artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Mengasuh Dedek-Dedek Harapan Bangsa

Setelah beberapa bulan Masisir mengalami dehidrasi dan kemarau panjang, akhirnya mereka tidak lagi hanya bisa menelan ludah. Krupuk udang, abon pedas, abon manis, sambal terasi, Mie Sedap, caos pedas bahkan hati dan perasaan pun mereka telan. Tentunya dengan ditemani secangkir kopi lelet dan rokok cengkeh.

Apa sebab? Tak lain dan tak bukan karena kedatangan dedek-dedek imut harapan bangsa (baca MABA).

Dehidrasi dan kemarau panjang di awal kalimat saya mohon kepada pembaca untuk diartikan seluas-luasnya. Supaya nantinya saya tidak dicap cacat logika, sesat pikir dan pada akhirnya kapir. Okay, mungkin perlu sedikit pencerahan tentang dehidrasi dan kemarau panjang supaya ketakutan saya di atas tidak terjadi.

Dehidrasi dalam kitab KBBI diartikan dengan: kehilangan cairan tubuh. Namun di situ tidak ditampilkan apa sebabnya. Lewat celah ini pikiran-pikiran liar saya masuk. Bisa jadi disebabkan oleh menipisnya penghasilan, kehilangan pacar, patah hati akut atau ditinggal nikah. Dan semuanya itu—saya kira—mempunyai potensi untuk membuat kita galau dan tidak minum air putih selama satu bulan lebih. Di titik inilah dehidrasi ketemu.

Untuk kemarau panjang silakan gunakan imajinasi kalian sendiri-sendiri. Gunakan segala cara biar terkesan nyambung. Tidak hanya pada “kemarau panjang” juga dengan tulisan ini. Wong media online saja bisa mengait-pautkan kedatangan Jokowi dengan tragedi crane,  masa kalian tidak bisa menyambung-hubungkan setiap paragraf di tulisan ini.

Saya lanjutkan.

MABA atau dedek-dedek imut harapan bangsa mempunyai andil penting dalam dinamika kehidupan Masisir. Mereka menjadi pelipur lara bagi yang rindu makanan Indonesia dan rindu mencurahkan kasih sayang dan perhatiannya tapi tak kunjung menemukan mangsa. Selain itu, mereka juga menjadi bibit-bibit kader organisasi baik yang bercorak kiri, kanan, depan, belakang, atas, bawah.

Kebaikan-kebaikan MABA yang tampil secara implisit atau tidak kentara, di sini, dari hari ke hari menjadi sebuah kewajaran. Karena sudah menjadi sebuah kewajaran maka hilanglah nilai-nilainya. Dampak lebih lanjut, yang ada hanyalah keramah-tamahan ala PDKT jomblo labil. Hanya mampu bertahan satu bulan. Dampak lebih buruknya, mereka dieksploitasi dengan gaya playboy kaffah. 

Menurut saya, sebab dedek-dedek imut selain harapan bangsa juga harapan bapak-ibu kita, maka seyogyanya kita mengasuh dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Terserah mau mengaplikasikan kasih sayang dengan cara mentraktir makan tiap hari, menjadi kurir antar-jemput atau pembimbing belajar bersama.

Kalau masih buta bagaimana cara mengasuh-rawat dedek-dedek imut dengan cara yang benar. Mungkin kita bisa belajar dari cara jomblo kaffah mengasuh para gebetannya. Landasan pertama yang harus diketahui adalah tujuan mereka. Jomblo kaffah tidak hanya tahu, bahkan juga ikut memikirkan dan mendukung cita-cita, tujuan hidup gebetannya. Gebetan bercita-cita lulus kuliah tahun depan, maka kewajiban jomblo kaffah adalah menyediakan segala tetek bengek penunjang kelulusannya. Skripsi, tugas mingguan, laporan dan tinta printer.

Begitu juga dengan kakak-kakak keren yang mau mengasuh para dedeknya. Harus tahu tujuan kedatangan mereka ke sini, Mesir. Belajarkah? Organisasikah? Politikkah? Bisniskah? Atau untuk mengejar jodoh dengan titel Lc-nya? Di indonesia sekarang banyak loh, bidan-bidan dan perawat yang mengidamkan alumni Timur Tengah.

Setelah mengetahui tujuan dedek-dedek jauh-jauh datang ke Mesir, laku selanjutnya yang harus ditindaklanjuti untuk menunjang kenyamanan hati dedek-dedek adalah sikap bijak kita.Poin ini juga hasil pengamatan saya atas laku para jomblo di seluruh negeri. Jomblo yang telah menduduki maqom kaffah selalu berlaku bijak pada gebetannya. Tatkala  gebetan sedang ngambek dengan pasangan sesungguhnya, jomblo kaffah siap sedia menghiburnya. Tatkala gebetan sedang akur dan mesra dengan pasangan sesungguhnya, jomblo kaffah pun siap sedia ditelantarkan. Tidak pernah memaksa gebetannya melakukan ini itu. Tidak pernah menggugat perannya yang dipakai ketika dibutuhkan saja. Sebab para jomblo kaffah paham, di jaman sekarang itu adalah hal lumrah. Wong Tuhan saja didekatinya pas dibutuhkan, apalagi hanya setingkat jomblo kaffah.

Kakak-kakak keren  juga harus bersikap bijak dalam mengasuh dedek-dedek imut harapan bangsa layaknya jombo kaffah merawat hati gebetannya. Nggak usahlah menyetir mereka jikalau mereka tidak sepaham dengan tujuan kita. Sejak keluar dari dalam kandungan ibunya mereka selalu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya bisa menjadi ulama, masa kakak-kakak berani mencegah cita-cita luhur mereka.

Dari rumah mereka sudah membayangkan di sini bakal menjadi aktivis organisasi beken, masa kakak-kakak mau menjegal tujuan yang mulia itu. Selama tujuh hari tujuh malam sebelum berangkat mereka sudah memimpikan bertemu dengan pemimpin parpolnya yang bercokol di Mesir—sebab di Indonesia mungkin terlalu sulit untuk inbok-an dengan petinggi parpol, masa kakak-kakak tega mengubur mimpi-mimpinya yang telah diidam-idamkan itu. Sepanjang perjalanannya di pesawat mereka sudah ikut melambung tinggi dengan harapan bakal menjadi pebisnis ekspor-impor antarnegara, masa kakak-kakak sebegitu jahat menolak angan-angan mereka yang begitu indah.

Toh kalau diselidiki lebih dalam tujuan-tujuan di atas tidak terlepas dari sifat belajar. Tapi entah tempat dan waktunya pas atau tidak,wallau a’lam bi as-showab. Yang terpenting apa-apa yang mereka citakan di sini tercapai. Bukankah mendukung cita-cita dedek-dedek imut termasuk perintah agama. Mahasiswa Al-azhar pasti tahu lah dalilnya. Yang jelas, semua itu harus diniati dengan ikhlas dan penuh kasih sayang.

Selamat mengasuh dan selamat berkurban.

Moh Faqih Dlofir
Terlahir ngapak dan selama tidak ada urusan kegiatannya berupa makan, minum, tidur, bolak-balik kamar mandi, sama nge-net. Kalau main PES selalu menang, mungkin karena jarang piknik.

No comments:

Post a Comment