artikel

[Artikel][threecolumns]

ruparupa

[RupaRupa][grids]

lontar

[Lontar][twocolumns]

Ibrahim Dasuki; Masjid dan Biografi



Menurut Syaikh Jaber al-Taya, kepala sektor agama Kementrian Wakaf Mesir, jumlah masjid di Mesir pada tahun 2016 mencapai 108 ribu. Di antaranya terdapat beberapa masjid megah yang patut dikunjungi. Selain karena daya tarik keindahan arsitekturnya, masjid-masjid ini juga mempunyai cerita menarik yang melatarbelakangi pembangunannya. Beberapa di antaranya ialah seperti: masjid al-Azhar, masjid Sidna Husein, masjid Sayyidah Zainab, masjid al-Fatah di Ramses, dan an-Nur di Abasia—kelimanya berada di Kairo. Ada juga  masjid Ahmad Badawi di Thanta dan Sidi Ibrahim Dasuki di Dasuk. Pada kesempatan ini, masjid Ibrahim Dasuki inilah yang akan kami ceritakan.
***

Masjid Sidi Ibrahim Dasuki atau masjid Ibrahimi di Kota Dasuk merupakan salah satu situs penting di dunia Islam yang dibangun oleh Sidi Ibrahim Dasuki. Ribuan pengunjung yang ziarah ke makam beliau tidak hanya dari warga Mesir, tapi juga berasal dari banyak negara di jazirah Arab, bahkan Eropa.Tinggi bangunan masjid ini 95.62 Meter dan memiliki luas 7000m², itu pun belum termasuk luas tempat yang biasa digunakan untuk mengajar. Jika digabungkan dengan tempat-tempat itu, luasnya mencapai kurang lebih 16.000m². Oleh karena itu, masjid tersebut mampu menampung sekitar 25.000 jamaah.

Masjid Sidi Ibrahim memiliki struktur yang tersusun dari dua bangunan besar yang menyerupai sayap. Satu bagian untuk laki-laki dan bagian lain untuk perempuan yang terdiri dari dua lantai. Kedua bagian bangunan ini dipisahkan oleh makam Ibrahim Dasuki. Memiliki 4 menara dan satu kubah besar di tengahnya dan terdapat 11 pintu, beberapa darinya digunakan khusus wanita.

Terletak di pusat kota Dasuk yang termasuk bagian dari Kafr el-Sheikh. Konon, pada zaman dahulu Kafr el-Sheikh bernama Damienqun, kemudian diganti menjadi Kafr el-Sheikh yang dinisbatkan kepada Syaikh Talha Syadzili, seorang alim yang menetap di sana. Menurut Mohamad Ramzi, banyak dari nama-nama desa di Mesir diubah namanya pada kekhalifahan Turki Usmani. Biasanya nama kuno desa tersebut diganti dengan nama baru yang dinisbatkan kepada seorang alim yang tinggal atau dikuburkan di daerah tersebut. Hal ini dilakukan agar masyarakat bisa terus mengingat mereka dengan tabaruk, ziarah, merayakan maulid dan haul. Selain mendapatkan berkah, hal tersebut juga bisa membantu perekonomian warga sekitar makam yang sebagian besar adalah pedagang.

Kota Dasuk—sebagaimana disebutkan dalam kitab Qawanin Ibnu Mamati—adalah kota besar yang dinisbatkan kepada Sayyid Ibrahim Dasuki. Dalam Manuskrip Taufiqiyah diterangkan bahwa pada abad ke 3 H terdapat 3 istana di Dasuk. Masing-masing milik Sayyid Abd Ali, Imam Qashabi—guru di masjid Sayyid Ahmad Badawi—dan Sayyid Basuni Far. Semua bangunan istana ini difungsikan untuk menyambut para tamu yang datang ke Dasuk sewaktu peringatan maulid Sayyid Ibrahim Dasuki. Selain untuk para tamu, bangunan ini juga berfungsi sebagai tempat pembagian makanan bagi fakir miskin yang mengikuti perayaan.
Majid tampak dari atas (sumber: al-ain.com)

Nama lengkap beliau adalah Ibrahim Dasuki bin Abdul Aziz Abu al-Majd yang nasabnya sampai pada Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib. Ibu Syaikh Ibrahim Dasuki adalah Fatimah binti Abdullah bin Abd Jabar, saudari dari tokoh sufi terkenal Abu Hasan Syadzili.  Syaikh Ibrahim Dasuki juga masih satu nasab dengan Wali Qutb kota Thanta, Ahmad al-Badawi pada kakek ke sepuluh, Ja’far al-Turki bin Ali al-Hadi. Ibrahim Dasuki dilahirkan di Dasuk tahun 623 H pada malam terakhir Sya’ban.

