artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Kenapa Supri dan Beberapa Saran yang Perlu Dia Lakukan

Sebetulnya ketiga kandidat sama kuat dan mempunyai keistimewaan sendiri. Baik diterawang dari segi fisik, tingkat otak, maupun cakupan rangkulan, mereka sama halnya tiga pengendali elemen dalam serial Avatar. Tapi mana yang pengendali bumi, air, udara, atau api sila tonton serialnya.

Ahmad Pandu Dewanata memegang kunci isu-isu di Masisir. Furqon Khoiruddin, di setiap ada kasus-kasus lahir, blio tak kalah dengan Fadhilah Rizki (Wakil KSW), opininya bakal tembus entah lewat jalur darat maupun udara. Dan yang bakal saya sebut terakhir ini konon pernah membuat teman seangkatannya cemburu dalam hal menggoyang bola. Bahkan, dengar-dengar, sampai membuat temannya itu frustasi dan akhirnya pindah profesi –walaupun masih berkaitan dengan bola.  Bagaimana tidak, baru dua bulan sepatunya menginjak Mesir sudah ditarik jadi line up, sedang temannya itu –yang cemburu lalu pindah profesi— dua tahun sudah caper sama pelatih sampai pernah tidur bareng, tapi mukanya selalu terlihat di pinggir lapangan. Tak jarang juga berdiri di sampingku jadi tim hore. Hahaha. Yang cemburu lalu pindah profesi disebut Amna dan yang beruntung dipanggil Supri. Dan yang terakhir saya sebut itulah Ketua Misykati Teranyar. 

Bermula dari menggoyang bola dilapangan, disoraki, dikagumi, dijatuhi, dan tak lupa dicemburui, ia kini dihukumi nasib (sial?) jadi khodim Misykati.

Mengenai watak kepemimpinan, saya kira semua kandidat di atas memenuhi syarat. Tak ubahnya saat SBY menang dua kali di laga pemilu, faktor kemenangan Supri tak jauh beda. Ibu-ibu saat itu rela berpeluh ke bilik suara bukan lain sebab ingin lebih intim dengan si ganteng SBY. Kapan lagi bisa satu bilik dengan si ganteng SBY kalau bukan di saat pemilu? Popularitas dan gosip sana-sini lebih ampuh membuat kesan dan pendengar merasa lebih dekat, bukan begitu? Faktor ini yang tak kita dapati pada sosok Pandu pun Furqon. Gonjang-ganjing Supri ehm ehm Saprida berpengaruh besar atas kemenangannya di laga Misykati 2016-2017. Sebetulnya Pandu cie-cie Neli bisa menjadi saingan terberat. Sayang, Teteh Neli lebih memilih mengikuti jejak Pandu, mengembara dan menyembunyikan diri dari keramaian hiruk-pikuk politik Misykati.

Perihal "Kenapa Supri" terjawab sudah.

Layaknya seorang pemimpin baru, pertama kali yang harus Supri perbuat adalah istighfar. Mohon ampun barangkali cobaan ini tersebab ketidakterlaksanaannya Book Talk yang sudah dialihtangankan padanya dua bulan yang lalu. Dan mohon ampun barangkali di masa kepemimpinannya, lagi-lagi Book Talk tak segera digelar. 

Selanjutnya, bersyukur. Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan kesibukan untuk satu tahun ke depan tanpa harus Supri bersusah payah memikirkan apa yang ia mesti perbuat guna mengisi masa-masa nunggaknya. Hahaha.

Yang terakhir ini sebenarnya tak jauh beda dengan kalimat-kalimat yang selalu terlontar dalam forum dari orang-orang yang, apesnya, seringkali disampaikan "terlalu buru-buru". Kita tahu, suasana LPJ, di manapun itu, tak bakal lepas dari orang-orang yang berwatak hanya menyampaikan apa yang ingin dikata, mendengar apa yang ingin didengar, dan melihat apa yang ingin disawang. Namun, setiap kita pasti sadar, menasihati adalah hak prerogatif orang-orang tua dan atau yang dituakan. Heuheu.

Begini, Mas Supri. Sebelum menggiring kawan-kawan lebih jauh alangkah baiknya "tahajudkan" dulu ke arah mana kita menuju. Ini hal yang lumrah ada sebenarnya. Bahkan jauh-jauh hari sebelum pemilihan dihelat. Tapi karena di Misykati menganut sistem pemilihan adu sial, hal itu tak berlaku. Terpilih baru mulai memikirkan cara-cara mendaur ulang kesialan supaya menjadi berkah setelah pembaptisan.

Lah, yang belum tertata dalam tubuh kita adalah sistem. Dalam bidang apa saja. Mungkin kalau konsep sudah sering kita abstraksikan di pelbagai gelaran kopi. Namun tanpa konsep yang tersistem, ia (konsep itu) hanya akan menguap dan lenyap terbawa angin. Kalaupun berjalan bakal centang-perenang.

Sistem dan konsep yang tertata, kuat, lagi lentur adalah harga mutlak bagi... (Silakan Mas Supri lanjutkan sendiri. Kalau bingung, coba tanyakan Bung Furqon.)

Sudah berapa kali kita mengadakan kajian rutinan tapi pengikutnya sekaligus pemakalah masih saja gagap membedakan "di" sebagai preposisi dan imbuhan? Kenapa begitu? Sebab kajian kita, tak usah muluk-muluk, belum bisa menumbuhkan minat baca-tulis dan sikap kritis. Hanya acara seremonial belaka.

Di atas hanya satu contoh kasus, Mas Supri. Kalau ternyata hal ini sudah dibincangkan waktu pagelaran LPJ, saya mohon maaf telah menghabiskan waktu Anda dan kawan-kawan mengulang pembahasan. Karena saat membaca berita acara reformasi Misykati, saya tak menemukan laporan yang demikian di sana. Yang tertulis hanya rentetan peristiwa tanpa "nyawa". Begitu hambar. Seperti ngrokok tanpa kopi.

Begitulah. Selamat mengabdi Mas Supri. Semoga Tuhan Yang Maha Esa tidak menaikkan harga rokok di Kairo.

Moh Faqih Dlofir
Terlahir ngapak dan biasa dipanggil Faqih, Dlofir atau Cah Gagah. Selama tidak ada urusan kegiatannya berupa makan, minum, tidur, bolak-balik kamar mandi dan nge-net. Kalau main PES selalu menang, mungkin karena jarang piknik.

No comments:

Post a Comment