artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Suara

Oleh: Darmono*

Suara itu mulai mendekatiku yang tak lagi mengikuti rutinitas di atas kapal, dua tahun lalu aku adalah pekerja di salah satu kapal pesiar di pelabuhan Tanjung Benoa Bali. Beberapa kawan yang memutuskan pensiun setahun setelahku juga merasakan hal serupa.  Kami saling bertukar kabar perihal suara yang mengganggu kami saat malam tiba, yang terdengar seperti lolong anjing, terkadang seperti desis ular juga meong kucing.
Suara-suara yang terus mengganggu di malam hari kini mulai menjamah aktifitasku di siang harinya. Bahkan saat aku beribadah, suara-suara itulah yang muncul di pikiranku. Aku pun mulai resah dan terganggu, hampir seharian aku memikirkannya, mencari jawaban, hingga senja kembali gelap oleh malam. Belum juga kutemukan sebuah titik terang dan suara itu pun masih menggema.
Di pagi harinya, tiga buah pucuk surat singgah di halaman depan rumah. Terlihat baru beberapa detik lalu, kupaksakan diriku keluar ke jalan dan kudapati seorang pengantar surat mengayuh sepedanya berlawanan dengan arah datangnya sinar matahari. Sambil memeriksa satu persatu alamat pengirim surat, aku berjalan menuju teras dan duduk di salah satu kursi yang terjejer rapi di sekeliling meja dan secangkir kopi panas di atasnya.
Satu persatu ketiga surat itu kubuka. Aku terkejut saat kudapati ketiganya memiliki maksud yang sama, keluhan yang sama, juga keinginan yang sama. Terlebih lagi, aku juga memikirkan hal serupa dengan isi surat-surat tadi. Aku tertegun, sempat beberapa menit melamun, sampai seekor gagak hitam membuyarkan lamunanku. Ia bertenger pada pagar rumahku.
Sejak kehadiran ketiga surat pagi tadi. Aku mulai menyiapkan beberapa barang yang perlu ku bawa saat perjalanan nanti. Sejumlah uang dan sebilah belati. Tapi, tidakkah semua ini janggal? Tiga surat beserta isinya yang sama, waktu pengiriman juga sama, semuanya terlihat tak biasa, tak begitu normal. Tapi apapun itu, suara-suara ini masih saja mengganggu dan aku lebih percaya kepada ketiga kawanku dari pada berspekulasi liar dengan imajinasiku sendiri.
**
Sore harinya aku meninggalkan perkampungan. Lewat jendela angkot jalan raya terlihat menyala-nyala dengan lampu mobil dan kendaraan, kunyalakan sebatang rokok dan apinya tetap terjaga hingga sampai ke tempat orang-orang menunggu bus kota. Entah, tak ada penumpang lain selain aku, mungkin sudah menjadi kebiasaan orang-orang desa untuk bepergian di pagi-pagi buta dan kembali lagi sore harinya. Bisa juga hari ini bukanlah hari baik untuk bepergian, karena orang jawa kerap mengartikan kebaikan hanya pada hari dan tempat tertentu. Keadaan ini bertahan dan aku harus segera turun, karena angkot ini sudah berhenti di salah satu halte tempat orang-orang menunggu. Tak berlama-lama angkot itu kembali meluncur setelah dua lembar ribuan yang kusodorkan saat turun tadi.
Selang beberapa menit, sebuah bus berhenti di depan kami. Para penumpang berhamburan keluar, berdesak-desakan, salah seorang terpental, terjatuh, ia terluka, mengerang dan memegangi salah satu kakinya. Suasanya sore itu tiba-tiba menjadi gaduh, beberapa orang berusaha menolong orang itu dan sebagian lainnya saling menyalahkan. Aku tak mengerti, keadaan berubah dalam hitungan detik, orang-orang saling menuding, melindungi diri, bahkan sang sopir juga terlihat sedang cekcok dengan keneknya. Penumpang yang masih di dalam bus merasa dirugikan, sebagian ingin segera meneruskan perjalanan, sebagiannya lagi terjebak kegaduhan di pintu bus. Beberapa di antaranya mulai melontarkan umpat serapah, aku hanya berdiri di salah satu sudut halte itu, melihat dan mendengar kehidupan yang dalam satu kedipan mata dapat berubah dengan mudahnya.