Malam terakhir di bulan Sya’ban, biasa disebut dengan malam keraguan lantaran bulan sering tidak terlihat. Hal ini membuat warga ragu-ragu perihal awal bulan Ramadan. Namun, tahun itu Sang Hakim, yang kebetulan adalah seorang ilmuan, menyuruh beberapa orang untuk melihat keadaan Ibrahim yang baru lahir. Sang hakim mengatakan kepada mereka bahwa jika dia menolak diberi makan, maka itu adalah Ramadhan dan mereka harus berpuasa. Ketika mereka melihat Ibrahim dan ibunya, sang ibu mengatakan kepada mereka bahwa dia menolak untuk disusui mulai subuh sehingga mereka tahu bahwa hari itu awal bulan Ramadan. Itu adalah tindakan ajaib pertama yang Allah buktikan untuknya.

Ibrahim Dasuki tumbuh di lingkungan jamaah ahli wara’  dan takwa sehingga menjadi pribadi yang mencintai ibadah dan agama. Ibrahim Dasuki mengikuti jejak pamannya, Imam Abu Hasan Syadziliy yang juga pendiri Tarekat Syadziliyah. Beliau mulai menekuni dunia tasawuf, ilmu bahasa, menghafal al-Quran, hadis, dan usul fikih mazhab Syafi’i sejak kecil.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa beliau mulai berkhalwat sejak usia lima tahun. Ketika menginjak remaja beliau semakin asyik berkhalwat hingga lambat laun orang-orang berdatangan untuk belajar tarekat kepadanya. Salah satu murid beliau yang terkenal adalah Sayyid Abu Nasr yang makamnya juga berada di Dasuk.

Kebiasaan berkhalwat tersebut terus dilakukan sampai ayahnya meninggal dunia tahun 646 H, saat itu beliau masih berumur 23 tahun. Murid-muridnya sangat berharap beliau meninggalkan tempat khalwatnya, sehingga bisa konsentrasi dalam pengabdiannya menyumbangkan ilmu kepada masyarakat.

Akhirnya, dibuatkanlah tempat mengajar oleh murid-muridnya di samping tempat khalwat beliau. Dari sanalah bibit-bibit Tarekat lahir, kemudian terkenal dengan nama Thariqah Burhamiyah, diambil dari Syaikh Ibrahim Dasuki. Ada pula yang menyebut dengan Thariqah Dasukiyah. Yang menjadi ciri fisik dari Tarekat Burhamiyah ialah Syaikh Ibrahim Dasuki dan pengikutnya memakai sorban hijau, sedangkan Syaikh Ahmad Badawi dan para pengikutnya memakai sorban merah, dan para pengikut Tarekat Rifaiyah memakai sorban hitam.

Kabar keilmuan Ibrahim Dasuki dan pengikutnya yang banyak terdengar sampai ke telinga Sultan Dzahir hingga ia memutuskan untuk mengangkat beliau menjadi Syaikh Islam serta mendirikan tempat yang bisa digunakan untuk mengajar agama.

Syaikh Ibrahim Dasuki menerima jabatan itu, tetapi tidak menggunakan gajinya untuk kepentingan pibadi. Justru beliau membagikannya kepada para fakir miskin. Jabatan sebagai Syaikh Islam tetap bertahan sampai Sultan Dzahir wafat. Setelah itu beliau mengundurkan diri dan mencurahkan waktunya untuk para pengikutnya.

Syaikh Dasuki seorang yang pemberani, tidak dekat dengan penguasa dan tidak takut akan celaan maupun hinaan ketika beliau berdakwah di jalan-Nya.  Pernah Syaikh Jalaluddin Karki bercerita, “suatu ketika Syaikh Dasuki mengirimkan surat berisi kritikan pedas kepada Sultan Asyraf Khalil bin Qalawun karena perbuatan lalimnya terhadap rakyat. Membaca surat tersebut, Sultan murka lalu memanggilnya. Dengan tegas Syaikh Dasuki menolak, “Aku akan tetap di sini, barangsiapa yang ingin bertemu denganku, maka dialah yang harus ke sini.” Sultan tidak bisa berbuat apa-apa karena ia juga tahu posisi Syaikh Dasuki di masyarakat, maka Sultan pun memenuhi panggilan itu dan meminta maaf. Syaikh Dasuki menyambutnya dengan baik  dan memberikan kabar gembira untuk masa yang akan datang, kabar kemenangan melawan tentara salib. Dan kabar itu terbukti.

