samaa': Sarana Momong Adek-adek Imut Harapan Bangsa

Here, man is the homeland and the homeland is man. Samaa’ slogan.

Berawal dari sebuah pesan grup watsap Misykati yang dikirim oleh seorang Misykatian yang mengaku fans sejati Justin Bieber (baca Musabiq)
yang isinya begini:
“Sesuai kepres yang dikeluarkan oleh ketua Misykati no 69 tahun 2015 tentang KBYNS; Kupret Bareng Yuk Nonton Samaa’. Ketua Misykati mengajak teman-teman Misykati nonton bareng festival Samaa’ di qal’ah Salahuddin al-Ayyubi malam ini pulul 19.00 WK.”

Ajakan itu bagi saya pribadi, bagai melati di padang sahara, karena akhir-akhir ini saya (merasa) kurang piknik, sehingga pikiran selalu berjalan entah kemana, terbayang-bayang entah siapa. Dan mungkin bagi dedek-dedek imut harapan bangsa juga merasakan seperti yang saya rasakan tersebut. Apalagi dalam seminggu setelah datang ke Kairo, adek-adek dikuras otaknya oleh ujian tahdidul mustawa. Juga dikuras tenaganya oleh serangkaian ormaba yang melelahkan.

Oke, mungkin yang belum tahu Samaa’ akan saya jelaskan secara global. Festival Samaa’ atau lengkapnya The international Samaa' festival for spiritual musik and chanting ialah sebuah festival musik dan nyanyian rohani yang diadakan setiap tahun. Acara ini berada di bawah naungan kementerian kebudayaan Mesir dan bekerja sama dengan menteri hubungan budaya asing dan pengembangan budaya. 


Festival ini bertujuan untuk memperkenalkan berbagai seni, budaya dan warisan agama dari warna-warni bangsa di seluruh dunia. Mencoba meneladani perjalanan-laku mistik Sufi yang mempromosikan cinta perdamaian dan hubungan manusia pada semua agama.


Tanpa menunggu lama Misykatian pun setuju (mungkin karena gratis), termasuk Moh. Faqih Dlofir. Entah ada modus apa ia mau ikut, namun, husnudzan saya, ia ingin ikut andil menjaga dan membuktikan kasih sayangnya pada dedek-dedek imut harapan bangsa.

Selaku ketua, M. Ilham Azizi mengkoordinir pemberangkatan. Wilayah Ashir berkumpul di sekretariat Misykati dan berangkat pulul 17.45 WK. Sedang wilayah selain Ashir (termasuk Zimbabwe) langsung menuju ke qal’ah.


Walau hari itu sangat panas, bunyi klakson saling bersahutan dan bau keringat yang bercampur oksigen terpaksa harus kami hirup.
Namun semangat Misykatian tak juga redup. Sekitar pukul 19.00 WK, seluruh Misykatian telah berkumpul di tempat tujuan, yaitu benteng Salahuddin
yang berdiri di kawasan Jabbal Muqattam. Lokasi ini merupakan kawasan perbukitan paling tinggi yang terletak di kota Kairo. Posisinya yang sangat strategis untuk mengontrol kawasan-kawasan penting dari serangan musuh, membuat Salahuddin memilih Jabal Muqattam sebagai lokasi bentengnya.
Namun kedatangan Misykatian bukan untuk melihat kemegahan dan kekokohan benteng itu tapi acara festival Samaa’ yang diadakan di benteng tersebut. Dan merasakan euforia dengan penonton-penonton yang lain. Sebab festival Samaa’ selalu menarik pengunjung, tak hanya pribumi, wisatawan asing pun banyak yang datang turut meramaikan acara ini. 

Acara dimulai pukul 19.30 WK. Beberapa kelompok musik, yaitu dari India, Pakistan, Bangladesh, Cina, Bosnia, Yunani, USA, Zambia, Nigeria, Kuwait, Jordan, Suriah, Tunisia, Maroko, Indonesia dan Mesir selaku tuan rumah tampil bergantian, berkolaborasi satu sama lain. 
Dengan dialog musik yang berbeda-beda dan nuansa mistik musik rohani, semua Misykatian begitu terhibur dan ada beberapa yang tercengang.
Salah satu contoh ialah Ngid alias Glowor, ia sempat berdiri di atas kursi sembari berjoget ria ala monata. Untung saja ia tidak sampai melepas pakaian dan melompat ke atas penonton.


Oiya,  untuk penampilan musik dari indonesia sendiri, diwakili oleh kelompok musik Dai Nada yang bergenre islamic acapella. Mereka
diundang langsung oleh Dr. Intessar Abdel Fattah, selaku pimpinan acara ini juga seniman kenamaan sekaligus pimpinan istana budaya al-Ghury
Mesir. Karena ketertarikan Dr. Intessar secara pribadi dan masyarakat Mesir secara umum terhadap performa Dai Nada melalui lagu-lagu di
album dan video klip yang sering diputar oleh stasiun tivi dan radio Mesir. Mereka biasa bernyanyi dengan 3 bahasa, Arab, Inggris dan Prancis. Dan
beberapa kali tampil untuk kawasan timur tengah, terutama Mesir, Al-jazair dan Maroko. Selain itu para personil Dai Nada juga sedang menempuh kuliah di Universitas al-Azhar. Performa mereka mendapat pujian paling meriah oleh penonton maupun peserta festival Samaa’ dari negara-negara lain.

Acara selesai pada pukul 22.30 WK. Setelah itu Misykatian langsung berfoto ria di sekitar panggung Samaa’ dan qal’ah. Setelah dirasa cukup,
puas dan lelah, kami memutuskan untuk pulang. Karena sudah malam biasanya bus jarang yang lewat, Misykatian berjalan bersama ke Sayyidah
Aisyah untuk mencari bus. Terlihat Misykatian sudah mulai loyo dan mengantuk tetapi karena dilakukan bersama-sama, semua senang saja.
Setelah menunggu lama namun bus jurusan Hay Ashir tak kunjung tiba, M. Ilham azizi pun berinisiatif menyewakan tramco, setelah tawar
menawar harga, harga mati pun disepakati. Satu tramco diisi penuh oleh Misykatian. Perjalanan Sayyidah Aisyah-Hay Asyir terasa hidup karena ada sendau gurau, tawa dan senyum manis dedek-dedek imut harapan bangsa di dalamnya.

Peace!
Pandu Dewanata

Penikmat puisi, cerpen dan novel. Selain menikmati hal-hal yang berbau sastra dia juga suka menulis puisi, terutama yang bertemakan cinta. Seperti yang terefleksikan dari foto, dia adalah seorang perokok, sama seperti Cah Gagah. Dan juga, dia terlahir ngapak.

No comments:

Post a Comment