“Copet! Dompet saya hilang..!’’ seorang ibu paruh baya meminta pertolongan. Kegaduhan bertambah, orang-orang gelagapan.
“Copet! Itu dia copetnya!” penjual asongan menunjukan seseorang yang berlari meninggalkan kerumunan. Tanpa perintah dari siapapun, kerumunan tadi mengejar seorang yang terduga copet itu dan hanya menyisakanku dan beberapa orang. Entah apa yang membuatku diam di tempat, tiba-tiba saja aku merasa janggal, selain wanita dan anak-anak, ada seorang laki-laki lagi selain yang terpental tadi. Aku mulai curiga, pakaian serba hitam dan badannya yang tinggi besar juga air muka yang tampak datar-datar saja dalam kegaduhan seperti ini membuat kecurigaanku bertambah besar.  Ia menyadariku, ia balas menatapku, begitu tajam, kemudian senyum kecut terlukis dari sudut bibirnya.
Sedetik kemudian seorang berlari ke arah yang berbeda, ku edarkan pandangku ke segala penjuru.
“Orang yang terpental tadi hilang!” celetuk salah seorang.
‘’Kemana dia?’’ tanyaku pada sekumpulan yang tersisa.
Lagi-lagi aku merasakan aroma kejanggalan, mereka bergeming, tak ada yang bergerak, tak ada yang menjawab, tak ada yang tahu. Tidak! mereka sengaja menyumpal mulut mereka. Mungkinkah? Apa hanya imajinasiku saja, atau, bukan! Ini tak seperti yang aku pikirkan! Aku rasa, mereka memang tidak ada yang benar-benar tahu.
Kuedarkan kembali pandangan ke segala penjuru, ruko-ruko, lorong terminal, parkiran dan kudapati seorang berlari menuju persawahan. Ya! dia lah si pencopet sebenarnya! Seorang yang pura-pura terpental dan pelari sebelumnya hanyalah sebuah umpan!  Kuperhatikan orang-orang di sekelilingku, tak ada yang berubah, mereka tetap saja bergeming. Bagaimanapun, seseorang harus mengejar copet yang sebenarnya. Tidak! Akulah yang harus mengejarnya.
Belum sempat aku melakukannya, sebuah godam menggempur pelipisku. Aku tersungkur, darah amis mengalir, kepalaku berdenging. Aku masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi yang jelas, pria tinggi besar dan pakaian serba hitam itulah yang menyerangku. Kupaksakan tubuhku bangkit dan godam pria itu kembali menggempur pelipisku. Aku terpelanting, ia tak memberiku sedikit pun celah untuk membalas serangannya. Entah dari mana ia datangkan godam itu. Dua, tiga godam bersarang di wajahku, mengoyak hidung dan bibir. Darah menyembur, godam itu terus berayun, merobek kelopak mata, meratakan hidung, darah semakin berhambur, godam itu masih saja berayun, menghantam kedua pelipis, koyakan daging berserakan, dapat kurasakan sebelah telingaku yang terhempas lepas ke tanah bersama gigi-gigiku yang protol. Aku terpelanting lagi, hanya sebelah mataku yang masih berfungsi, bisa kulihat bayangan tubuh pria itu, meski samar, ia kembali mendekatiku, dengan godam di tangan kanannya.
“Apa kau menerima surat dari kami Garu?’’ sapa pria itu.
Surat?’’  jawabku tercekat. “Tidak! Tidak mungkin! Suara itu, aku mengenalnya. Kau kah itu?” tambahku.