Dalam hidupnya, Syaikh Ibrahim Dasuki mencurahkan seluruh waktunya untuk tasawuf, beribadah, dan meditasi sampai tidak menikah. Selain menguasai bahasa Arab, beliau juga menguasai bahasa asing seperti Suryani dan Ibrani dan telah menulis buku dengan bahasa tersebut. Karangan beliau dalam bahasa Arab meliputi bidang fikih, tauhid, dan tafsir. Kitab beliau yang paling masyhur adalah  “al-Jawahir” dan “al-Haqaiq”. Beliau juga mengarang kasidah-kasidah dan kalam hikmah. Salah satu teks asli tulisan beliau ada yang masih disimpan oleh Dar Kutub al-Masriyah dan ada juga yang berada di universitas Leiden, Belanda.

Beliau wafat di usia 43 tahun, kurang lebih pada tahun 676 H di kota Dasuk dan dimakamkan di zawiyyah/musalanya. Persisnya di kamar tempat beliau biasa beribadah. Di samping beliau terdapat juga makam saudara sekaligus penggantinya, Sayyid Musa. Di antara makam keduanya terdapat makam ibu mereka, Sayyidah Fatimah.
Makam Sidi Ibrahim Dasuki (sumber: youtube.com)

Setelah beliau wafat, makam tersebut diperindah dengan kubah dan diubah menjadi masjid besar untuk beribadah, menuntut ilmu, dan tempat istirahat untuk para pekerja. Perubahan ini terjadi pada tahun 1277 M ketika salah satu murid beliau merasa bahwa bangunan masjid dan makamnya mulai terlihat tidak pantas karena cat dinding yang mulai banyak terkelupas.

Atas perintah Khedive Tawfiq juga masjid diperluas hingga 3000m². Pada periode pemerintahan Presiden Jamal Abd an-Nasr tahun 1969 M, perluasan masjid dilakukan lagi hingga menjadi 6400m². Dalam rangka memperingati revolusi Juli, tahun 1976 presiden Anwar Sadat dan Syaikh Abdul Halim Mahmud—Grand Syaikh pada waktu itu—memimpin pembukaan untuk perluasan masjid kembali dengan dana sekitar 750.000 pound Mesir. Dari perbaikan dan pembaruan pada bangunan masjid itulah masjid menjadi seperti sekarang: besar, luas, 4 menara megah, satu kubah besar, dan 11 pintu. Di halaman masjid juga dibuat sebuah taman yang dinamakan Hadayek Maidan Ibrahim.

Menurut Syaikh Abdul Wahhab as-Sya’rani[1], Syaikh Ibrahim memiliki banyak karamah. “Tuanku, Sayyidi Ibrahim Dasuki memiliki karamah yang banyak, hal-hal yang luar biasa, mengetahui rahasia-rahasia malakut, sejak lahir sudah berpuasa, menguasai bahasa Ajami, Suyani, Ibrani, Zinji, seluruh bahasa burung, binatang dan makhluk buas lainnya.”

Diceritakan juga tentang salah satu karamah beliau yang masyhur, menurut Imam al-Munawi dalam kitab al-Kawakib ad-Durriyyah: ada seorang ibu dengan menangis mendatangi Syaikh Ibrahim Dasuki. Ibu itu melaporkan bahwa seekor buaya telah menelan anaknya di sungai nil. Mendengar laporan itu, Syaikh Ibrahim lalu menyuruh muridnya agar mencari buaya itu. Muridnya pun bergegas ke tepi sungai Nil dan sesampainya di sana ia berseru, “wahai para buaya, siapa di antara kalian yang memakan seorang anak maka segeralah kemari dan ikut saya menghadap Syaikh!” lalu buaya yang memakan anak itu muncul dan pergi bersama muridnya menghadap Syaikh Ibrahim Dasuki. Kemudian Syaikh menyuruh buaya itu untuk mengeluarkan anak yang telah dimakannya dan (dengan izin Allah) buaya itu mengeluarkan anak tersebut dalam keadaan hidup. Syaikh lalu berkata, “matilah kamu dengan izin-Nya!”, maka buaya itupun mati. Kerangka buaya itu sampai kini masih disimpan oleh pengikutnya di samping makam beliau.


[1] nama lengkap beliau adalah Abdul Wahab bin Ahmad bin Ali bin Musa Asy-Syarani al-Anshari asy-SyafiI as-Syadzili al-Misri, terkenal dengan panggilan Imam as Syarani, salah satu sufi terkenal yang diakui sebagai wali kutb pada zamannya dan memperoleh gelar Imam al-Muhaqqiqin wa Zudwat al-Arifin (pemuka ahli kebenaran dan teladan orang-orang makrifat) lahir di desa Qalqasandah, Mesir pada 27 Ramadhan 989 H.

Pandu Dewanata
Penikmat puisi, cerpen dan novel. Selain menikmati hal-hal yang berbau sastra dia juga suka menulis puisi, terutama yang bertemakan cinta. Seperti yang terefleksikan dari foto, dia adalah seorang perokok, sama seperti Cah Gagah. Dan juga, dia terlahir ngapak.

No comments:

Post a Comment