‘’Yaa,, kau benar Garu. Ini aku, apa kabar denganmu?’’  jawab pria itu datar sambil melepas kumis dan janggut palsu.
Aku tercekat, leherku serasa dicekik dan otakku berdenyut kencang. Tak kusangka, pria di hadapanku ini adalah Darmono, kawan lamaku di pelayaran. Aku, dihabisi oleh kawanku sendiri. Tapi kenapa ?
“Aku tak pernah berharap menghadiri acara reuni dengan cara yang seperti ini Dar..’’ kataku sambil memegangi wajah yang tak lagi utuh.
“Aku pun begitu Gar. Maksudku, kami juga tak bermaksud mengadakan reuni dengan cara seperti ini. Tapi, kau sendirilah yang memilih semua ini..”
‘’Kami? Apa itu berarti, dua orang pelari tadi?” selidikku.
Yaa.. mereka Parto dan Broto, surat yang kau terima pagi tadi bagian dari rencana, sudah lama kami merencanakannya. Kami rasa, hari ini adalah hari baik untuk menghabisimu.’’ jawab Darmono datar.
“Lantas kenapa? Tanpa sebuah penjelasan, kalian berbuat semena-mena terhadapku..” tanyaku lagi sambil menahan rasa nyeri di bagian mulut.
“Apa kau masih ingat, saat kita di pelayaran? Saat itu kita hanyalah sebuah band kecil yang menghibur para wisatawan di dalam kapal. Kita hanyalah band sewaan dengan upah kecil, kontrak kita tak tetap dan kerap berpindah-pindah dari satu kapal ke kapal lainnya. Sampai dia datang, apa kau mengingat seseorang?”
“Ahh,, Rinda!!”
“Ya..Rinda lah yang mengubah nasib kita. Sejak ia bergabung dan mengisi vokal di band, tawaran mulai laris, uang mengalir, nama kita melangit, sampai salah seorang pemilik bisnis kapal itu mempekerjakan tetap band kita pada salah satu kapal miliknya. Sejak saat itu, kita tak lagi kelaparan, tak ada pakaian lusuh, badan kita harum dan yang terpenting kita juga dihormati.’’
“Terpenting?”
“Maksudku, kau tahu Garu, negeri yang kita tinggali lebih bisa menghormati bendera dari pada nasib hidup sesama manusia.”
“Apa Rinda, juga ikut menghabisiku?”
“Ya,,tentu. Kalau saja, ia tak mengikat lehernya pada salah satu pohon di taman kota. Pasti ia sudah mencolok kedua matamu. Kau tahu, kejadian itu menyisakan lubang besar di hati kami. Lubang yang tak kalah besarnya saat kau nyatakan cintamu padanya di pentas terakhir kita, asal kau tahu lagi Garu, kami bertiga menyimpan rasa yang sama. kalau saja, ia tak menyimpan hatinya padamu, kami tak pernah rela kau menggandeng tangannya.’’
“kenapa tak satupun dari kalian yang mengabariku soal Rinda?”
“Rinda telah mati, tak akan pernah kembali dan ia bukanlah veteran perang ataupun salah satu hiburan di televisi yang kematiannya adalah kabar, adalah uang, adalah jajanan yang setiap orang bisa menikmatinya lewat sekali pencetan pada remot televisi. Bukan, Rinda bukanlah semua itu!”
“Kenapa seolah aku yang paling bertanggung jawab atas kematiannya? Seolah hanya aku seorang temannya, lalu kalian ini apa?!”
Air muka Darmono berubah, ia menekuk leher hingga bayangan menutup permukaan wajahnya, ia terdiam, tiba-tiba saja aku teringat dengan sebilah belati yang kubawa di bagian sisi ranselku.
Sembari Darmono termenung, aku kerahkan sisa-sisa tenaga untuk mengambil belati  itu. Ya, kini di pelukan jemari sebuah belati siap mengoyak jantung siapapun. Hanya masalah waktu sampai Darmono tersadar dan mulai mendekatiku. Saat itu juga, akan kutancapkan belati ini tepat di jantungnya.
“Tak perlu kau sembunyikan belati itu Garu, kau pikir aku bisa mati dengan pisau dapur seperti itu?” ujarnya dengan nada sinis yang sontak mengagetkanku.
Di luar dugaan, Darmono mengetahui rencanaku. Tak ada lagi harapan, semua luka akibat godamnya tadi menguras banyak tenaga. Tenggorokanku tercekat, susah sekali mengucap sesuatu, bahkan untuk sekedar bergumam, semuanya terasa berat dan begitu menghimpit.
“Perlu kau ketahui Garu, Rinda mati karena cintanya padamu. Dia memilih bunuh diri dari pada menikah dengan saudagar kapal itu. Kalaupun Rinda terpikat harta, sudah pasti ia memilih dinikahi seorang saudagar dari pada menjaga hatinya untuk seorang seperti dirimu.’’ kali ini gelak tawa pecah dari mulutnya. Entah apa yang ditertawakannya. Aku merasa sangat terganggu.
“Hentikan ocehanmu itu Darmono! Tak ada gunanya membicarakan mereka yang telah mati!’’ sambil mencoba berdiri dengan sisa-sisa tenaga.
Ia masih saja tertawa. lebih keras dan lebih keras lagi dari sebelumnya. Kurapatkan kembali genggamanku pada belati yang telah kusiapkan tadi dan kulihat kedua tangannya kosong. Ia tak sedang membawa godam, aku rasa ini adalah kesempatan terbaikku. Tapi, tenagaku sudah terkuras. Tanpa kusadari badanku menggigil, kakiku gemetaran. Aku ketakutan, sangat ketakutan, keringat dingin mengucur deras, terasa sekali nafasku tak beraturan. Berdengus-dengus tersenggal-senggal, gelak tawanya menggema. Kami berhadapan, goresan luka merekah, darah hangat mengucur, aku tak peduli. Sedetik kemudian aku menerkamnya.
Bakk!
Tubuhku terpelanting, dua buah godam bersarang di dada dan perutku, rusukku patah, muntah darah, tampak Parto dan Broto yang mengayunkannya.
“Arrggh..!” darah hangat keluar dari mulutku, aku terpelanting lagi, terkapar di tanah, benar-benar terkapar, tak bisa bergerak, hanya sebelah mataku yang samar-samar memperhatikan bayangan mereka. Mereka terlihat puas, gelak tawa menggema dimana-mana, suara datang, terdengar seperti lolong anjing, desis ular, meong kucing. Mereka menari, berpesta, kemudian berhenti, serempak mendekatiku, pelan namun pasti, langkah mereka terdengar seperti hitungan mundur kematian. 
Aku ingin beranjak, aku tak bisa beranjak. Kusaksikan kematianku mendekat, hanya bayangan saja, hitam dan bersenjata. Tak bisa kubedakan lagi kawanku Darmono, Parto juga Broto. Ketiganya gelap, mereka memiliki bentuk badan dan suara yang sama, tiba-tiba melolong, mendesis, memeong. Jadi anjing, jadi ular, jadi kucing.
Srat!
Tiga buah belati menikamku, mengoyak jantung, mengeluarkan isi perut. Darah hitam menyiram tanah, bau amis menyerbak, tubuhku dipisah, dimutilasi, tak kurasakan lagi sakit. Mereka masih saja memotong tubuhku dan membaginya menjadi bagian-bagian yang banyak. Aku masih bisa menyaksikan keganasan mereka, hingga salah satu belati menikam bola mataku. Suara yang menggangguku, lenyap bersama gelap.
*Orang biasa.

No comments:

Post a Comment